
Ceklek ...
Eric menarik handle pintu dan menatap Leticia yang tengah duduk di tepian ranjang, setelah Fani berlalu pergi. Kini, ia mendapati sosok wajah suaminya yang terlihat lelah tetapi masih saja terlihat tampan. Seketika Leticia rasanya enggan memalingkan wajah dari tatapan wajah itu, karena pria itu sangat menarik baginya.
"Tuan, tumben kamu lama sekali pulangnya," ucap Leticia, menatap lekat wajah suaminya.
"Aku hanya agak terlambat sedikit kok," tampik Eric, dengan wajah yang datar.
"Lalu kapan kita akan berangkat?" tanya Leticia, to the point karena ia juga tidak sabar untuk menginjakkan kaki di pantai meskipun tadinya dia sangat ingin mendaki gunung tapi rasanya healing ke pantai pun justru lebih baik.
Kini, Leticia tampak bersemangat apalagi kalau destinasi untuk liburan ke pantai adalah ke tujuan orang-orang yang kerap sekali ingin menjernikah pikiran mereka.
"Kita pergi malam ini juga tetapi setelah selesai makan malam, jadi kamu sudah menyiapkan semua barang-barang?" cecar Eric, sembari menatap manik indah milik istrinya dan Leticia pun mengangguk dengan cepat.
"Barang-barangku juga sudah kamu susun?" tambah Eric lagi.
"Sudah, Tuan semuanya sudah aku gabungkan di dalam koper itu." Leticia menunjuk koper yang berada di depan lemari milik mereka dan Eric pun tersenyum dengan lebar.
Ia tak menyangka Leticia seperhatian itu padanya, kemudian Eric berlalu pergi dan berpamitan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan diri terlebih dahulu agar nantinya bisa beristirahat di dalam mobil selama masa perjalanan.
Satu jam berlalu setelah Eric menyelesaikan pemandiannya dan beristirahat sejenak di atas ranjang. Mereka pun akhirnya menyantap makan malam tepat pada pukul 8 malam, semuanya duduk di kursi masing-masing.
__ADS_1
Makanan yang tersaji pun cukup banyak, lalu Leticia menyiapkan makanan untuk suaminya lantaran ia tak mau membuat Eric kerepotan dan bertindak sendiri lagi mempersiapkan makanannya, karena dirinya merasa tak enak jika diperhatikan oleh kedua adiknya serta para maid yang ada di sana.
Dalam setengah jam saja, mereka sudah menyelesaikan makan malam itu. Eric pun beranjak dan memerintahkan agar seluruh barang-barang dimasukkan oleh para maud ke dalam bagasi mobil.
Kali ini, Eric sengaja menggunakan mobil Jeep miliknya karena akan melalui jalanan terjal menuju Sukabumi sehingga mobil itu sangat cocok jika digunakan untuk berlibur menuju tempat liburan mereka.
Selain itu, Eric juga memerintahkan untuk seorang sopir agar mengemudikan mobil pada malam ini, karena ia tak sanggup jika mengemudikan sendiri mobil itu dengan jarak tempuh yang sangat jauh.
Semu maid pun buru-buru membawa seluruh barang bawaan yang sudah disiapkan, beberapa barang berada di ruang keluarga, sementara barang milik Leticia diambil dari dalam kamar. Kemudian seluruh barang bawaan itu dipastikan sudah lengkap dan disimpan di dalam bagasi mobil.
Eric juga mempersiapkan diri dan segera masuk ke dalam mobil, kali ini ia tidak ingin duduk di samping sopir sehingga dia memilih duduk bersebelahan dengan istrinya. Sementara Fani dan Fano duduk di kursi paling belakang nereka tampak antusias untuk menikmati liburannya.
Padahal, keluarga kecil itu baru minggu kemarin berlibur di sebuah perkemahan. Tapi kini sudah kembali berlibur lagi dengan tujuan destinasi yang sangat menarik sehingga tak aneh jika sepasang anak kembar itu merasa antusias karena rasanya tidak pernah mereka pergi ke pantai.
Erik juga memerintahkan adik iparnya untuk duduk di belakang, kesempatan ini pun dimanfaatkan Eric karena ia memiliki rencana lain terhadap istrinya. Setelah memastikan posisinya sudah tepat, Eric pun memerintahkan sang sopir agar segera melajukan mobil dengam kecepatan sedang dan hati-hati.
Ia meminta supir itu membawa mereka menuju Sukabumi, di mana ia memberikan alamat hotel yang sudah dibooking sebelumnya.
"Kita langsung ke Hotel Mutiara saja yang ada di Sukabumi, bapak bisa gunakan GPS yang ada di sana." Eric kemudian meminta agar supir itu segera berangkat.
"Baik, Tuan!" Lalu, supir itu menginjak pedal gas, melajukan mobil itu keluar dari halaman rumah milik Frederic Varrel
__ADS_1
"Apa saja yang kau lakukan hari ini, Cia?" sambar Eric sekedar berbasa-basi untuk memberikan obrolan di dalam mobil tersebut.
Sedangkan Fani dan Fano tampak sibuk menyantap cemilan yang mereka nikmati di dalam mobil, sebelumnya memang Leticia sudah memerintahkan para maid menyiapkan cemilan kecil untuk adik-adiknya.
"Seperti biasa, Mas aku sekedar berleha-leha dan hanya sekedar bermain game saja," ungkap Leticia seraya menatap kedua manik indah milik suaminya.
"Kalau begitu sekarang istirahat saja. Aku ingin istirahat dulu karena seharian capek melaksanakan meeting di berbagai tempat. Nanti bangunkan aku setelah sampai di sana."
"Baik, Mas," jawab Leticia dengan cepat.
Kemudian tak berselang lama, ia sudah melihat wajah suaminya yang tertidur pulas, padahal tadi Eric baru saja menyandarkan kepala di jok mobil tetapi pria itu tiba-tiba larut dalam tidurnya.
Ia yang melihat tidur Eric sangat pulas akhirnya pun ikut menyandarkan tubuh di jok mobil. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam sementara Fani dan Fano juga sudah ikut menyusul Eric untuk tidur dengan lelap. Tentunya setelah mereka menghabiskan beberapa bungkus cemilan yang ada di sana.
Tepat jam 10 malam, Leticia pun memejamkan mata, hanya berselang 30 menit ia sudah tertidur pulas, bahkan terdengar suara dengkuran yang sangat mengganggu di telinga Eric. Sontok saja Eric pun terbangun mendengar dengkuran Leticia yang khas.
Ia pun seketika mengingat sesuatu dan memanfaatkan situasi itu. Perlahan-lahan, Eric membulatkan kedua bola mata, ia mengucek-kucek kedua bola mata itu dan memastikan jalanan tampak sepi serta supir yang sangat fokus untuk melalui jalanan yang lenggang dan sepi.
Kemudian, Eric juga menoleh ke belakang dan melihat adik iparnya sudah tertidur pulas, kini netranya menatap Leticia yang sangat cantik dan pulas dalam tidurnya. Hanya saja kelebihan Leticia yaitu mendengkur sehingga sangat mengganggu di telinga Eric.
Tangan Eric bergerak cepat memasuki baju Leticia, ia merematt kedua gunung kembar milik istrinya kesempatan itu pun ia lakukan setelah menutup celah kursi supir dengan sehelai kain yaitu jaketnya. Kesempatan tersebut pun tak mau dilihat oleh supirnya karena momen itu sangatlah intim baginya.
__ADS_1
*Bang Eric selalu ada saja kesempatannya ya guyssss hahahahaah!!!
yuk kasih komentar, like, VOTE, dan hadiahnya buat othor!!