
Pria itu sangat perhatian, sengaja saat di tengah jalan tadi, Eric merebut tas yang dipegang oleh Leticia.
"Enggak, ini spesial untuk kita, anggap saja ini honeymoon kedua," gurau Eric dengan datar seraya tersenyum kecil.
Leticia hanya membalas senyuman itu dengan senyuman tipis miliknya. Lalu, ia segera menghempaskan diri di atas ranjang yang luas bernuansa putih, membuat ruangan Itu tampak sangat romantis, ranjang yang dibalut sprei putih, gorden hingga pelataran, semuanya berwarna putih.
Tak lupa, di atas ranjang itu juga sudah disediakan bunga mawar yang berbentuk love untuk penyambutan kedatangan mereka.
Sementara, Fani dan Fano mempunyai tenda masing-masing sendiri, ukuran tenda itu memang sedikit lebih kecil dari tenda utama milik pasutri Eric dan Leticia. Mereka memiliki dengan ukuran seperti kamar masing-masing yang ada di rumah saat ini.
Fani dan Fani segera berhamburan ke tenda masing-masing, mereka memiliki bilik di sisi kanan dan kiri, sementara tenda Eric dan Leticia berada di tengah-tengah.
Fano tampak datar saat memasuki kamar, sementara Fanny dengan semangat yang menggebu-gebu ia langsung berlari memasuki tenda kemah tersebut.
Ada yang berbeda di kamar Fani dan Famo, meski sama-sama memiliki nuansa putih dan semuanya dihias dengan sempurna tetapi kamar itu tampak mewah dan elegan. Sementara kamar Eric dan Leticia terlihat begitu romantis karena cocok untuk pasutri.
Fani dan Fano pun menikmati kamarnya dengan cuaca yang membuat mereka seketika ingin langsung merebahkan diri di atas ranjang, apalagi ada penghangat ruangan yang membuat mereka tampak nyaman saat berada di dalam kamar.
Namun, saat Fani dan Fano tengah merebahkan diri di atas ranjang, tiba-tiba Eric keluar tenda dan ia meminta pihak perkemahan menyalakan api unggun serta membuat pemanggangan untuk barbeque malam ini.
__ADS_1
Tak hanya itu, seluruh perlengkapan bahan masakan makanan juga disiapkan oleh pihak perkemahan tersebut.
"Selamat sore, Tuan kami ingin memasang seluruh perlengkapan untuk bakar-bakar malam ini," ujar seorang pelayan yang membawa berbagai perlengkapan agar segera dipasang di depan tenda mereka masing-masing.
"Baiklah, langsung saja pasang. Saya sebentar lagi akan kembali ke sini untuk memanggil istri saya. Semua harus sudah tertata dengan rapi," titah Eric, seraya menatap tajam para pelayan yang sudah mulai menyiapkan seluruh pemanggangan dan menyalakan api unggun di sana.
"Siap, Tuan," jawab pelayan tersebut.
Eric langsung kembali lagi ke dalam tenda, ia melihat Leticia tampak membaringkan tubuh dengan santai di atas ranjang. Saat itu, Leticia masih mengenakan pakaian yang sama saat mereka berangkat dari rumah hendak menuju perkemahan. Leticia memang sengaja belum mengganti baju karena ia memperkirakan masih banyak aktivitas yang akan dilakukan di luar perkemahan ini.
"Agenda apa saja yang akan kita lakukan, Tuan?" tanya Leticia sembari menatap Eric dengan lekat.
"Kita hanya cukup bersantai saja kok, sebentar lagi akan dinyalakan api unggun, akan disiapkan pula makan malam, semua bahan masakan pun telah disediakan, tinggal koki yang membakar bahan masakan. Yang pasti, semua sudah disiapkan oleh pihak perkemahan karena saya sudah meminta mereka untuk menyiapkannya," jelas Eric.
