
Eric keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan sehelai handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Tanpa rasa khawatir dan dia terlihat sangat acuh meskipun Leticia menatap tubuhnya.
Namun melihat Eric yang bertelanjang dada, Leticia sontak memalingkan wajahnya. Ia tak ingin melihat tubuh eksotis suaminya yang tampak menggiurkan. Perut kotak-kotak, dada bidang, hingga lengan yang berotot, perempuan mana yang tak jatuh hati melihat tubuh itu
Kemudian, dengan cepat Eric mengenakan pakaian. Ia menghampiri Leticia dan mengajak untuk makan malam bersama. Apalagi ternyata sudah jam 8 malam.
"Ayo kita makan, Cia!" ajak Eric dengan datar.
Leticia kemudian beranjak dari tepian ranjang. Ia mengikuti suaminya dari belakang, bahkan ia sama sekali tak berani mengucapkan sepatah kata pun setelah melihat mood Eric yang berantakan dan tidak baik, rasanya sangat malas bagi Leticia untuk berbasa-basi dengan pria itu.
Saat melintasi jalanan kamar Fani dan Fano, Leticia langsung memanggil kedua adiknya agar mereka segera ikut menyusul ke meja makan.
Namun, betapa terkejutnya Eric saat melihat kedatangan Fani dan Fano. Eric tampak terkejut melihat wajah Fano yang babak belur, sontak ia terperanjat dari kursi, lalu menghampiri serta memastikan wajah adik iparnya itu benar-benar babak belur karena dihabisi oleh teman-temannya.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Eric, seraya menangkup wajah Fano.
Ia memperhatikan pipi dan sudut bibir Fano yang luka akibat tinju yang didapatkan dari Marks dan teman-temannya.
"Mampus aku, sampai lupa kalau ternyata di wajah Fano tersisa jejak luka seperti itu. Jadi aku sudah keduluan sebelum memberitahukannya pada, Tuan Eric!" sesal Leticia seraya mengusap wajahnya yang terasa pucat.
Ia takut akan dicecar oleh Eric bahkan dimarahi karena tidak berani mengatakan yang sejujurnya terjadi pada adiknya. Padahal kemarin Eric sudah berpesan bahwa apapun yang terjadi pada adik-adiknya tetap harus disampaikan pada pria itu.
__ADS_1
"Ehm ... Mas, aku dipukuli oleh teman-temanku,"'ungkapa Fano, seraya menundukkan kepala dengan malu.
Ia takut akan dimarahi lebih dalam lagi oleh iparnya. Namun, pikiran Fano terelakkan. Sebab, dia bukan mendapatkan amukan dan marahan dari Eric, justru Leticia lah yang dicecar oleh Eric kenapa sampai hati tak berani mengungkapkan apa yang terjadi pada adiknya.
"Leticia, sudah kukatakan kalau ada yang terjadi pada adik-adikmu, ungkapkan saja padaku, kenapa kamu malah membiarkan adikmu terluka seperti ini! Kemarin aku sudah katakan jika ada anak pembully seperti itu, lebih baik dikeluarkan saja dari sekolah. Libatkan aku dalam urusan keluargamu!" bentak Eric dengan nada yang ketus serta nada sedikit tinggi.
Leticia awalnya bungkam, meski akhirnya ia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan pria itu.
"Mas, aku belum berani bercerita karena tadi melihatmu sepertinya sangat lelah jadi aku belum mengatakan apapun tentang Fano, tetapi kamu sudah mengetahui dengan melihat wajahnya yang babak telur," balas Leticia dengan lirih sembari tertunduk penuh penyedalan.
"Apapun kondisinya jika mengenai adik-adikmu, aku pasti akan meresponnya jadi tidak perlu menunggu sampai moodku benar-benar bagus!" hardik Eric dengan kesal.
"Kalau begitu kita makan dulu saja, nanti aku akan ceritakan semuanya," sahut Leticia seraya meminta Eric agar kembali duduk di kursi makan.
Makan malam pun berlangsung dengan hening, tidak ada suara yang berani muncul ataupun membuka mulutnya untuk mengajak berbincang. Hanya ada suara denting sendok dan piring yang beradu di dalam ruangan makan tersebut.
