
"Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan persoalan adikmu saya akan mengurus semuanya dan membuat anak itu jera!" ujar Eric sekali lagi meyakinkan Leticia.
"Tuan, terima kasih banyak atas bantuanmu, aku bukanlah siapa-siapa kalau tidak ada kamu. Jadi aku sangat berterima kasih karena kamu sudah mau peduli pada keluargaku," ujar Leticia seraya tertunduk, ia tak berani menatap wajah Eric yang sangat mengamuk dengan menggebu-gebu.
Tak terasa, hari semakin larut, bahkan Leticia sudah sangat merasa lelah. Akhirnya, ia memilih untuk mengistirahatkan tubuh di atas ranjang. Meski emosi Eric masih memuncak, tetapi di sinilah kesempatan Eric untuk mulai menghilangkan amarahnya.
Satu-satunya cara dengan melampiaskan hawa nafsunya pada tubuh wanita itu, setiap inci pada tubuh wanita itu selalu dipandang olehnya. Apalagi Leticia sangat tidak sadar kalau Eric terus memandangi wajah dan tubuhnya.
"Tuan, aku tidur duluan. Soalnya aku tadi sangat lelah karena bolak-balik karena seharian pergi ke rumah sakit," tutur Leticia, sembari menguap dengan lebar, lalu menutup dengan kedua tangan karena merasa malu jika mulutnya terbuka sangat lebar di depan suaminya.
"Baiklah, silakan saja tidur, saya masih ada pekerjaan," sahut Eric, sengaja masih menggunakan bahasa yang baku untuk menutupi perilakunya yang sengaja agar tampak dingin dan datar.
Apalagi malam ini, ia ingin mendapatkan sesuatu yang sangat istimewa dari tubuh istrinya.
Detik-detik Leticia mulai memejamkan mata, tak lama ia langsung tertidur pulas. Eric yang melihat kesempatan itu langsung tersenyum dengan penuh kemenangan sembari berdecak penuh arti. Ia bahkan sudah tak sabar untuk menyentuh tubuh wanitanya.
Namun satu hal yang saat ini dilakukan oleh Eric yaitu mencari surat kontrak yang disimpan oleh Leticia, ia ingin menyembunyikan surat kontrak itu agar Leticia tak lagi berencana untuk menggagalkan pernikahan mereka, alias membatalkan kontrak pernikahan tersebut.
Lalu Erik merogoh lemari dan melihat brankas milik Leticia, di sana ternyata memiliki pengamanan dengan kode sandi yang sangat sulit. Berkali-kali, Eric memasukkan kode sesuai dengan tanggal lahir, tanggal pernikahan bahkan tanggal kematian ibu Leticia, tetapi selalu tidak cocok dengan password brankas tersebut.
__ADS_1
Eric merasa menyerah dan kembali menutup lemari itu. Kemudian, ia duduk di tepian ranjang seraya menatap lekat wajah istrinya yang sangat lelah dan pulas.
Setelah mengguncang tubuh Leticia untuk memastikan bahwa wanita itu benar-benar sudah tertidur pulas, akhirnya Eric mulai melayangkan tangannya. Eric memasukkan satu tangan ke dalam baju sang istri, itulah hal yang pertama dilakukannya yakni merematt gunung kembar itu dengan lembut secara perlahan-lahan.
Ia semakin larut dalam sentuhannya, tangannya itu mulai mengarah ke yang lainnya. Ia memegang setiap inci tubuh wanitanya dengan lembut dan penuh nafsu.
Tangan Eric mulai meraba sekujur tubuh Leticia mulai dari leher, dada, perut, paha hingga ujung kaki. Semuanya tak boleh dilewatkan, ia merabanya dengan sangat lembut dan menikmati setiap sentuhan yang dilayangkan kepada istrinya.
Kali ini, Eric juga sengaja membuka seluruh pakaian yang menutupi tubuh Leticia. Entah kenapa dia merasa yakin bahwa Leticia tak akan terbangun dari tidurnya. Mulai dari baju dan celana, semuanya dihempaskan secara acak ke arah lantai, termasuk dalaman perempuan itu pun sudah terlempar entah ke mana.
