Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab56


__ADS_3

"Mbak, tolong fotokan aku dengan buket uang ini karena baru pertama kali aku melihatnya," pinta Fani seraya menyodorkan ponsel kepada Leticia.


"Yasudah, sini aku fotoin kamu." Lalu Leticia meraih ponsel dan mengambil beberapa aja jepretan foto untuk adiknya, Fani merasa kegirangan karena ia bisa foto bersama buket uang yang sangat besar dan mewah seperti itu.


Mendengar keributan yang ada di ruang tamu, Fano pun juga penasaran, ia memastikan apa yang terjadi di sana, kemudian dia segera menghampiri Leticia dan Fani.


ceklek ...


Fano dengan cepat membuka pintu kamar, berjalan dengan pelan-pelan karena khawatir kalau yang ada di ruang tamu itu adalah kakak iparnya bukan kakak kandungnya.


Tetapi setelah melihat dari kejauhan, lalu memastikan kalau orang yang ada di sana adalah kakaknya sehingga dia segera menghampiri kedua sang kakak.


"Ada apa sih, Mbak malam-malam begini ribut-ribut?" ucap Fano, sembari mengedarkan pandangan, ia terkejut melihat buket bunga yang sangat besar tengah dipegang oleh Fani.


"Bunga dari siapa itu?" tanya fano menatap penuh selidik, sebelum ada yang menjawab pertanyaan pertamanya.


"Hehehe ... ini bunganya Mbak Leticia dari mas Eric, bagus sekali, kan?" sahut Fani.


"Gila ... ini sih bukan bagus lagi tetapi sekaligus mewah banget, baru kali ini aku melihat buket bunga yang semewah itu terang Fano.


"Berapa itu, Mbak isi uangnya kira-kira?" timpal Fano lagi, seketika membuat kedua kakaknya merasa kebingungan sembari saling mengerutkan kening.


"Entahlah, coba kamu hitung saja sendiri," titah Leticia, dengan menghentakkan kepalanya, lalu Fano pun merasa sangat penasaran sehingga ia mencoba menghitung satu persatu lembaran uang yang ada di dalam sana.


"Kerajinan amat sih kamu, Fano menghitungnya satu-persatu uang itu. Lagian Emangnya kamu mau uang ini?" cecar Fani, ia menepuk npundak saudara kembarnya dengan kencang.


"Ya, kalau dikasih siapa yang nolak sih!" ucapanya asal.


"Kalau kamu mau ambil saja beberapa lembar untukmu," balas Leticia tanpa pikir panjang.

__ADS_1


Sontak saja, hal itu membuat Fano menganggap kalau perkataan Leticia bukanlah sekedar candaan belaka tapi kakaknya berkata dengan serius.


Kemudian, Fano menarik beberapa batang tangkai yang disana menempel lembaran uang pada pucuknya, lalu dia mengambil bahkan 5 tangkai untuk uang sakunya.


Fano sengaja mengambil beberapa tangkai yang berada di ujung buket sehingga tidak merusak tampilan bunga tersebut.


"Aku ambil segini, ya ternyata uangnya sangat banyak sepertinya ini ada 5 juta lebih deh," timpal Fano karena ia belum tuntas untuk menghitung sejumlah uang yang ada di dalam sana.


"Dasar kamu, Fano kalau soal uang aja kamu sangat semangat," ledek Fani sembari terkekeh.


"Kalau gitu, kamu bawa saja uangnya ke dalam kamar dan istirahatlah. Bagaimana cedera di perutmu?" tanya Leticia, untuk mengecek keadaan adiknya.


"Sudah agak mendingan kok, Mbak. Tidak terasa sakit hanya saja tersisa memar," ungkap Fano seraya memegang lima tangkai yang berisi lembaran uang berwarna merah di tangan.


"Mbak, apa nggak ada keputusan dari sekolah Umuntuk membatalkan skorsku?" sambar Fani karena ia baru teringat kalau Marks sudah terungkap bersalah.


"Astaga ... Mbak, lupa menanyakan hal itu pada kepala sekolah atau wali kelasmu. Mungkin besok pagi, Mbak akan menanyakannya kepada Wali kelasmu saja. Siapa tahu skorsmu bisa dibatalkan," tutur Leticia.


"Ya, besok saja lah aku akan hubungi Wali kelasmu. Lebih baik sekarang kalian berdua balik sana ke kamar, istirahatlah karena sekarang sudah larut malam," ujar Leticia.


