Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab72


__ADS_3

"Oh ... ngomong-ngomong bagaimana pelajaran selama di sekolah? Aku sudah bosan berada di rumah terus dan belajar sendiri," ucap Fani dengan tatapan kesal.


"Tugas di sekolah sangat menumpuk. Sepertinya kamu harus mengerjakannya, jangan sampai nanti kamu mendapat persoalan jika ketinggalan pelajaran dan ambil saja buku-bukuku kalau kamu tidak bisa mengerti penjelasan yang ada di buku, lebih baik gunakan catatanku," usul Fano.


"Ya, benar juga aku harus mempelajari catatanmu karena banyak pelajaran yang pasti ketinggalan," tukas Fani seraya menatap lekat saudara kembarnya.


"Pasti itu, karena banyak pelajaran yang memang kamu lewatkan selama semingu, alhasil jadi ketinggalan. Apalagi pelajaran itu sangat-sangat sulit," tambah Fano.


"Aku minta deh catatanmu, biar aku bisa belajar sehingga tidak ketinggalan pelajaran setelah seminggu tak masuk ke sekolah," pinta Fani.


Fano beranjak menuju meja belajar, ia mengambil beberapa catatan yang sudah dicatat saat jam pelajaran berlangsung. Memang dia sangat fokus untuk mengerti akan pelajaran tersebut.


Kini, Fano memberikannya pada Fani dan mengatakan bahwa buku itu harus kembali kepadanya setelah beberapa hari kemudian, tepatnya sebelum pelajaran akan dimulai saat di sekolah nanti.


"Nih buku catatannya, pelajari dengan baik. Nanti kalau sudah selesai langsung simpan di kamarku, taruh aja di atas meja belajar," celetuk Fano mengingatkan.


"Siap, Bos kalau begitu aku balik ke kamar dulu. Mau istirahat soalnya kakiku pegal-pegal sekali," timpal Fani seraya memijit-mijit betis.


"Yaudah sana pergi." Fano mengusir Fani dengan mendorong tubuh Fani agar segera cepat keluar dari kamar.


***


Leticia pun duduk di tepian ranjang, tak ada obrolan diantara keduanya. Eric tampak sibuk mengutak-atik ponsel, lalu Leticia pun ikut melakukan hal yang sama dengan suaminya. Karena saat itu masih jam 6 sore terlalu dini untuk mereka menyantap makan malam sehingga Leticia pun tak berani untuk mengajak suaminya meski ia sudah ingin sekali makan malam agar bisa segera tidur.


Tapi tiba-tiba Eric mengucapkan sesuatu. "Bagaimana tadi hasil belanjaannya, berapa uang yang kamu habiskan?"


Perasaan Leticia kacau balau setelah mendengar pertanyaan dari suaminya. Ia takut berkata jujur tapi ia khawatir jika berbohong nantinya Eric akan tahu sendiri berapa uang yang ia habiskan dalam satu hari ini.

__ADS_1


"Maaf, Tuan ku tidak tahu kalau ternyata harga tas itu sangat mahal sekali. Sehari ini aku menghabiskan hingga 150 juta, aku tidak sanggup untuk membayarnya kembali," kata Leticia, dengan suara yang bergetar.


"Bukan begitu maksudku, justru aku menanyakan nominal yang kamu belanjakan bukan untuk meminta agar uang itu dikembalikan tetapi aku hanya ingin tahu saja," hardik Eric.


"Apakah aku tetap harus mengembalikannya jika pernikahan ini berakhir?" sosor Leticia, sembari menatap lekat suaminya.


"Hmm ... tidak perlu, gunakan saja uang itu sesukamu, habiskan bila kamu mau!" sergah Eric dengan datar.


Pernyataan Eric membuat Leticia terkejut bukan kepalang, ia tak menyangka bahwa suaminya malah memperbolehkan untuk menggunakan uang sebanyak itu dalam satu hari.


"Tuan, bagaimana dengan nasib kontrak kita?" singgung Leticia secara tiba-tiba sehingga membuat raut wajah Eric berubah, seketika ia sangat tidak suka jika menyangkut tentang kontrak pernikahan, apalagi Leticia berniat untuk membatalkan pernikahan itu.