Eric menatap tubuh ramping yang dimiliki istrinya. Dia semakin tergiur dan susah payah menelan shalivanya yang berkumpul di ujung kerongkongan, tak lama ia pun mulai melucuti tubuh istrinya menggunakan bibir bukan lagi tangannya.
Bahkan, tubuhnya berdesir hebat, bulu-bulunya meremang, saat Eric menjulurkan lidah dan semakin lihai untuk menyesap kulit itu secara perlahan-lahan.
Leticia yang tertidur seakan-akan merasakan mimpi yang terasa nyata. Sayangnya, Leticia tak kunjung bisa membuka mata seperti ada yang sengaja menahan pelupuk matanya agar tidan terbuka. Ia seperti terjebak dalam mimpi yang aneh dan nikmat.
Leticia merasakan keanehan pada tubuhnya saat Eric terus saja menikmati tubuh indahnya, bahkan Eric memeluk Leticia dengan lembut, tangannya pun merematt bagian bawah Leticia dengan lembut sehingga perempuan itu mendesahh tak henti-henti.
Suara ******* itu pun membuat Eric semakin bersemangat dan tak kunjung menyelesaikan permainannya. Saat ia sedang merasakan nafsu memuncak lantaran sibuk terus maraba tubuh istrinya.
__ADS_1
Namun sesuatu yang ada di bawah sana sudah menukik dengan tajam. Ia ingin mengeluarkan lahar yang sudah ingin muntah rasanya. Ingin sekali Eric melakukan penyatuan kepada Leticia secara diam-diam. Tetapi dia menghormati wanita itu, dengan cara mempertahankan kehormatannya sampai Leticia yang menyerahkannya dengan pasrah.
Melihat tubuh Leticia yang tak berbalut kain sehelaipun, akhirnya Eric mengambil posisi di atas tubuh Leticia. Ia hanya sebatas bersentuhan dengan tubuh wanita itu, mengusap-usap secara perlahan agar lahar itu segera muntah.
Usahanya tak sia-sia. Bahkan ia berhasil dalam waktu yang singkat, hanya memakan waktu 5 menit ia sudah memuntahkan lahar putih yang kental di atas perut Leticia.
Usai memenuhi hasratnya, tak lupa Eric meninggalkan jejak tanda cinta di leher jenjang milik Leticia tapi tanpa merasa khawatir bahwa Leticia akan mengetahuinya.
"Padahal hanya dari luar saja, sekedar tergesek tapi kenapa terasa nikmat sekali. Apalagi jika itu benar-benar masuk ke dalam sana, pasti akan membuat aku semakin ketagihan untuk terus-terussn melakukan penyatuan dengan perempuan ini," batin Eric seraya memeluk tubuh istrinya setelah membersihkan perut Leticia dengan baju miliknya.
Karena Eric sudah merasa lelah dan puas, akhirnya ia kembali membersihkan diri dan menggantikan baju yang telah kotor terkena muntahan lahar. Dia juga memakaikan baju Leticia, untung saja saat malam ketiga kali ini, ia benar-benar berhasil mengelabui Leticia dan membuat perempuan itu tidak sadar bahwa tubuhnya sudah dinikmati oleh suaminya sendiri.
"Besok, lusa ataupun seterusnya, aku akan selalu menyentuhmu agar kamu terikat padaku. Bagaimanapun kamu adalah milikku, Cia!" bisk Eric di sisi telinga Leticia.
Entah kenapa suara Eric itu seperti terdengar dan merasuki pikiran Leticia. Ia merasakan perkataan Eric yang terdengar sangat jelas meski menurutnya hanyalah sebuah mimpi belaka.
Tak berselang lama, karena sudah merasa lelah, Eric pun mengikuti jejak istrinya. Ia terlelap dengan senyum yang lebar lantaran sudah berhasil memuaskan hawa nafsunya untuk malam ini.
"Aku harus bisa mendapatkanmu! Kamu akan menjadi milikku seutuhnya, Cia! Lihat saja nanti, surat kontrak? Hah ... itu akan menghilang dari muka bumi ini!" batin Eric, sembari menyipitkan bola matanya.
__ADS_1