Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
Bab66


__ADS_3

Disatu sisi, Leticia tampak bingung dengan jawaban yang ada di seberang telepon, ia menggaruk kepala karena merasa aneh dengan panggilan yang disematkan Eric kepadanya.


Akhirnya dia tersadar dan mengatakan untuk meminta izin membeli barang bermerek yang dilihatnya di butik tersebut


"Halo, Mas aku mau minta izin karena aku bersama Fani sedang melihat-lihat butik, jadi aku menginginkan salah satu tas menggunakan uang yang ada di ATM atau kartunkredit. Walaupun aku memegang atm-nya tapi aku tidak bisa sembarangan untuk menggunakan uang yang ada di dalamnya, bolehkah aku gunakan uang itu?" tanya Leticia.


Mendengar permintaan izin itu, jantung Eric berdegup begitu cepat. Baru kali ini, ia mendengar Leticia benar-benar meminta izin padanya. Leticia tampak menghormatinya sebagai seorang suami. Sontak hal itu, membuat Eric luluh dan merasa bangga, tanpa pikir panjang, dia langsung menyetujui dan mengizinkan Leticia untuk memiliki tas yang disukainya.


"Beli saja, jangan khawatir, gunakan saja uangku semaumu!" tutur Eric dengan bangga.


Dia benar-benar bersungguh-sungguh mengucapkan hal itu, bukan karena diperhatikan oleh para pejabat perusahaan ataupun sekretarisnya.


"Serius, Mas berarti aku boleh membeli tas dan baju untuk Fani sekaligus meskipun harganya mahal?" cecar Leticia semakin meyakinkan suaminya agar tak berubah pikiran.


"Ya, aku serius! Kalau begitu lanjutkan saja kegiatanmu, aku harus melanjutkan pekerjaanku," tandas Eric berpamitan.


Telepon pun diakhiri setelah Leticia menjawab dengan kata "Iya."


Mereka kembali melanjutkan kegiatan masing-masing. Leticia sedang sibuk untuk menyelesaikan proses pembayaran pembelian jaket dan tas branded miliknya bersama sang adik.


Bahkan, ia menghabiskan ratusan juta hanya untuk hari ini, tas yang dia beli ternyata nilainya sangat mahal bahkan mencapai 100 juta. Ia pun terkejut karena tadi tidak sempat memastikan nominal angka pasti harga tersebut. Entah kenapa Leticia merasa menyesal setelah membeli sebuah tas yang bernilai harganya ratusan juta rupiah.

__ADS_1


Keduanya keluar dari butik yang mewah untuk penjualan barang branded. Saat berjalan beriringan, Leticia dan Fani tengah menggerutu mengomentari tentang barang yang baru saja mereka beli. Paper bag yang mereka tenteng terlihat sangat jelas sehingga menarik perhatian orang-orang.


Namun, ingin sekali rasanya Leticia mengenakan tas itu, lantaran ia merasa kesal karena telah menghabiskan uang ratusan juta hanya dalam beberapa menit saja.


Ini adalah kali pertama Leticia berbelanja dengan harga yang sangat besar, sebelumnya ia tak pernah menikmati hal-hal yang seperti itu, andai saja dia tidak menikah dengan Eric maka ia tidak akan menikmati uang Eric begitu saja tanpa usaha apapun.


"Kenapa, ya aku merasa menyesal setelah Mbak membayar jaket ini!" keluh Fani seraya mengerutkan kening.


"Kamu yang membeli itu tanpa mengeluarkan uangmu sendiri merasa menyesal. Apalagi aku yang mengeluarkan uang sampai ratusan juta hanya untuk dua barang ini," sesal Leticia sembari mengeluarkan nafas kasar.


"Aneh, ya, Mbak waktu kita belum bayar justru semangat sekali untuk mengambil barang-barang ini tapi kenapa pas sudah membayarnya kenapa malah menjadi menyesal dan merasa sayang duit," papar Fani.