Setelah mnyelesaikan santapan malam, Eric sengaja memerintahkan Fano dan Fani agar kembali ke kamar masing-masing. Inilah saatnya untuk Eric mempertanyakan permasalahan apa yang sebenarnya terjadi pada adik iparnya tersebut.
Eric membawa Leticia serta ke dalam kamar karena tidak ingin yang lainnya melihat keadaan emosional Eric yang semakin menggebu-gebu.
"Ceritakanlah sekarang!" sosor Eric dengan nada yang cukup tinggi sehingga membuat Leticia tampak bergeming hingga tak berani memulai membuka percakapan tersebut.
__ADS_1
Tapi akhirnya ia pun menghampiri nakas, membuka laci serta mengeluarkan Amplop yang ada di sana dan menyerahkannya kepada Eric. Kemudian ia duduk di tepian ranjang dan bersebelahan dengan suaminya, lalu mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada secara rinci agar nantinya Eric mengetahui tindakan apa yang tepat untuk dilakukan.
"Jadi gini, Tuan sebenarnya adikku terkena kasus pembullyan, dia benar-benar habis digebukin oleh teman-temannya. Hal itu memang baru kuketahui hari ini, sedangkan mplop yang ada di tanganmu saat ini adalah hasil visum yang baru tadi siang aku lakukan setelah melihat Fano yang pulang habis babak belur," beber Leticia, menatap lekat wajah suaminya.
Eric pun membuka amplop coklat tersebut. Lalu melihat hasil visum yang ada di dalam sana, ia meneliti dengan sangat fokus, kemudian merasa yakin ternyata bukti kuat dari visum itu bisa digunakan untuk melakukan ke tingkat pelaporan agar memberikan efek jera pada pelajar yang memberi kasus pembullyan seperti itu.
"Siapa yamg berani melakukan itu pada Fano?" tanya Eric dengan lantang.
"Pelakunya adalah anak yang sama saat terlibat kasus dengan Fani, memang baru terungkap sekarang karena selama ini Fano sengaja menutup-nutupinya. Jujur saja, aku bingung karena menurut Fano, anak itu adalah salah satu anak orang kaya dan donatur terbesar di sekolah mereka," tambah Leticia dengan lugas.
Huft ...
Erik menarik dan mengeluarkan nafas kasar sembari menyugar rambut. Dia merasa kesal karena tidak dilibatkan apalagi tidak dihubungi oleh Leticia sama sekali.
"Kalau begitu, biarkan saya saja besok yang ke sekolahannya, saya akan menuntaskan semuanya sampai ke akar permasalahan mereka. Anak itu harus dikeluarkan dari sekolah!" tegas Eric dengan wajah yang dingin.
Entah mengapa, tindakan Eric saat ini justru membuat Leticia terpukau. Ia mulai mengagumi sosok lelaki yang ada dihadapannya.
"Tuan, mau melakukan apa dengan anak itu? Aku memang sangat setuju jika anak itu dikeluarkan dari sekolah apalagi wali kelasnya juga sudah mendukung karena wali kelas mereka sudah curiga pasti ada seorang pembully di dalam kelas. Semenjak melihat Fano tadi pagi yang sudah babak belur, ia semakin yakin. Hanya saja Fano tidak berani jujur," papar Leticia.
"Yasudah, kamu tenang saja, besok kita akan ke sekolah bareng-bareng dan akan menghadapi anak orang kaya itu. Saya akan menyeretnya keluar dari sekolahan itu!" tandas Eric dengan tegas.
__ADS_1
Emosinya semakin tersulut, tetapi melihat wajah Leticia yang tenang, seketika emosi itu meredam. Ia kembali menyerahkan amplop coklat tersebut pada Leticia.
Tak berselang lama, Leticia meraihnya dan menyimpan kembali ke dalam tas. Kali ini, ia tidak menyimpan di dalam nakas karena takutnya besok akan lupa untuk dibawa sehingga dikhawatirkan malah meninggalkan hasil visum itu di dalam rumah.