Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
Bab41


__ADS_3

Beberapa jam berlalu ...


Fano akhirnya pulang ke rumah, sebelum memasuki rumah, ia merapikan baju serta memastikan wajahnya terlihat tampak baik-baik saja. Namun entah mengapa rasa memar itu tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Bahkan ia sudah berusaha menutupnya dengan bedak, sayang usahanya tetap sia-sia.


Sementara, Leticia yang tampak khawatir dengan adiknya, menunggu di ruang tamu. Apalagi ia tahu dengan jadwal kepulangan Fano, oleh karena itu Leticia sudah menunggu tepat di ruang tamu sampai adik kecilnya itu masuk ke dalam rumah.


Leticia bersiap-siap untuk bertanya-tanya pada adiknya tapi dia masih menyiapkan siasat pertanyaan apa yang hendak dilayangkan pada Fano. Ja juga tidak ingin membuat Fano merasa tidak nyaman bahkan terus-terusan hingga menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


Ceklek ...


Suara tarikan handle pintu menyita perhatian Leticia, ia langsung menoleh ke arah daun pintu. Di sana muncul wajah Fano yang tertunduk dengan malu, ia sengaja menunduk agar kakaknya tidak bisa melihat rupa wajahnya yang sudah babak belur.


Fano berjalan cepat, pura-pura tak melihat keberadaan Leticia yang sedang menunggunya dan menatapnya dengan tatapan tajam. Pria remaja itu cuek saja jalan dan tiba-tiba Leticia menegurnya.


"No, sini duduk dulu sama, Mbak!" Leticia menganggukkan tangan, menyuruh Fano agar mendekatkan dirinya padanya.


Sontak saja, Fano pun terkejut, ia langsung menoleh dan menatap wajah Leticia saat itu juga. Hal itupun membuat wajahnya yang babak belur sudah ditangkap oleh Leticia. Seketika Leticia mulai berang dan tampak meredam amarahnya yang kian ingin memuncak.


Fano terdiam kaku, bahkan dia belum berani melangkahkan kaki tetapi Leticia dengan lembut berkata padanya. "Sini duduklah bersama, Mbak."


Fano pun akhirnya luluh, lalu mengangguk dengan keyakinan penuh segera menghampiri sang kakak. Sebab, ia terenyuh mendengar suara nada bicara Leticia yang tampak lembut. Sehingga tidak ada rasa ketakutan lagi yang menyelimuti di dada Fano.


Adik kecilnya itu duduk tepat di samping Leticia. Dengan tatapan nanar, Leticia mengusap wajah Fano yang tampak lesu, ia memastikan bahwa pipi adiknya memar serta ada bekas luka kecil di sudut bibir.

__ADS_1


huft ...


Leticia menghela nafasnya yang terasa berat. Ia mulai berbicara sesuatu. "Mbak, nggak akan memaksa kamu untuk cerita tapi jangan terlalu menyulitkan diri sendiri untuk terus menutup-nutupinya, itu hanya membuat kamu menyakiti dirimu sendiri."


Fano yang tadinya tertunduk langsung mengangkat kepala, menatap lekat wajah kakak tertuanya, ia tiba-tiba memiliki raut wajahnya berubah menjadi sedih. Tak lama, tangisnya semakin luruh, lalu ia memeluk tunuh kakaknya dengan erat.


"Mbak, maafin Fano, sebenarnya aku nggak berusaha menutupi semua ini. Tapi aku diancam oleh anak yang melakukan pembullyan ini," ungkap Fano, dengan tangis yang mulai pecah, ia semakin terisak-isak dan merasa kesedihan yang sangat mendalam.


Fano akhirnya beranjak, kemudian berdiri untuk membuka seragam yang ia kenakan dengan cepat, lalu menunjukkan perutnya yang tampak memar pada Leticia karena terdapat bekas hantaman pukulan berkali-kali.


Melihat yang terjadi pada adiknya, sontak saja membuat Leticia tampak syok, hatinya hancur berkeping-keping ikut merasa kesakitan seperti yang dirasakan oleh Fano.


"Kenapa kamu nggak cerita sama, Mbak. Biar Mbak yang membuat anak itu jera!" ketus Leticia, dengan tatapan yang penuh rasa kecewa.


