Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
Bab51


__ADS_3

Eric pun mengantarkan Leticia dan Fano kembali ke rumah, lalu ia bergegas menuju kantor. Sebelumnya, ia sudah memberi kabar pada sekretarisnya bahwa untuk mereschedule semua agenda yang sudah disiapkan hari ini.


Oleh karena itu, Eric akhirnya dengan santai pergi ke sekolah menemani Leticia—istrinya untuk menyelesaikan persoalan yang menimpa adik iparnya.


Di dalam perjalanan, Leticia tampak kesal dan menggerutu, ia memberikan sumpah serapah untuk Marks karena sudah tega melakukan perbuatan pada adiknya. Selain itu, Leticia justru memuji tindakan Eric yang sangat berwibawa dan cekatan menyelesaikan persoalan itu.


Bahkan, Leticia tak menyangka keinginannya pun tercapai untuk mengeluarkan Marks dari sekolah itu meskipun pada akhirnya Marks tetap bisa melanjutkan studynya di sekolah lain.


"Aku kesal sekali, kenapa ada anak seperti tadi. Padahal mukanya sangat polos tapi kenapa dia bisa bersikap kejam." Leticia mengamuk seraya menatap sinis jalanan.


Sontak saja, tingkah Leticia yang menggemaskan membuat Eric terkekeh karena ia baru tahu sifat Leticia yang satu ini. Bahkan dia bisa menyampaikan kekesalannya di depan sang suami.


"Yang terpentingkan persoalan itu sudah selesai jadi kamu sudah merasa lega, apalagi Fano sudah tidak ada lagi yang mengganggunya, apalagi sampai hati memukulinya, jadi di sekolah Fano akan merasa lebih tenang lagi, dia juga sudah bisa bergaul dengan teman-teman yang lain dan tidak akan stres dengan adanya tindakan pembullyan seperti itu," terang Eric panjang lebar


"Ya, Mas terima kasih banyak sudah membantu Fano sehingga bisa mengusir Marks dari sekolahan, persoalan ini pun bisa berakhir dengan baik, mudah-mudahan tidak ada lagi anak-anak di sekolah yang berani bersikap seperti Marks," ujar Fano seraya mengeluarkan nafas beratnya.


"Seharusnya kamu juga jangan diam saja kalau ada yang menyakitimu, lawan saja jangan takut agar kamu tidak menjadi korban seperti saat ini," erang Eric.


"Iya, Fano kamu jangan diam saja kalau ada yang bully, lawan dia dan jangan takut. Apa perlu Mbak masukkan kamu pelatihan bela diri?" Leticia dengan semangat yang menggebu-gebu menyampaikan pendapatnya, sebab ia semakin kesal jika mengingat bahwa adiknya sempat mendapatkan pembullyan.


"Hehehe ... Mbak, bisa aja tapi boleh juga sih, Mbak kayaknya aku harus ikut latihan bela diri agar tidak takut lagi pada orang-orang kejam seperti Marks," balas Fano sembari terkekeh.


"Bagus itu, seorang laki-laki jangan takut jika diajak temannya berantem, dia harus berani melawan. Jadi kamu harus tunjukkan nyalimu untuk melawan orang-orang seperti mereka," tambah Eric seraya fokus mengemudikan setir.

__ADS_1


"Iya, Mas nanti aku bakal cari tempat pelatihan beladiri yang lebih bagus agar aku bisa mendapatkan ilmu beladiri dan punya nyali besar," jawab Fano.


Karena keasyikan mengobrol di dalam perjalanan, ternyata mobil Eric sudah sampai di halaman rumah, ia menurunkan istri dan iparnya lalu berpamitan pergi untuk menuju kantor.


"Cia, Mas pamit dulu!" kata Eric dengan menyematkan panggilan mas dalam ucapan tersebut.


Sontak saja, hal itu membuat Leticia tampak bingung dengan wajah yang datar.


Mas apa dia ingin dipanggil Mas bukan Tuan lagi?


Leticia larut dalam pikiran sembari mengerutkan kening. Menatap binar wajah Eric yang datar saat menungggu jawabannya.