Eric sibuk menatap ipad untuk melihat bebeberapa berkas pekerjaan yang belum dituntaskan, sementara Leticia tampak sibuk bermain game di dalam ponsel.
Saat itu, pukul 5 sore, mereka bersiap-siap untuk melihat matahari terbenam dari sisi depan perkemahan. Lalu, Eric mengajak istrinya untuk keluar menyaksikan terbenamnya matahari dikala senja apalagi api unggun sudah menyala.
"Cia, ayo kita lihat matahari terbenam," ajak Eric, dengan tiba-tiba menarik lengan istrinya dan sontak membuat Leticia tampak terkejut karena tiba-tiba suaminya melakukan physical touch dengan alibi ingin melihat matahari terbenam.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri," kata Leticia dengan dingin, lalu ia menarik lengan dan segera beranjak dari atas ranjang. Sementara Eric tampak kikuk dan kaku karena melihat respon Leticia yang tampak dingin.
Keduanya berjalan masing-masing, Eric yang berada di depan, sementara Leticia mengekori dari belakang. Setelah keluar dari tenda, Leticia memanggil kedua adiknya untuk ikut bergabung bersama mereka. Sore itu, memang sangat syahdu sekali, suasana yang memang sangat mendukung untuk aktivitas camping mereka. Untung saja tadi Leticia mengenakan hoodie yang sudah di bawa dari rumah untuk melawan rasa sejuk yang menusuk ke kulit.
"Fani, Fano, ayo kita ke depan, melihat matahari terbenam, sekaligus menikmati api unggun agar sedikit merasakan kehangatan," ujar Leticia dengan sedikit berteriak.
Dua bocah itu langsung keluar berhamburan dari kamar masing-masing, mereka tersenyum saat melihat kakak dan iparnya sudah duduk mengambil posisi masing-masing di depan tenda. Pasutri itu tampak sibuk melihat menyaksikan pemandangan di depan, terlihat gunung yang menghijau dan membuat pemandangan itu terlihat indah dengan matahari yang sudah mulai menguning karena sebentar lagi akan segera tenggelam.
Fani dan Fani juga duduk di samping kakaknya, lalu mereka menggosok-gosok tangan di depan api unggun agar merasakan kehangatan karena cuaca yang semakin malam malah semakin dingin karena mereka berada di bawah kaki pegunungan.
"Wah, keren banget tempatnya," ujar Fano, mulai membuka suara, sejenak ia mulai melupakan permasalahan yang merenggut kenahagiaannya saat berada di sekolah.
Kini, Fano ingin menikmati perkemahan kali ini, liburan yang sudah disediakan oleh kakak iparnya.
"Ya, No! Keren banget loh ini, kita harus sering-sering ke tempat seperti ini," ujar Fani seraya terkekeh, tak kalah semangat dari Fano.
"Nanti, Mas aja kalian kalau ada libur panjang, kita harus menikmati perkemahan seperti ini selama 3 hari berturut-turut, kalau hari ini kan hanya sampai 1 hari 1 malam saja, besok kita sudah pulang lagi," timpal Eric seraya tersenyum menoleh kepada kedua adik iparnya.
"Mas, Fani pengen banget liburan kayak gini karena dulu, waktu masih ada ibu, kita tidak pernah menikmati liburan bahkan kita tidak pernah sama sekali berkemah," keluh Fani seraya merasakan kesedihan mendalam ketika mengingat sang ibu yang tidak sempat merasakan kehidupan mewah yang seperti saat ini mereka nikmati.
__ADS_1
"Iya, Fano jadi kangen ibu deh," sahut Fano menyambar.
Matahari pun mulai turun perlahan-lahan, mulai tenggelam dan suasana tampak mulai gelap. Lalu, setelah matahari tenggelam, Fani dan Fano membantu mengambil jepretan foto sepasang suami istri itu, mereka sengaja mengabadikan momen agar terlihat lebih intim dan terjalin kedekatan antara Leticia dan Eric.