Pembicaraan Leticia dan Fano rupanya terdengar sampai ke gendang telinga Fani. Wanita itu ternyata sudah penasaran dan memang ia sengaja menguping pembicaraan. Setelah mendengar percakapan itu, akhirnya Fani merasa kesal dengan ungkapan yang disampaikan oleh saudara kembarnya.


Ia pun langsung berjalan tertatih-tatih dengan langkah yang begitu lebar, menyambangi Leticia dan Fano yang berada di ruang tamu.


"Fano, kenapa kamu nggak cerita sama aku, biar aku yang labrak dia!" sambar Fani, dengan tangan yang bertolak pinggang.


Fano dan Leticia menoleh dengan kompak. "Maaf, aku memang sengaja nggak mengungkapkan dengan siapapun karena Marks mengancamku dan meminta untuk menyembunyikannya."


"Kamu bodoh sekali, Fano! Kamu tidak boleh takut sama orang seperti itu, dialah seorang pembully dan harus diberi pelajaran. Jangan mau kamu menjadi seorang pecundang," ucap Fani dengan amarah yang semakin menggebu-gebu.

__ADS_1


Leticia yang melihat perdebatan itu yang tak kunjung selesai, akhirnya melerai perdebatan itu, kemudian menenangkan kedua adiknya agar mereka bisa berpikiran lebih jernih lagi.


"Sudahlah, besok, Mbak akan ke sekolah sekarang Mbak akan melakukan visum dulu di pada wajah dan perut Fano yang memar-memar ini!" celetuk Leticia.


Tak berselang lama, perempuan itu pun berlari ke kamar, mempersiapkan diri untuk berangkat bersama adiknya. Dengan cepat, ia kembali lagi ke bawah dan membawa Fano untuk mengunjungi rumah sakit terdekat.


"Fani kamu diam di rumah saja, jangan lakukan apapun, lebih baik kamu belajar saja atau istirahat," titah Leticia sembari menatap adiknya dengan tatapan tajam.


Fani hanya mengangguk. Setelah itu, Leticia meraih tangan Fano yang terdiam kaku duduk di ruang tamu, ia menarik lengan itu dan mengajaknya untuk pergi bersama.


"Kamu ikut sama, Mbak kita akan ke rumah sakit sekarang, satu-satunya cara untuk mengungkapkan tentang kejanggalan pembullyan ini adalah dengan melakukan visum biar anak itu jera dan diberikan hukuman yang setimpal," ujar Leticia semakin dengan nada yang sedikit ketus karena merasa kesal.


Fano hanya mengangguk, ia menuruti keinginan kakaknya, mengikuti Leticia yang berjalan terburu-buru. Lalu, keduanya pun masuk ke dalam mobil, Leticia sudah memerintahkan seorang sopir untuk mengantarkan mereka.


"Ayo ke rumah sakit sekarang, Pak!"


"Baik, Nyonya." Sopir itu mulai menyalakan mesin mobil, lalu melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang, hanya butuh waktu 15 menit, mereka sudah berada di rumah sakit.


Leticia dan Fano bergegas keluar, kemudian Leticia mendaftarkan diri untuk melakukan pengecekan visum pada tubuh adik kecilnya.


"Fano dengerin kata, Mbak kamu jangan pernah takut dengan orang yang seperti itu. Mbak bisa saja langsung mengeluarkan orang itu dari sekolah kamu. Jadi kamu jangan merasa berkecil hati kalau mereka menganggap kamu orang yang miskin, sekarang status kita bukanlah seperti yang mereka sangka!" tegas Leticia memberikan nasehat pada adiknya seraya menggenggam kedua tangan Fano.


"Ya, Mbak! Marks yang melakukan pembullyan padaku karena ia merasa kesal pada Fani lantaran selalu mengusiknya saat membully anak-anak lain, jadi dia mengeluarkan kekesalannya padaku, Mbak," rintih Fano sembari terisak-isak.

__ADS_1


"Walaupun seperti itu, seharusnya kamu berani melawan, jangan diam saja kalau diperlakukan buruk sama Marks! Harusnya kamu benar-benar melawannya sama seperti Fani," sahut Leticia lagi.


__ADS_2