"Ya, Mas hati-hati. Terima kasih banyak sudah membantu," sela Leticia sembari melambaikan tangan.


Setelah ia memastikan suaminya telah berangkat dengan aman, lalu ia tersenyum-senyum sendiri ketika mengingat panggilan yang disematkan oleh Eric padanya. Entah mengapa ia merasa malu apalagi Eric sudah mengatakan seperti itu di depan adiknya sendiri.


Panggilan yang disebutkan Eric sepertinya memang sangat cocok jika selalu digunakan oleh Leticia.


"Memanggilnya dengan sebutan Mas memang lebih cocok!" ujar Leticia sembari tersenyum-senyum sendiri.


Sementara Eric merutuki kebodohannya karena tak sengaja mengucap secara spontan dengan panggilan Mas. Di dalam perjalanan, Eric berkali-kali membanting setir karena kesal karana ucapan spontan itu membuatnya malu bukan kepalang.


Wajahnya bahkan kini memerah bak kepiting rebus tapi dia juga akhirnya tersenyum seraya meratapi kebodohannya.

__ADS_1


"Aishh!! Pasti Leticia sudah berpikiran buruk dan bisa-bisa dia menganggapku memang sengaja seperti menggodanya!" desah Eric seraya larut dalam pikiran sendiri menatap jalanan yang sepi.


"Tapi sepertinya aku harus mengubah panggilan Tuan menjadi sebutan Mas karena itu lebih cocok untuk Leticia. Kalau dia memanggilku dengan sebutan Tuan justru akan terlihat timpang antara statusku dengannya," batin Eric, seraya melajukan mobil dengan cepat.


Setelah tiba di kantor, Eric buru-buru menyelesaikan pekerjaan, ada beberapa pekerjaan yang semakin menumpuk di atas meja kerja. Selain itu, lantaran jadwalnya pun semakin mundur, tampaknya ia harus lembur untuk bertemu karena harus bertemu dengan para kolega yang sudah berjanji dan membuat pertemuan dengannya.


Melihat kedatangan bosnya, Nia menghampiri sang bos di ruang kerja. Ia menyampaikan bahwa hari ini, ada beberapa jadwal meeting yang telah menanti. Oleh karena itu, Nia membeberkan semua jadwal Eric agar pria itu mempersiapkan dirinya meski tidak perlu tergesa-gesa.


Tok tok tok ...


Di depan pintu, Nia meminta izin dulu pada bosnya agar ia diperbolehkan masuk. Eric pun berteriak menjawab untuk memperbolehkan masuk. Nia masuk membawa sebuah iPad yang berisi jadwal kerja Eric hari ini.


"Selamat siang, Pak hari ini kita harus berkunjung ke beberapa anak perusahaan untuk memastikan bahwa operasionalnya tetap berjalan dengan lancar. Kemudian kita juga ada meeting dengan beberapa kolega dan sepertinya Bapak harus melanjutkan meeting hingga malam hari," seru Nia sembari membacakan semua jadwalnya dengan jelas.


"Baiklah, kamu atur saja, Nia. Saat ini saya akan menyelesaikan pekerjaan yang ada di meja kerja. Kemudian nanti sesuai dengan jadwalnya, kita akan pergi segera meeting dengan kolega yang sudah dijadwalkan untuk hari ini. Di mana rapatnya?" sambung Eric, seraya menatap datar sekretarisnya.


"Hari ini rapatnya ada di luar kantor semua, Pak. Mungkin setelah kita mengecek beberapa anak perusahaan, kita bisa langsung ke sana, ada di restoran dan hotel yang dekat salah satu anak perusahaan," tutur Nia.


"Dalam 30 menit lagi saya akan segera keluar, silakan kamu kembali ke meja kerjamu," usir Eric, sembari sibuk menatap semua berkas yang sudah dibuka dengan lebar.


"Baik, Pak saya pamit dulu." Nia pun langsung keluar dari ruangan, ia memberikan waktu pada Eric untuk menyelesaikan pekerjaan.


Sebab, banyak berkas yang harus ditandatangani serta harus dibaca oleh Eric, termasuk beberapa lembaran berkas yang berisi MOU untuk beberapa koleganya.

__ADS_1


__ADS_2