Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab29


__ADS_3

Oleh karena itu, dengan kesempatan yang ada ia terang-terangan menyakiti Fano meski disaksikan sama satu anak kelas.


Saat menatap guru di depan kelas, Fano hanya bisa mengepalkan tangan sembari melirik wajah Marks dengan kesal. Namun, ia tak berani membalas karena pria itu dirasa sangat kuat dan bukan tandingan bagi Fano.


Sikap Fano dan Fani berbanding terbalik, Fani tidak memiliki keberanian seperti yang dilakukan oleh Fani, ia terlihat lemah. Bahkan, tak berani melawan perundung seperti Marks.


Sementara Fani, ia justru bersikap gagah padahal dirinya adalah perempuan. Entah mengapa sikap mereka seperti seolah-olah tertukar, tidak sesuai dengan raga tubuh mereka masing-masing.


"Fani, udah istirahat saja, jangan lupa belajar meskipun kamu tidak sekolah tapi kamu tetap harus mempertahankan ingatan mengenai pelajaranmu di sekolah apalagi masa skors kamu selama seminggu loh," papar Leticia.


"Ya, Mbak aku pasti akan belajar di kamar kok." Kemudian Fani berlalu pergi, masuk ke dalam kamar.


Sejenak, Leticia menghempaskan tubuh di atas ranjang, dengan perasaan yang kecewa, ia menghentakkan kepalan tangan kiri ke tangan sebelah kanan. Lalu, ia meretuki kekesalannya pada Marks yang berani memberikan fitnahan keji padanya.


"Awas, ya lo, Marks! Suatu saat pasti gue akan bisa ungkapkan tindakan lo yang sok keren dan sok hebat sebagai seorang pembully," sumpah Fani saat menatap langit-langit kamar.


****


Di sekolah, Fano tampak menahan kesakitan, meski ia tetap berada di dalam kelas tapi rasa sakit itu tak bisa membuatnya fokus dalam belajar. Dia tetap mengerang kesakitan, setelah jam istirahat ia mengecek kondisi perutnya saat berada di dalam kamar mandi.


Ternyata perut itu tampak memar dan membiru. Saat disentuh pun terasa begitu menyakitkan, pantas saja Fano mengerang kesakitan tiada henti.


Sementara, saat keluar dari kamar mandi, Fano tidak sengaja lagi berpapasan dengan Marks. Fano hanya berjalan melintasi komplotan Marks sembari menundukkan kepala karena merasa ketakutan, ia tak berani melawan Marks sementara Marks dan teman-temannya hanya menertawai Famo saat berada di depan cermin, mereka sengaja tertawa terbahak-bahak dengan maksud mengejek Fano karena tak berani menatap wajah Marks saat melintas.


"Huuuu ... cupu!" teriak Marks seraya tertawa terbahak-bahak, lalu jemarinya menunjuk tubuh Fani yang bergetar saat melintasi beberap diantara mereka.

__ADS_1


Fano pun hanya bisa diam dan pasrah. Dia berjalan dengan cepat agar bisa keluar dari kamar mandi. Saat pulang sekolah, Fano langsung pulang ke rumah, dia tak ingin lagi bertemu komplotan Marks yang membuatnya semakin merasa sakit hati.


Entah kenapa Fano merasa dendam, jengkel bahkan ingin sekali rasanya membalaskan dendam yang selama ini terpendam jauh di dalam lubuk hatinya.


****


Fani bergegas ke memasuki kamar Fano untuk mencari sebuah buku yang ingin dipelajarinya. Namun ternyata terdapat keanehan di dalam kamar Fano, ia mendapati beberapa seragam yang tampak kotor yang memang sengaja belum disimpan di dalam keranjang baju kotor. Tak hanya itu, Fani juga melihat beberapa peralatan sekolah yang tampak rusak dan membuat Fani sedikit menaruh rasa curiga pada saudara kembarnya.


"Ada apa dengan, Fano? Kenapa banyak sekali baju yang kotor dan barang yang rusak," gumam Fani, mengedarkan pandangan dan menatap sekitar dengan penuh selidik.


Namun, akhirnya ia menghiraukan semua itu karena Fano adalah anak lelaki dan menurutnya itu sangat wajar jika dilakukan oleh pelajar laki-laki seperti mereka karena mereka sering terlihat aut-awutan atau sembarangan.


