
Setelah selesai menikmati makan malam. Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Frederic dan Leticia.
Tok ... Tok ...
"Mbak Dei, tolong bukakan pintu," titah Frederic, yang masih bersantai di kursi makan, menurunkan isi perut.
"Iya, tuan." Dei langsung melangkah menuju ke arah pintu utama, menarik daun pintu itu dengan cepat.
Ia melihat wajah yang tak asing yakni Varrel Pratama. Ayah dari Frederic, malam itu mampir untuk menemui anak semata wayang beserta menantu kesayangannya.
"Silahkan masuk, tuan," kata Dei mempersilahkan Varrel duduk di ruang tamu.
"Mana Frederic?" sambar Varrel tak sabaran.
"Masih di meja makan, tuan, saya pamit ke belakang." Dei langsung berjalan ke arah dapur.
Ternyata, Varrel mengekori pembantu anaknya itu dari belakang.
"Ric, ayah datang!" teriak Varrel dengan lantang.
"Ayah, ada apa malam-malam kesini?" sahut Frederic, ia melangkah gontai menghampiri Varrel.
"Ayo, kita duduk di sana," titah Frederic, menunjuk ke arah ruang keluarga.
"Leticia, ayo ikut sama ayah," ajak Varrel.
Leticia juga langsung beranjak dari kursi, dengan rasa malas ikut bergabung dengan dua pria itu. Mereka duduk di ruang keluarga.
Dei pun membawakan teh serta cemilan untuk tuan besar mereka. "Silahkan diminum, tuan." Dei kembali ke belakang setelah memberikan minuman dan cemilan itu.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Varrel basa-basi.
"Baik, ayah," sahut Leticia cepat.
"Kita kan ketemu tiap hari di kantor, ayah? Ngapain bertanya lagi," sindir Frederic.
"Ayah, penasaran sama menantu ayah. Gimana sudah ada tanda-tanda kehadiran cucu untuk ayah?" timpal Varrel, menatap penuh selidik ke arah Leticia.
"Hahahha." Tiba-tiba saja Frederic tertawa keras, mengalihkan pandangan Varrel.
__ADS_1
"Kenapa, nak?" imbuh Varrel.
"Pertanyaan ayah konyol sekali," ledek Frederic tanpa rasa bersalah.
"Loh, konyol kenapa? Wajar orang tua bertanya hal itu pada anaknya, apalagi anak satu-satunya. Cucu itu penerusku, dan dia akan menemaniku dimasa tua," ujar Varrel.
"Aku mengerti, bersabarlah ayah. Saat waktunya tiba, Leticia akan hamil." Frederic menatap ke arah Leticia yang tertunduk.
"Iya, iya, baiklah. Yang terpenting, keluarga kalian baik-baik saja. Ayah, hanya ingin memberi kabar pada Leticia, pasti kamu belum menyampaikan padanya kan, Ric?" seloroh Varrel.
"Ada apa, Yah?" sergah Leticia, sebelum Frederic menjawab pertanyaan itu.
"Sejak hari ini, Frederic sudah menjadi CEO! Kamu pasti tidak tahu kan?" lontar Varrel, menatap penuh selidik.
Leticia menggelengkan kepala, benar saja dugaan pria paruh baya itu. Anaknya terlalu kaku untuk menyampaikan kabar bahagia pada istrinya sendiri.
"Kau ini, Ric." Varrel menepuk pundak Frederic dengan kencang.
"Aku lupa, Ayah!" sahut Frederic.
"Hal sepenting itu bisa kamu lupakan?" Varrel merasa tak percaya dengan anaknya.
"Aku terlalu sibuk hari ini, bahkan sampai ketiduran di ruang kerja," timpal Frederic.
Diusia senja, ia justru kerap bersenang-senang layaknya anak muda. Sifat Varrel sangat berbeda dengan sifat Frederic yang menuruni sikap sang ibu.
"Ayah, ini ada-ada saja." Frederic menolak seraya bergeleng.
"Iya, harusnya ayah banyak-banyak istirahat. Jaga kesehatan, jadi saat sudah tua nanti bisa menimang cucu dengan baik. Bukan malah berhura-hura di bar." Leticia menasehati sang mertua yang malah menyambutnya dengan gelak tawa.
"Jaga kesehatan itu perlu tapi lebih perlu lagi bersenang-senang menikmati sebelum masa tua kita berakhir." Varrel terkekeh membuat Frederic dan Leticia menatap tajam.
