Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab65


__ADS_3

Sebelum pulang, Eric dengan sopan meminta izin dulu pada orang tua Dika, khususnya untuk menerbitkan artikel tentang pembersihan nama baik perusahaan Pratama Foodies. Ia mengatakan memang akibat kejadian ini berdampak buruk pada perusahaannya.


Lantaran Eric berkata jujur serta memiliki niatan baik, orang tua Dika pun mengerti dan memakluminya. Bahkan, Ibu Sofi memberikan sambutan baik, ternyata dia bahkan sangat menyetujui jika artikel itu diterbitkan untuk membersihkan nama baik Pratama Fodies khususnya dibawah naungan Varrel Grup.


Sehingga Eric merasa terbantu dan kembali menaikkan harga nilai saham yang ada di Varrel Group.


"Bu, saya minta maaf sebelumnya, saya juga ucapkan terima kasih karena Ibu sudah meluangkan waktu untuk menerima kami di sini," tutur Eric dengan santun.


"Sama-sama, Pak Eric saya juga berterima kasih atas kompensasi ini, mudah-mudahan nilainya sangat bermanfaat untuk pendidikan Dika ke depannya," sahut Ibu Sofi.


"Kami pamit dulu, kapan-kapan berkunjunglah ke Pratama Foodies. Nanti Pak direktur akan mengabari saya jika Ibu berkunjung bersama Dika ke sana untuk melihat proses produksi di perusahaan kami," tambah Eric dengan serius.


"Baik, Pak nanti kapan-kapan kami akan berkunjung ke sana, agar Dika tahu bagaimana proses pembuatan jajanan yang selama ini ia makan," tutur Ibu Sofi.


Eric pun akhirnya berlalu pergi setelah ia memastikan Ibu sofi dan Dika tampak baik-baik saja. Bahkan Dika dengan semangat melambaikan tangan pada rombongan yang dibawa oleh Eric. Semua direktur pun berangsur lega, mereka bahkan sempat tertergun dan tidak menyangka bahwa tindakan Eric yang sangat bijaksana, serta patut diapresiasi.


Baru kali ini ada seorang pemimpin yang mau turun tangan langsung untuk mengatasi persoalan yang kerap dianggap sepele. Dulunya, Varrel Pratama sangat enggan jika turun tangan langsung untuk menghadapi para konsumen apabila terjadi kelalaian yang dilakukan oleh perusahaannya.


Selain itu, Varrel hanya bisa mengutus beberapa direktur untuk menyelesaikan persoalan sepertinitu. Sedangkan ia tidak turut campur tangan dan berperan. Hanya saja, kejadian tersebut di masa Varrel Pratama sangatlah minim terjadi, sehingga tidak pernah terjadi adanya penurunan nilai saham yang ada terjadi di perusahaan.


***

__ADS_1


Kali ini, Leticia dan Fani mampir di sebuah butik yang sangat besar, butik itu adalah butik khusus kalangan VIP yang menjadi pelanggan. Memang produknya semuanya branded dan sangat mahal.


Awalnya, Leticia sangat ragu untuk memasuki butik itu. Namun Fani mendesak agar berangsur masuk ke dalam, akhirnya Leticia memutuskan untuk menyetujuinya, berjalan beriringan dengan sang adik dengan langkah kaki yang lebar, mereka berdua yakin untuk memasuki butik yang sangat luas itu.


Di dalam butik, Fani dan Leticia tampak kebingungan, bahkan ada seorang pelayan yang sengaja menghampiri mereka untuk memberikan pelayanan dan menunjukkan beberapa produk yang menjadi andalan butik pada bulan ini.


"Siang, Bu ada yang bisa saya bantu?" tutur seorang pelayan, pria itu mengenakan pakaian yang sangat formal berupa jas bahkan tangannya pun menggunakan sarung tangan, mungkin itu memang sudah sesuai prosedur untuk penjualan barang-barang branded yang ada di butik mereka.


"Selamat siang, Mas jujur saja saya belum pernah ke tempat-tempat seperti ini. Saya ingin melihat-lihat dulu," sosor Leticia.


