
"Tenang aja, Marks gue nggak akan berani mengadukan ini kepada siapapun, gue selalu akan menyembunyikannya!" Fano menatap penuh dengan rasa kecewa.
Namun jauh di lubuk hati Fano yang paling terdalam, ia yakin bahwa suatu saat nanti, ksbenaran akan terungkap, tak lama setelah Marks kembali lagi ke kursi duduknya, guru yang lain pun datang memasuki kelas karena pelajaran akan segera berlanjut.
****
Leticia tampak duduk di ruang keluarga, sebuah foto yang terpajang di dinding yaitu foto keluarga kecil mereka, terlihat Fano, Fani dan dirinya dengan lengkap, tiba-tiba terjatuh.
Saat foto itu terjatuh, membuat Leticia sangat terkejut bukan kepalang. "Ada pertanda apa ini?" ujar Leticia, sembari menghampiri foto itu.
Ia mengambil foto tang terjatuh, untung saja kacanya tidak tidak pecah. Leticia kembali menempelkan foto kecil itu di dinding ruang keluarga.
Leticia memang sengaja memajang foto keluarga kecilnya sebagai pertanda bahwa ia memiliki keluarga, foto itupun berhasil dipajang berkat izin dari Eric agar diperbolehkan untuk memasang foto keluarga kecil mereka karena tentunya akan mendukung bahwa keluarga mereka sudah bersatu bukan sekedar pernikahan kontrak semata.
Setelah ia memajang foto itu, jantung Leticia berdegup kencang, ia khawatir ada sesuatu yang terjadi pada adiknya, apalagi terjatuhnya sebuah foto itu sebagai salah satu pertanda yang membuatnya merasa khawatir dan curiga.
Disisi lain, Leticia membuka ponsel, ia menghubungi wali kelas Fani dan Fano saat itu juga. Lantaran, kemarin saat bertemu dengan wali kelasnya, Leticia memang sengaja meminta nomor ponsel wali kelas adik kembarjya agar ia bisa tetap berkomunikasi karena persoalan itu belum ia bisa terima sepenuhnya.
"Halo, Bu apa ada terjadi sesuatu pada Fano, kembarannya Fani? Sepertinya ada pertanda yang tidak mengenakkan," ucap Leticia to the point karena ia ingin langsung mengetahui kabar tersebut dari wali kelas adiknya.
__ADS_1
"Halo ... Oh, ini Ibu Leticia? Kakaknya Fani dan Fano. Kebetulan sekali, memang sepertinya ada terjadi sesuatu pada Fano. Karena tadi saat saya mengajar, dia mengaku telah jatuh di halaman sekolah tetapi sepertinya luka itu bukan luka akibat terjatuh," sela wali kelas.
Wali kelas itu dengan jujur membeberkan apa yang terjadi pada Fano, bahkan tidak ada yang sengaja ditutup-tutupi. Wali kelas Fano dan Fani memang sejak awal tidak menyukai Marks, yang memang sepertinya seorang anak itu terlihat sangat manipulatif apalagi Marks bisa menghasut seluruh anak-anak di kelas.
Namun, karena belum ada bukti pasti dari para guru tentang kenakalan dari muridnya itu, akhirnya saat kasus Fani dan Marks, mereka bersepakat hanya memberi sanksi pada Fani pun karena adanya pengakuan diperkuat dari anak-anak lain.
Wali kelas itupun terperdaya atas pengakuan saksi lain, sehingga mereka memberikan keputusan akhir untuk memberikan sanksi pada Fani bukan pada Marks.
"Bu, saya merasa tidak yakin kalau Fano benar-benar terjatuh. Sepertinya dia memang sengaja menutup-nutupinya karena kemarin saya sempat menegurnya. Saat itu dia mengaku sedang belajar tapi nyatanya seperti tidak sedang belajar dan terlihat kalau adik saya itu sedang banyak pikiran," ungkap Leticia memberikan pendapatnya.
