
"Ah ... sial!" batin Eric, sembari menggerutu karena sesuatu yang berada di bawah sana sudah menukik tajam dengan sempurna.
Ia pun mengeluarkan benda itu untuk melakukan senam jari seorang diri. Setelah menarik satu tangan dari sesuatu milik istrinya.
Namun, apa yang dilakukan oleh Eric membuatnya tak merasa puas, ia ingin hasratnya seakan segera tersalurkan. Eric pun akhirnya memijit dengan kencang dan cepat, sementara tangan satunya lagi masih bekerja meremat gunung kembar istrinya dengan lembut.
Ia menikmati setiap sentuhan-sentuhan yang diberikan pada tubuh istrinya, bahkan pijitannya sendiri membuatnya semakin puas sesaat cairan yang begitu kental memancar hebat di atas perutnya. Seharusnya, cairan itu berada di dalam rahim istrinya, tapi kini malah terlempar ke atas perut sendiri.
Cairan yang berwarna putih dan kental itu sudah memuncar dengan sempurna. "Huah!" Eric merasa lega dan menikmati kegiatannya malam itu.
"Ah .. ah," rintih Eric, sembari menikmati permainan malam itu.
__ADS_1
Dengan buru-buru, Eric langsung bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan seluruh muntahan cairan dari senjatanya.
Ternyata, aksi Eric belum selesai sampai di situ, kemudian Eric pun langsung tidur menghempaskan diri di samping Leticia. Entah mengapa Leticia tak terbangun sedetikpun, tubuhnya saja tidak bergidik sama sekali, benar-benar tak terbangun walaupun suaminya sedari tadi menyentuh tubuhnya dengan asyik dan menikmati permainan sendiri untuk memenuhi hasratnya.
Leticia benar-benar menjadi pemuas hasrat Tuan Eric yang bisa memenuhi keinginan pria itu. Saat tidur berdampingan, Eric masih ingin meremat gunung kembar istrinya dengan lembut, ia belum merasa puas meskipun hasratnya sudah tersalurkan sejak tadi.
Namun, rasa candu yang kian memuncak, membuatnya kembali melakukan aksi tersebut. Akhirnya, Eric kembali meremat gunung kembar secara perlahan-lahan dan menikmati sentuhannya.
Glek ...
Seketika Eric menelan shaliva yang memenuhi kerongkongan, gunung kembar itu terlihat sangat berisi. Ia dengan susah payah menelan shaliva berkali-kali. Kini, Eric mencoba menyesap pucuk gunung kembar itu secara bergantian, lalu menikmatinya sesapannya dan mengitari pucuk itu secara lembut.
__ADS_1
Namun, saat dia tengah sibuk menyesap pucuk gunung kembar itu, Leticia seakan merintih dan menikmati sentuhan yang dibuat oleh suaminya. Sontak saja, Eric sampai mendongakkan kepala untuk memastikan bahwa Leticia benar-benar tak terbangun. Ia menatap Leticia yang tengah menggigit bibir bawahnya lantaran menikmati sesapan yang dilayangkan oleh Eric.
"Apakah dia tersadar?" batin Eric, karena melihat Leticia tampak menggigit bibir bawah karena menikmati sentuhannya, bibir bawahnya tak henti-henti digigit sendiri.
Setelah memastikan kalau mata perempuan itu masih terpejam dengan, Eric merasa lega dan yakin kalau Leticia tidak sepenuhnya tersadar. Ia hanya mengikuti alur permainan yang Eric buat.
Tak berselang lama, Eric kembali melakukan aksinya, ia menyesap pucuk gunung kembar itu perlahan secara bergantian. Mulai dari gunung kembar sebelah kiri hingga ke kanan, membasahi pucuk gunung kembar itu secara merata.
Bahkan, Eric merasa kecanduan dengan apa yang dilakukannya saat ini. Selain tak ingin lepas dari gunung kembar itu karena begitu menggiurkan baginya, lalu Eric juga mulai beralih pada yang lain.
Aksinya di malam kedua masih benar-benar lolos dari kesadaran istrinya. Tangannya pun ikut bermain di bawah milik Leticia. Ia mengelus rawa-rawa tipis itu dengan lembut.
__ADS_1