
Saat berada di dalam kamar mandi, Leticia tampak santai menikmati proses pemandiannya, ia sedikit merasa sangat letih selama seharian penuh mengitari mall hingga bolak-balik mulai dari lantai terbawah hingga lantai teratas.
Pada akhirnya Leticia pun ingin sekali menghempaskan tubuh di atas ranjang dan terlelap tidur tetapi ia harus membersihkan diri terlebih dahulu.
Sementara itu di dalam kamar, Eric sibuk membuka menatap ipad, lalu memastikan email yang dikirim oleh direktur pratama news. Tak berselang lama, Eric membuka email dari direktur Pratama news dan dia membaca artikel yang akan diterbitkan dalam website yang sudah mereka siapkan.
Kali ini, mereka tidak lagi membuat berita dalam bentuk koran melainkan berita itu akan disebarluaskan melalui website yang sudah disiapkan oleh perusahaan itu. Tak hanya itu, berita juga disebarkan melalui media sosial hingga yang lainnya.
Eric sudah memberikan kabar kepada semua karyawan dan direktur Pratam newss bahwa koran telah dihapuskan, mereka kini fokus untuk membuat berita dalam bentuk secara online sehingga berita itu lebih cepat tersebar dan dengan gampangnya dibaca oleh masyarakat di negara ini melalui ponsel masing-masing.
Saat Eric membaca artikel, dia langsung mantap menyetujui artikel itu untuk ditayangkan, ia mengirimkan pesan kepada direktur pratama news agar menerbitkan artikel itu karena sudah sesuai dengan keinginannya. Apalagi kemasan penulisan dalam artikel sangat apik dan bagus.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, Eric kembali menyimpan iPad di atas nakas, lalu ia fokus untuk beristirahat di atas ranjang. Saat itu juga, dia yakin bahwa istrinya sudah sangat lelah dan tidak akan mungkin terbangun saat nanti telah terlelap daam tidur.
Bahkan, Eric tadi sempat menelisik, terlihat jelas di mata Leticia yang merasakan kelelahan. Tak berselang lama, Leticia keluar dari balik pintu, lalu ia mendapatkan perhatian penuh dari Eric.
Pria itu menatapnya dari atas ke bawah lantaran saat itu Leticia hanya mengenakan handuk. Ia lupa membawa baju gantinya sehingga dengan terpaksa ia memperkirakan mengenakan baju itu di dalam kamar.
Namun, tubuh Leticia adalah pandangan yang sangat menggiurkan bagi Eric, hingga membuat Eric benar-benar jatuh cinta akan body wanita itu. Walaupun hanya pundak dan kaki saja yang terekspos tapi itu sudah membuat mata Eric meleleh dan ia ingin sekali menyentuh tubuh itu karena kemarin sudah gagal melakukannya.
__ADS_1
Leticia tampak malu-malu saat keluar dari kamar mandi. Ia menuju lemari dan mengambil sepasang baju yang akan dikenakannya untuk malam ini, selain itu dia langsung membawanya lagi kembali ke dalam kamar mandi.
Sebab, Leticia merasa tidak enak jika memakai bajunya di dalam sana karena Eric tengah memperhatikannya.
Kepergian Leticia membuat Eric sedikit kecewa, ia kira akan menyaksikan pemandangan yang lebih erotis lagi tetapi nyatanya tidak. Alhasil, Eric mengusap wajahnya dengan rasa frustasi. Padahal dengan susah payah ia telah menelan shaliva karena melihat pemandangan yang sangat jarang ada di depan mata.
Setelah mengenakan piyama, Leticia lantas langsung keluar dari kamar mandi, ia duduk di meja rias dan menggunakan skin care agar merawat wajahnya tetap cantik dan bersih. Selain itu, dia juga mengambil skin care baru yang ia beli dari mall lalu dia memakainya untuk merawat kulit-kulitnya agar tetap sehat.
Saat itu, Eric sibuk memainkan ponsel sembari sesekali melirik istrinya yang cantik dan sangat menarik perhatiannya, wanita itu benar-benar membuat Eric jatuh hati dan tergiur. Sebab, ia ingin sekali menyentuh tubuhnya.