Untungnya, pelayanan itu mempersilahkan Leticia hanya sekedar melihat-lihat, bahkan sang pelayan tanpa memandang bulu untuk memberikan pelayanan meskipun tampilan Leticia tampak sederhana. Ia bahkan mendampingi Leticia dan Fani saat mengelilingi butik.


Leticia kemudian menanyakan pada pelayan tentang tas yang menarik perhatiannya, meminta pelayan itu untuk menunjukkan langsung di depan wajah Leticia.


Lain hal dengan Fani, ia tampak melirik beberapa pakaian yang terpajang. Fani sangat terkejut karena pakaian itu minimal seharga 2 digit untuk yang paling murahnya, bahkan Fani merasa gugup untuk menyentuh produk itu, tetapi seorang pelayan malah menunjukkan dan menyerahkan ke tangannya langsung.


Leticia yang melihat Fani tengah dilayani, dia juga mengizinkan jika adiknya itu mencoba baju branded yang sudah diserahkan oleh seorang pelayan, tanpa ragu Leticia memerintahkan Fani untuk mencoba salah satu jaket yang dipilihnya.


Jaket itu sekilas tampak sederhana tetapi terlihat sangat mewah dan elegan, pantas saja Fani menyukainya meski hanya sedalam sekali lirik. Oleh karena itu, Fani akhirnya tanpa ragu-ragu mencoba jaket branded itu.


Sebab, Leticia sudah meyakinkannya walaupun pada akhirnya dia belum bisa memastikan bahwa kakaknya itu bisa membelikan barang tersebut untuknya.

__ADS_1


Setelah mencoba di kamar ganti, ia menunjukkan kepada Leticia. Sang kakak pun mengangguk dengan mantap karena tampilan adiknya sangat berbeda jika ia mengenakan barang branded yang mahal. Leticia hanya membalas dengan senyuman serta mengangguk, dia menyetujui untuk membeli jaket tersebut.


Lalu, Leticia sibuk untuk menelisik tas yang dijajarkan oleh seorang pelayan, tas yang tunjuk oleh Leticia tampak sangat cantik. Ia menginginkan suatu tas yang sangat indah dan cantik berwarna merah muda dengan tali berantai dan berbahan kulit.


Sebelum ia memastikan untuk membeli barang tersebut, Leticia lantas menghubungi suaminya untuk meminta izin. Sebab uang itu adalah uang dari Eric, sedangkan dia hanyalah seorang istri kontrak meskipun ATM dan kartu kreditnya berada di tangan Leticia tapi ia tidak ingin sembarangan menggunakan milik orang lain apalagi untuk kepentingan hal seperti ini, yaitu hidup dengan berfoya-foya.


"Maaf, Pak saya izin untuk menghubungi suami dulu agar memberitahukan dan minta izinnya untuk membeli tas ini," tutur Leticia, sembari menatap lekat seorang pelayan tersebut.


"Baik, Nyonya silakan!" Pelayanan itu hanya melayangkan sebuah senyuman yang lebar, ia sangat menghormati siapapun customer yang datang ke butik mereka, walaupun dengan penampilan yang sederhana. Bahkan mereka sangat bersifat sopan santun dan ramah.


***


Drt ... drt...


Di dalam mobil, suara ponsel Eric bergetar, ia sengaja menggunakan mode getar karena tidak ingin membuat suasana berisik saat berada di jam kerja.


Setelah mengambil ponsel yang ada di saku, ia menatap layar ponsel dan tertera nama Leticia di sana. Alhasil dia pun mengangkat panggilan telepon itu, meski awalnya dia merasa bingung karena tidak pernah satu kali pun Leticia yang menghubunginya lebih dahulu.


"Halo ada apa, Sayang?" kata Eric setelah menjawab sambungan telepon, meski dia merasa canggung tetapi ia sengaja mengucapkan kata-kata tersebut karena banyak anak buahnya yang memperhatikan, termasuk salah satunya adalah seorang sekretarisnya.


Oleh sebab itu, Eric merasa aneh jika ia menyebut nama Leticia. Padahal mereka hubungannya adalah seorang suami istri.

__ADS_1


__ADS_2