"Yasudahlah! Kalau kalian tidak mau, kalau begitu kita ganti perayaannya besok. Di rumah ini, ada kan party garden kecil-kecilan, undang seluruh rekan kerja dari kantor." Varrel tersenyum penuh sumringah.
Pria itu tua-tua keladi. Meskipun dia tetap mempertahankan status dudanya, bahkan tak berniat mengisi kekosongan posisi ibu Frederic. Cintanya hanya satu, pada ibu kandung Frederic saja.
Namun, sikap pria tua itu tak pernah berubah. Masih suka bersenang-senang, seperti anak muda, merasa dirinya tidak pernah menua.
"Baiklah, kalau itu yang ayah inginkan. Biar Leticia yang akan mengurus acara itu," terang Frederic, ia langsung menoleh ke arah Leticia, menatap dengan nanar penuh harapan agar wanita itu menuruti keinginan.
__ADS_1
"Iya, ayah. Percayakan saja padaku! Aku akan membuat party yang megah!" Besok sore, ajak semua rekan kantormu, sayang," ucap Leticia sok mesra.
Frederic mengangguk. Mereka berakting layaknya suami istri yang nyata. Sehingga tak menimbulkan kecurigaan bagi Varrel Pratama.
"Kalau begitu, ayah pamit pulang dulu. Kalian berdua siapkan acara sebaik mungkin. Jangan lupa, sediakan whiski, wine dan sejenisnya."
Varrel langsung berjalan gontai, melambai pada anak dan menantunya. Ia meninggalkan rumah dengan pintu yang masih terbuka lebar. Bahkan, ia sampai lupa meneguk teh yang disajikan oleh pembantu Frederic.
Tiba-tiba, Varrel berbalik lagi, dengan cepat ia menyeruput teh yang masih hangat itu. "Ayah lupa!" ucapnya seraya tersenyum, lalu berjalan ke arah daun pintu.
Setelah kepergian Varrel, Frederic dan Leticia kembali melanjutkan obrolan mereka di ruang keluarga.
"Jadi, besok mau bikin party seperti apa?" tanya Leticia.
"Bikin saja sesuai permintaan ayah, party garden di halaman belakang. Bikin semeriah mungkin agar seluruh tamu terpukau dengan acara itu."
"Baiklah, kalau begitu aku minta uang untuk mempersiapkan semuanya." Leticia menengadahkan telapak tangan ke arah Frederic.
"Sebelum itu, aku ucapkan selamat untuk jabatan barumu." Leticia menarik uluran tangannya, lalu memajukan kembali ke arah Frederic.
"Nanti aku berikan kartu ATM khusus untuk acara itu," ucapnya singkat.
Frederic langsung menarik tangan Leticia, mengajaknya ke dalam kamar. Sesampainya mereka di sana, Frederic mengeluarkan ATM dari dompet, memberikan pada Leticia.
"Ini gunakan sebaik mungkin. Tata partynya, pinnya tanggal pernikahan kita," jelas Frederic, lalu ia menghempaskan diri ke atas ranjang.
"Hah? Tanggal pernikahan kita?" batin Leticia.
Leticia berpikir ternyata Frederic menganggap tanggal pernikahan itu adalah tanggal penting. Leticia sendiri hampir melupakan tanggal tersebut. Namun, ia mengingat-ingat kembali, dan masih ada di memori ingatannya.
"Baiklah!" Leticia ikut berbaring di atas ranjang. Sebelumnya, ia menyimpan ATM pemberian Frederic ke dalam laci nakas.
"Berarti, besok aku tidak perlu bekerja ke Pratama Store?" imbuh Leticia, menatap ke arah Frederic.
"Tidak perlu, istri CEO tidak perlu bekerja lagi biar aku saja yang kerja!" tandas Frederic dengan tegas.
"Baiklah." Leticia sudah menyerah dengan keinginan untuk mencari uang. Lagipula, ada sang suami yang menafkahinya dengan keuangan yang melimpah sehingga ia tak perlu takut kekurangan uang seperti dulu.
******
__ADS_1
Suara kicauan burung membangunkan pagi Leticia. Ia berjalan gontai, beranjak dari kasur, di sana Frederic masih tertidur pulas karena waktu untuk ia bersiap berangkat ke kantor masih panjang.
Di dapur, Leticia meminta Dei untuk ke mall. Membeli barang-barang yang diperlukan. Tak hanya itu, Leticia juga menelepon EO untuk mengurus acara itu.