Fani kembali lagi ke kamar setelah mendapatkan buku yang ingin diambilnya, lalu ia duduk termenung sembari mengecam tindakan Marks yang suka berbuat semena-mena terhadap teman satu kelas. Setelah beberapa menit merenungkan diri, Fani kembali melanjutkan pelajaran secara mandiri.


Tak lama, tiba-tiba Fani mendengar jejak langkah kaki Fano yang baru saja pulang dari sekolah, beberapa jam terakhir Fani sangat sibuk belajar hingga ia lupa waktu bahwa hari ini sudah siang dan sudah waktunya Fano kembali dari sekolah.


Sementara Fano hanya mendelik dan menundukkan kepala, lalu masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan pertanyaan saudara kembarnya.


"Ih ... aneh disapa kok malah cuek aja," gerutu Fani, ia kembali masuk ke dalam kamar.


Karena Fani merasa khawatir akan mengganggu Fani jika terus mengusik dan bertanya pada saudara kembarnya itu, akhirnya Fano mengurungkan niat untuk mencecar saudara kembarnya.


***


1 hari berlalu ...

__ADS_1


Tiba di mana jadwal kemping akan segera dilakukan. Saat memasuki weekend, sesuai dengan janji Eric, satu keluarga itu tampak bersiap-siap untuk perkemahan yang akan segera didatangi.


Leticia tampak sibuk mengemasi barang suami serta adik-adiknya. Ia juga memerintahkan pada para maid untuk membawakan ke dalam bagasi mobil. Kemudian, Eric sudah mulai duduk di kursi sopir, ia menunggu istri dan adik iparnya untuk memasuki mobil.


"Fano, Fani, ayo ... buruan!" teriak Leticia dari ambang batas pintu.


Saudara kembar itu segera berlari menyusul keberadaan kakaknya dengan wajah yang ceria, lalu tiba-tiba berlari masuk ke dalam mobil.


Eric memang sudah menyewakan beberapa tempat private kemping yang sengaja di pesan khusus untuk keluarganya malam ini. Ia ingin memberikan liburan yang sangat istimewa bagi istri dan adik iparnya.


Tak hanya itu, Eric juga sudah menyiapkan camping yang sangat berbeda meskipun nantinya mereka tetap memakai tenda tapi tenda itu merupakan tenda yang luas dengan ranjang yang besar dan pemandangan yang sangat indah pegunungan.


Tak luput, Eric sengaja memilih kemping dibawah kaki gunung, sekaligus ingin menunggu dan melihat matahari terbenam hingga fajar terbit.


Satu keluarga itu, kemudian mulai berangkat pergi, mobil melaju menuju perkemahan yang sudah disewakan secara privat oleh Eric. Ia juga meminta kepada pihak perkemahan agar tidak ada pengunjung lain selain keluarga mereka.


Disisi lain, hanya membutuhkan waktu 30 menit saja untuk menempuh perjalanan, mereka sudah masuk ke dalam sebuah tempat perkemahan yang tempatnya sangat sejuk, asri dengan pemandangan yang sangat indah.


Kedatangan mereka saat sore-sore memang sangat tepat, karena hawa tidak terasa terik lagi. Hawanya sudah mulai terasa dingin, saat itu Eric juga sengaja menggunakan mobil Jeep agar bisa melalui jalan yang offroad sehingga mereka tidak kesulitan melalui perjalanan yang terjal dan curam.


"Wah, Mas keren banget tempatnya," puji Fani, saat mengedarkan pandangan.


Baru kali ini, ia datang ke tempat yang sangat dengan pemandangan yang eksotis. Sementara, Fano hanya bisa diam, ia tak mengucapkan apapun. Namun tatapannya penuh dengan nanar dan penuh harapan. Walaupun ia sebenarnya ingin sekali menikmati liburan itu tapi rasa sakit hatinya pada teman sekolah jauh lebih besar daripada rasa bahagia yang akan dilaluinya mulai hari ini.


Satu keluarga itu berhamburan setelah Eric memarkirkan mobil di kusus area perparkiran, mereka berjalan membawa tas masing-masing yang berisi barang-barang yang diperlukan selama menginap di perkemahan. Tak hanya itu, Leticia juga sangat terpukau dengan apa yang sudah disiapkan oleh suaminya.

__ADS_1


Perkemahan yang sangat luas dan besar, bernuansa putih membuat tempat itu tampak romantis. "Nggak salah ini, Tuan?" bisik Leticia seraya melirik suami yang sangat sibuk menggandeng kedua tas sekaligus.


__ADS_2