
Hari sudah menunjukkan tempat pada pukul 9 malam, Leticia bergegas masuk ke dalam kamar di sana terlihat bahwa Eric sedang sibuk mengutak-atik iPadnya dan berjibaku dengan pekerjaan yang sangat memusingkan.
Leticia bahkan tak mengerti apa yang sedang dipandang oleh suaminya itu saat ia sesekali melirik ke arah layar ipad, kemudian ia duduk berdampingan di atas ranjang dengan kegiatannya masing-masing.
"Ehem." Dehaman Eric memecahkan keheningan dan membuyarkan lamunan Leticia saat itu juga.
"Ada apa, Tuan?" sambut Leticia seraya menoleh ke arah pria yang tampak gagah di matanya.
Pria itu terlihat sangat maskulin walau hanya memakai baju rumahan, setengah duduk menyandar pada dipan ranjang.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu mengganti bajumu?" ujar Eric pura-pura polos, ia memang sengaja mengungkit hal itu karena ingin mengetahui respon istrinya.
deg ...
Bak tersambar petir, Leticia merasakan kegugupan yang luar biasa. Namun, ia tetap menenangkan diri dan fokus untuk mengalihkan pertanyaan Eric.
"Oh ... soal itu, aku mengganti baju karena tadi saat tertidur ternyata sangat keringatan jadi bajuku terasa lembab sehingga membuatku tidak nyaman, oleh sebab itu aku harus menggantinya, Tuan," seru Leticia, menyematkan cengiran kuda untuk mengalihkan pikiran Eric.
Eric pun mengangguk-angguk seolah mengerti, namun myatanya ia tersenyum penuh kemenangan saat perempuan itu tak bisa menatapnya. Sepertinya ia berhasil membuat perempuan itu merasakan kenikmatan saat ia mencumbunya dan larut dalam sentuhan yang ia berikan.
"Kamu sedang apa?" tanya Eric, menatap kedua manik Leticia.
Ahasil, keduanya saling menatap dan sangat terasa canggung, Leticia sampai memalingkan wajah agar tak lagi menatap wajah tampan yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Sedang main game saja, Tuan. Habisnya aku tidak ada pekerjaan lain," jawab Leticia, menunjukkan layar ponsel pada Eric untuk membuat pria itu yakin, memang benar ia sangat sibuk memainkan game yang sangat populer sekarang ini.
"Oh." Eric membulatkan mulutnya, lalu ia kembali menatap ponsel dan menghiraukan Leticia. Tetapi, hal itu justru membuat Leticia penasaran sehingga ia balik bertanya pada suaminya.
"Tuan, sedang apa?"
__ADS_1
"Aku sedang memastikan nilai saham perusahaan karena beberapa hari ini sempat Mengalami penurunan."
"Oh ... karena apa penurunannya?" tanya Leticia basa-basi, sebenarnya ia juga tidak terlalu paham mengenai dunia saham.
"Biasalah terjadi permasalahan di anak perusahaan sehingga berdampak pada perusahaan pusat dan terutama pada nilai sahamnya yang menurun bahkan sampai mencapai 20 persen," ungkap Eric sembari menyugar rambutnya, merasa kesal jika mengingat para pemilik saham memburunya.
"Apakah anda akan bangkrut jika nilai saham terus berkurang?" sahut Leticia dengan polos, seketika Eric pun tertawa terbahak-bahak melihat melihat kepolosan istrinya.
Pernyataan itu membuat Leticia khawatir bahwa ia akan jatuh miskin kembali karena Erikc tengah mendapatkan masalah serius yaitu terjadinya penurunan nilai saham.
"Loh ... Tuan, kenapa malah tertawa?" berang Leticia seraya memicingkan mata.
Tawa Eric menunjukkan bahwa ia seakan-akan menjadi perempuan yang paling bodoh di dunia ini.
"Hahaha ... soalnya kamu lucu sekali sih." Eric mencubit gemas pipi Leticia sehingga membuat membuat pipi Leticia memerah seketika.
"Ah ... Tuan, aku sungguh-sungguh bertanya seperti itu!" tampik Leticia sembari memalingkan wajah ketika tangan Eric telah terlepas dari pipinya.
"Memang terjadi penurunan saham tetapi tidak terlalu berdampak seburuk itu, kecuali harga saham benar-benar anjlok pmencapai 100 persen, akibatnya saya akan mengalami kerugian pada perusahaan, kalau hanya 20 persen saja sih kemungkinan masih bisa diperbaiki lagi. Jadi tidak perlu cemas saya akan bangkrut dalam waktu secepat itu," tandas Eric seraya tertawa terbahak-bahak membuat Leticia kebingungan hingga menggaruk-garuk tengkuknya karena merasa malu.