"Baiklah nanti saya akan cari tahu lagi, Bu. Dan saya sudah memberikan ancaman pada murid-murid lain jika mereka memang ketahuan berani berbuat hal yang tidak pantas pada teman sekelasnya yang lain, saya sudah memberikan ancaman kalau mereka akan dikeluarkan dari sekolah," tegas Wali Kelas.
"Kami meminta maaf atas kejadian Fani tapi karena semua pihak sangat mendukung pengakuan Marks jadi kami hanya bisa memberikan hukuman pada Fani bukan pada Marks tapi saya yakin kalau untuk yang kasus Fano yang sekarang ini, saya akan menyelidikinya lebih dalam," papar wali kelas.
"Makasih atas kerjasamanya, Bu kalau begitu saya akan saya akan menghubungi Ibu kembali jika adik saya sudah mengakui kalau dia terlibat masalah di sekolah," tambah Leticia.
"Baik, Bu. Terima kasih juga karena sudah menghubungi saya." Sambungan telepon itu pun terputus, setelah Leticia dan wali kelas sudah menyelesaikan pembicaraannya.
Namun rasa khawatir Leticia belum juga meredam. Ia merasa bingung pasti ada sesuatu yang terjadi pada adiknya, Leticia pun akhirnya menghampiri saudara kembar Fano, ia ingin menanyakan pada Fani apakah ia mencurigai sesuatu tentang Fano.
__ADS_1
Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu memecahkan keheningan di dalam ruangan Fani. Gadis kecil itu membukakan pintu untuk kakaknya karena sejak tadi Fani memang sangat fokus belajar, lantaran dia tidak mau mengecewakan sang kakak karena sudah rela dan berbaik hati membiarkannya diskors tanpa memarahinya.
"Ada apa, Mbak?" tanya Fani, saat berdiri di ambang batas pintu, ia menatap lekat ke wajah kakaknya yang tampak khawatir dan memiliki rasa cemas.
Leticia langsung masuk ke dalam kamar Fani, bahkania juga meminta Fani untuk duduk di kursi belajarnya, lalu menutup pintu kamar agar tidak ada satu orang pun yang mendengar percakapan mereka terutama para maid meskipun ia tahu para maidnya itu tidak pernah kepo ataupun penasaran dengan apapun yang ada di rumah mereka.
"Fan, Mbak kayaknya merasa khawatir sama Fano. Kayaknya ada sesuatu yang terjadi deh sama si Fano, tadi Mbak menghubungi wali kelas kalian, katanya Fano babak belur wajahnya, terluhat memar dan bibirnya berdarah," beber Leticia membuat Fani seketika terkejut.
"Serius, Mbak apa mungkin Marks yang berani berbuat seperti itu kepada Fani? Karena dia ingin balas dendam pada Fani?" seru Fani seraya berpikir mengingat-ingat kembali apa yang pernah terjadi pada saudara kembarnya.
"Entahlah, kalau kata wali kelas kamu, Fano saat ditanyai malah mengaku kalau dia terjatuh di halaman sekolah tapi wali kelas itu tidak merasa yakin karena bekas luka itu bukan seperti habis terjatuh," lanjut Leticia.
"Mbak, beberapa hari yang lalu memang aku sempat melihat baju Fano yang tampak kotor, kemudian bukunya yang dicoret-coret dan sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Fano, memang dia tutup-tutupi!" berang Fani, yang semakin larut dalam pikirannya.
"Apakah dia benar mendapatkan pembullyan dari teman kamu yang kemarin itu?" sergah Leticia.
"Bisa jadi, Mbak apalagi semua anak di dalam satu kelas sepertinya menutup-nutupi. Karena mereka takut pada Marks." Fani yakin sepertinya memang Marks yang melakukan itu pada Fano, apalagi sepertinya Marks ingin balas dendam tetapi malah meluapkannya pada Fano.
__ADS_1
"Yasudahlah, Mbak akan tanya baik-baik pada Fano. Mbak, tidak boleh mendesaknya, tetapi harus meyakinkannya agar dia berani mengungkapkan secara terbuka, Mbak tidak mau kalian kenapa-napa," desah Leticia sembari menarik dan mengeluarkan nafas kasarnya.