Sejujurnya, Eric ingin mendekatkan diri dengan Leticia untuk meraih hati perempuan itu tetapi ia masih ragu-ragu kalau Leticia belum jatuh cinta kepadanya.
Apalagi Leticia seperti tidak ada hasrat untuk memiliki Eric karena perempuan itu tampak biasa saja jika berdekatan dengan suami kontraknya sehingga membuat Eric tampak canggung dan tidak yakin untuk meraih hati Leticia ataupun mengaku bahwa ia sebenarnya menyukai istrinya tersebut.
Di dalam kamar, Fano sibuk membongkar-bongkar semua baju yang diberikan sang kakak. Bahkan ia mencoba beberapa setelan baju yang diberikan kakaknya kepadanya dan beberapa kaos tampak sangat sesuai di tubuhnya.
Sedangkan Fani, hanya meletakkan barang belanjaannya di atas meja belajar, lalu ia menghampiri kamar Fano, karena dia merasa bosan meskipun sebenarnya Fani merasakan kelelahan pada kakinya tetapi ia ingin memastikan kalau Fano menyukai hasil belanjaan Leticia.
Tok ... tok ...
__ADS_1
Suara ketokan pintu menyita perhatian Fano, ia membukakan pintu dengan lebar dan seraya tersenyum saat melihat wajah Fani yang datar ada dihadapannya.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Fani karena ia penasaran setelah kepergian Marks, apakah Fano merasa nyaman berada di sekolah karena Fani belum bisa berangkat bersama-sama dengan saudara kembarnya sehingga dia tidak bisa memastikan keadaan Fano selama berada di sekolah tersebut.
Funi pun berangsur masuk ke dalam kamar milik Fano, ia duduk di tepian ranjang sembari memerhatikan Fano yang tampak sibuk memakai baju yang hasil pembelian Leticia.
"Hari ini sudah sangat enak dan nyaman, aku bahkan merasa nyaman sekali belajar, kemungkinan nilai-nilai ku pun sepertinya akan membaik ketika aku sudah bisa fokus belajar seperti sekarang," beber Fano seraya tersenyum dengan sumringah.
"Wah ... akhirnya kamu merasa nyaman juga bersekolah di sana. Apalagi kemarin-kemarin aku tidak mengetahui kalau kamu dibully oleh Marks. Andai saja aku tahu maka aku akan menghabisi laki-laki itu. Aku tidak takut kalau aku hanyalah seorang perempuan," ungkap Fani, sembari mengepalkan tangan dengan kesal.
"Sudahlah, kamu jangan terlalu memikirkan lagi soal Marks, dia sudah tidak ada di sekolah kita, aku juga tidak ingin mendengar kabarnya, mungkin saja dia sudah bersekolah di tempat lain," sahut Fano seraya melipat kembali pakaian yang sudah ia coba dan ingin memasukkan pakaian itu ke dalam keranjang baju kotor agar bisa dicuci dan segera digunakan.
"Ya, tapi aku kesal saja kalau mengingat tentang dia, entah kenapa kamu tidak berani melawan dia. Kenapa kamu tidak jujur padaku sehingga aku bisa menolongmu," tampik Fani seraya mengacak-acak rambutnya lantaran kesal.
"Karena aku diancam olehnya jadi aku tidak berani untuk berkata pada siapapun. Untung saja Mbak Leticia baik dan mau berbicarakan hal itu dengan baik-baik sehingga aku berani berkata jujur."
"Apakah kamu trauma?" cecar Fani lagi.
"Aku sedikit trauma tapi aku ingin berusaha melupakannya asal aku jangan bertemu lagi dengan anak itu," jelas Fano.
__ADS_1
"Jangan sampai kamu bertemu dengan dia di luaran sana, bisa saja dia malah membullymu lagi kalau kamu bertemu dengan dia di luar sekolah!" timpal Fani mengingatkan.
"Tapi aku sekarang sudah tidak takut lagi dengannya bahkan melihat dia bertekuk lutut membuat kegagahan Marks seketika runtuh di depan mataku."