"Oke, Mbak! Selamat menmandangi buket uangnya," terang Fani, lalu memberikan buket yang masih berada di tangannya kepada Leticia.


Fano dan Fani segera pergi dari ruang tamu, sementara Leticia masih meneliti keadaan buket uang yang berada di tangan. Ia melihat banyak lembaran merah dan berapa banyak uang yang dihabiskan Eric hanya untuk menghambur-hamburkan untuk kepentingan buket uang tersebut.


Tak hanya itu, Leticia juga menatap jam yang ada di dinding berada di ruang tamu. Jam sudah menunjukkan hampir 10.30 malam tetapi Eric tak kunjung pulang, ia merasa bingung ada apa yang terjadi pada suami kontraknya.


***


Disisi lain, Eric bersama Nia telah melakukan pertemuan di sebuah hotel, mereka sudah melakukan penandatanganan MOU, ini adalah Hotel ketiga yang mereka datangi untuk penandatanganan MOU yang lain.

__ADS_1


Sejak sore tadi, mereka memang pergi ke berbagai tempat khusus untuk bertemu para investor dan kolegan. Ini semua dilakukan Eric demi kepentingan kemajuan perusahaan sehingga Eric pun tak bisa mengundurkan waktu pertemuan tersebut.


Usai pertemuan dengan seorang kolega, mereka pun akan melanjutkan dengan pertemuan terakhir yang berada di sebuah restoran.


Meski nyatanya Eric sudah sangat merasa lelah, ia ingin segera cepat pulang ke rumah dan melihat respon Leticia yang baru saja mendapatkan buket uang darinya. Sebab pedagang toko bunga sudah menyampaikan bahwa buketnya sudah dikirimkan sesuai ke alamat rumah mereka.


Apakah Leticia akan senang mendapatkan buket uang seperti itu, belum lagi ada buket bunga yang berada di dalam mobil dan ia akan mendapatkan satu buket itu lagi.


Erik berguman dan semakin larut dalam pikirannya meski ia tengah sibuk berbincang dengan seorang kolega.


"Pak, kalau begitu saya pamit dulu, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk saya," ucap seorang kolega yang menyudahi pertemuan tersebut.


Eric segera beranjak dan mengulurkan tangan, mereka saling berjabat tangan.


"Terima kasih, semoga kerjasama dengan perusahaan kami ini berlangsung dengan lama, kami menjamin bahwa hasil kerjasama yang kira jalin memberikan keuntungan kepada bapak," jawab Eric seraya menghentakkan tangan saat mereka saling berjabatan.


Tak disangka, pertemuan itu sudah berakhir, dan kolegannya berpamit pergi. Kemudian Eric mengajak Nia untuk mendatangi salah satu restoran lagi. Dengan pasrah akhirnya, Eric melajukan mobil setelah merekanmasuk ke dalam.


"Bapak, pasti sangat lelah seharian menyelesaikan pekerjaan," celetik Nia, seraya melirik bosnya yang sedang fokus menyetir.


"Saya capek sekali, untung saja ini pertemuan terakhir," sela Eric, menyongsong jalanan yang sepi agar segera tiba di tempat tujuan terakhir.


"Iya, Pak ini pertemuan terakhir. Setelah itu, kita bisa langsung pulang," tambah Nia.


"Baiklah, secepatnya kita selesaikan, kalau begitu maaf sekali jika waktumu tersisa hanya untuk lembur. Andai saja aku tidak terlambat datang ke kantor pasti kita tidak akan bekerja hingga larut malam seperti ini," papar Eric, panjang lebar sekaligus meminta maaf pada sekretarisny.


"Ya, nggak papa, Pak ini sudah menjadi tugas saya, lagipula pasti akan ada insentif lebih jika saya melakukan lembur seperti ini," ucap Nia, seraya menyematkan lengkungan lebar di samping wajah bosnya.


Dalam waktu 10 menit mereka sudah tiba di sebuah restoran yang memang tidak jauh keberadaannya dari hotel tempat pertemuan keempat sekaligus menjadi penutup pekerjaan mereka hari ini.

__ADS_1


Eric dan Nia bergegas masuk ke dalam restoran untuk menemui seorang kolega yang sudah menunggu kedatangan mereka.


__ADS_2