"Begitulah orang kaya, Mbak mereka pasti saat berbelanja tidak pernah memikirkan uang yang akan dikeluarkan, berbeda dengan kita yang orang kaya baru pasti kita merasa menyesal sudah membeli barang-barang mahal seperti," beber Fani.


Keduanya pun melenggang menyusuri beberapa butik lagi, entah mengapa Leticia belum merasa puas dengan hasil belanjaannya, ia ingin menambah beberapa baju untuk mengisi lemari. Begitu juga dengan Fani yanf sangat semangat menemani Leticia bahkan berharap dibelikan oleh sang kakak.


"Bagaimana kita ke sana dulu!" Leticia menunjuk salah satu butik, lalu menarik lengan adiknya, mereka masuk ke dalam sebuah butik dan di sana ternyata terlihat baju-baju sederhana tetapi harganya bernilai gila-gilaan.


Fani meneliti beberapa barang, ia menatap dan memastikan harga melalui price tag yang ada di gantungan baju. Betapa terkejutnya Fani saat melihat harga yang tertera di sana bernilai jutaan rupiah sehingga Fani mengurungkan niat untuk membeli beberapa baju dari butik tersebut.


"Mbak serius mau belanja di sini?" bisik Fani saat menghampiri sang kakak, saat itu Leticia tengah asik melihat-lihat beberapa baju yang memikatnya.

__ADS_1


"Iya, kelihatan bajunya sederhana bahkan bagus juga deh kalau sepintas dilihat dari kualitasnya secara kasat mata." Leticia berkata apa adanya tanpa ia ketahui bahwa harga baju ternyata sangatlah mahal.


"Iyalah, Mbak meskipun terlihat tersederhana, kualitas memang bagus, harganya juga tidak bohong," sahut Fani semakin greget mendengar perkataan kakaknya.


"Loh ... emang harganya berapa? Paling standarnya nggak nyampe jutaan lah kalau baju seperti ini," tampik Leticia.


"Coba deh Mbak lihat dulu sendiri, di price tag harganya itu benar-benar gila. Pasti buat Mbak terkejut bukan kepalang," tutur Fani seraya mengambil satu baju secara acak dan memberikan pada kakaknya.


Leticia meraih baju yang diulurkan oleh Fani, lalu matanya terbelalak dengan lebar saat melihat harga baju itu hampir mencapai 5 juta rupiah padahal hanya untuk 1 kemeja saja. Sepertinya Leticia pun kembali mengurungkan niat untuk berbelanja di butik itu, lantaran ia sudah menghabiskan ratusan juta dalam beberapa menit tadi.


"Gila ... kita keluar dari sini aja deh, Fan cari butik lain," seru Leticia, lalu menggenggam tangan adiknya dan mereka beriringan berjalan keluar dari butik.


Meskipun butik itu adalah butik yang mahal tetapi pelayan hanya menatap dari kejauhan, mereka sengaja tidak ingin membuat para customer merasa tidak nyaman jika selalu di ekori dalam proses pembelanjaannya.


Selain itu, karena merasa harga baju-baju yang terpajang tidaklah sangat ramah kantong, akhirnya Leticia bergegas keluar bersama sang adik. Keduanya mencari butik lain untuk mencari beberapa helai baju yang akan mereka beli nantinya.


"Kok bisa sih, satu kemeja kayak gitu aja harganya 5 juta!" omel Leticia dengan ketus sembari mendelik.


"Mbak, sih nggak percaya, dibilangin memang bajunya kelihatan sederhana tapi harganya gila banget," tutur Fani menggebu-gebu, ia berjalan beriringan dengan sang kakak.


"Itulah enaknya jadi orang kaya, mereka malah nggak pernah memikirkan harga barang seperti itu jika berbelanja. Pasti mereka langsung ambil saja. Mbak sebenarnya ingin sekali seperti itu tapi merasa tidak enak dengan mas Eric jika dalam sehari Mbak bisa menghabiskan ratusan juta seperti hari ini," timpal Leticia panjang lebar seraya mendumel lantaran kesal.

__ADS_1


__ADS_2