"Bagaimana apanya? Pernikahan kita berjalan seperti biasanya, apalagi ayah saya ingin pernikahan ini langgeng dan dia juga mengharapkan cucu," timpal Eric dengan sinis, menatap wajah istri kontraknya dengan wajah mengekerut.


"Tapi kan aku tidak mungkin memberikan anak untukmu, sementara pernikahan kita statusnya hanyalah sebuah pernikahan kontrak," balas Leticia.


"Bukan begitu maksudku, Tuan. Aku tidak berniat membatalkan kontrak itu lagi, hanya saja aku ingin memastikan tentang pernikahan kontrak kita ini," sambung Leticia.


"Yasudah kalau begitu kamu nikmati saja pernikahan ini, lagi pula aku tidak ada urusan apapun dan tidak pernah mencampuri urusanmu, intinya aku tetap menafkahimu dan mengurus adik-adikmu," jelas Eric dengan ketus.


"Terima kasih banyak, Tuan entah bagaimana caranya aku bisa berbalas budi terhadapmu, sebab kamu terlalu baik pada keluargaku," ungkap Leticia seraya merasa haru karena suaminya itu bersikap sangat baik bahkan bisa menerimanya bersama adik-adiknya.


"Balas budi? Hah ... yang benar saja," ledek Eric seraya berdecak menertawai istrinya.


"Iya, aku serius, aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya harus berbalas budi denganmu," seru Leticia dengan nada yang lembut.


"Kalau kamu mau berbalas budi denganku begitu coba lah untuk mencintai aku," sosor Eric tetapi malah mendapat perhatian tajam dari Leticia.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Leticia malah tertawa terbahak-bahak, ia tak menyangka seorang pria seperti Eric bisa kata-kata seperti itu, bahkan bisa keluar dari mulut seorang tuan muda yang berwibawa seperti Tuan Eric.


"Tuan, anda sedang tidak bercanda, kan? Bisa saja candaannya," kekeh Leticia, kemudian mLh tertawa terbahak-bahak.


Entah mengapa perkataan itu membuatnya terasa lucu. Sebab dia tidak yakin kala Eric sendiri bisa mencintai dirinya.


"Yasudahlah kalau begitu kamu istirahat saja dulu, sampai waktu jam makan malam berlangsung." Eric dengan sengaja mengalihkan pembicaraan karena Leticia tampak menertawai dirinya sehingga membuatnya merasa tidak nyaman.


"Baik, Tuan aku akan istirahat sejenak karena kakiku merasa lelah sekali."


"Apa perlu aku bantu untuk memijitnya?" tawar Eric dengan menatap manik indah sang istri, dengan niat yang lain.


Sebenarnya Eric ingin meraba kaki Leticia sebelum memulai aksinya saat malam nanti.


"Serius, Tuan mau melakukan itu? Kalau Tuan tidak keberatan sih aku mau saja," imbuh Leticia dengan semangat.


Kaki Leticia sangat merasa pegal lantaran seharian mengitari mall yang sangat luas. Oleh karena itu, bantuan dari Eric pun tak bisa ditolaknya, dengan maksud siapa tahu bisa mengurangi rasa sakitnya.


Leticia justru tak berpikiran buruk pada suaminya, ia malah menganggap hal itu biasa saja karena kini sedang merasa lelah.


"Ya ... aku serius kok! Sini aku pijitin kakimu," pinta Eric seraya menyeringai.


"Baiklah, kalau kamu memaksa dan ternyata benar-benar berniat baik," kata Leticia sembari merentangkan kaki ke arah Eric.


Kemudian, Leticia menggulung celana ke atas lebih dahulu, sebelum Eric menyentuh kakinya dan memijit betisnya yang terasa sangat tegang. Ia meregangkan sejenak kakinya sebelum Eric mulai menyentuh kedua kaki itu.


Tak lama, Eric mulai meraih kaki Leticia, lalu memijitnya perlahan-lahan sembari memiliki niat lain. Alisnya mengkerut seraya menatap kaki yang mulus ada dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2