"Oh ... begitu, aku kira, Tuan akan segera bangkrut dengan terjadinya penurunan nilai saham seperti itu," papar Leticia seraya terkekeh kecil.
"Tidaklah, aku pasti akan mencoba terus memperbaikinya termasuk hari ini aku sudah menyelesaikan beberapa permasalahannya, hanya saja belum berdampak baik pada perusahaan karena semua itu membutuhkan proses dan waktu," jelas Eric
"Mudah-mudahan saja masalah anda cepat selesai, Tuan sehingga anda benar-benar tidak bangkrut," canda Leticia sembari menepuk pundak suaminya.
"Hahaha ... kamu ini ada-ada saja, apa kamu ingin mendoakan keluargaku bangkrut?" ledek Eric, lalu keduanya pun tak sengaja saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat, mengikis jarak antara keduanya sehingga mereka merasa canggung dan kikuk.
Kemudian, Eric dalam waktu cepat mendorong tubuhnya ke belakang dan menyandarkan tubuh itu ke dipan ranjang, lalu ia kembali menatap iPadnya yang tadi masih berada di pangkuannya.
__ADS_1
"Lebih baik kamu tidur saja, apalagi seharian sudah capek berkeliling di mall. Nikmatilah istirahatmu," sergah Eric, sengaja mengalihkan pikiran Leticia agar bergegas beristirahat.
"Iya, Tuan aku memang sudah merasa lelah sekali tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan, hanya saja aku merasa malu!" sosor Leticia seraya menoleh kepada wajah suaminya.
"Katakanlah, aku akan mendengarkannya," sambung Eric.
"Apakah, Tuan pernah mengalami mimpi basah?" tanya Leticia dengan tatapan yang datar, seketika Eric pun langsung menoleh.
Pandangan yang tadinya fokus ke iPad, kini sudah beralih menatap kedua manik indah milik perempuan itu.
"Pertanyaan kamu ini ada-ada saja. Kalau laki-laki sepertiku, tentu saja pernah mengalaminya apalagi saat mulai beranjak dewasa, hal yang pertama kali pertanda memasuki fase dewasa yaitu adanya dengan mimpi basah," balas Eric seraya terkekeh.
"Oh ... maaf, aku tidak tahu hanya saja beberapa hari terakhir, aku sering mengalaminya, padahal pikiranku tidak pernah berpikiran kotor," keluh Leticia dengan wajah yang menunduk kaku.
"Mungkin saja kamu memang benar menginginkannya," celetuk Eric, membuat Leticia tampak malu-malu.
"Ah ... ti–tidak kok, Tuan!" bantah Leticia dengan terbata-bata, lalu mengibaskan tangan sebagai tanda penolakan dengan apa yang dituduhkan Eric padanya.
"Mulai hari ini berarti kamu harus berpikiran positif jangan sampai kamu berpikiran negatif sehingga mempengaruhi alam bawah sadarmu dan berujung mengalami mimpi basah. Apa karena hal itu kamu juga mengganti bajumu?" hardik Eric seraya menatap tajam wanita kontrak itu.
"Enggak kok, kalau itu benar-benar karena keringatan makanya aku mengganti bajuku. Soal mimpi basah, apakah memang mempengaruhi kepada kondisi fisik kita?" tanya Leticia lagi dengan polos.
"Tentu dong, kalau laki-laki pasti mereka mengeluarkan cairan yang kamu tahu sendirilah untuk ap, yaitu yang menjadi benih-benih dalam pernikahan hingga nantinya seorang bayi lahir. Sementara kalau perempuan, aku tidak tahu karena aku adalah laki-laki dan tidak pernah merasakan menjadi seorang perempuan," timpal Eric seraya menyematkan candaan dalam perkataannya.
"Tuan, bisa saja bercandanya!" ledek Leticia, lalu menghentikan pembicaraan itu, ia ingin segera tidur daripada memusingkan hal yang berada di luar nalarnya.
"Aku bercanda kok!" sahut Eric, terkekeh kecil.
Kemudian, ia mengarahkan agar istrinya lebih baik segera tidur karena hari semakin larut.
__ADS_1
"Udah, tidur sana!"
"Iya, Tuan aku juga sudah merasa sangat lelah. Terima kasih tadi sudah memijitku sampai aku ketiduran!" ucap Leticia seraya tersenyum dengan lebar sehingga membuat Eric tampak luluh dan semakin jatuh hati.