Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab57


__ADS_3

Erik dan Nia buru-buru menghampiri seorang kolega yang sudah menunggu sejak tadi, mereka memang terlambat 10 menit karena tadi asik berbincang dengan kolega yang sebelumnya. Setelah bertemu, seorang kolega itu menyambut mereka dengan ramah meskipun mereka datang dengan waktu yang terlambat.


"Maaf sekali, Pak saya terlambat, tadi terlalu lama berbincang dengan kolega yang sebelumnya," beber Eric, sembari menjabat tangan pria itu.


Anehnya, pria itu memakluminya bahkan tidak menegur sama sekali. Sebab, sang kolega sudah sejak lama bekerjasama dengan perusahaan Varrel grup.


Meski baru berganti kepemimpinan, perusahaan Eric memang sudah sejak lama bekerjasama dengannya. Kini, Eric baru menggantikan posisi ayahnya.


"Tidak apa-apa, Pak Eric saya sabar kok menunggu," tutur pria itu, sembari tersenyum dengan lebar.


Pria itu berbicara dengan sangat ramah, sebelumnya kolega itu memang sangat dekat dengan Varrel Pratama. Ketika ia mendengar bahwa Varrel telah mengundurkan diri dan digantikan oleh anak semata wayangnya, ia sedikit merasa kecewa.


Namun, pada akhirnya pria itu sangat menyambut baik pergantian posisi itu. Ia juga kini mengakrabkan diri dengan Eric agar kerjasama mereka tetap terjalin. Sebab pria itu memiliki keuntungan bahkan mencapai 100% dari investasi yang ia masukkan ke dalam perusahaan Varrel grup.


Pertemuan itu berlangsung tepat hingga jam 12 malam, mereka asyik berbincang sembari menyantap makan malam hingga mengopi bersama. Kemudian, Eric menyudahi pertemuan, dan akhirnya berpamit pergi setelah menyelesaikan persoalan kerjasama yang akan dilanjutkan oleh koleganya setelah membuat keputusan bersama.


"Maaf, Pak pertemuan ini berlangsung pada malam hari karena memang Bapak mengundur kam jadwalnya. Saya minta maaf sekali karena menggunakan waktu Bapak hingga larut malam," ujar pria paruh baya itu dengan santun.


"Tidak apa-apa, Pak justru saya yang salah karena saya yang meminta agar jadwalnya direschedule. Memang semua jadwal meeting saya bersama para kolega dan investor diundur semua. Oleh karena itu, saya juga meminta maaf pada bapak karena sudah bersikap semaunya," pinta Eric dengan serius.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu karena kita semua sudah terlalu malam berada di sini, nanti istri saya juga mencari-cari keberadaan saya!" canda pria itu sembari berpamit pergi.


"Baik, Pak kapan-kapan kita akan mengobrol lagi dan membicarakan soal bisnis," ujar Eric.


Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu Eric telah tiba, ia sudah mengentaskan seluruh pekerjaan hingga larut malam. Tepat pada pukul 12 malam, Eric pun bersama Nia segera pulang. Bahkan, Eric sengaja mengantarkan sekretarisnya karena ia merasa tidak enak jika sekretarisnya itu harus pulang sendirian ke rumah. Apalagi sudah tengah malam begini, bisa-bisa Nia mendapatkan marabahaya di tengah jalan.


"Kalau begitu saya naik taksi aja pulangnya, Pak," celetuk Nia dengan tiba-tiba sebelum mereka menuju ke parkiran.


Namun Eric mencegah kepergian Nia, ia meminta agar perempuan itu ikut bersamanya dan mengantarkan hingga ke rumah. Ini adalah kali pertama Eric mengantarkan seorang wanita meski hanya sekedar sekretaris.


"Apa tidak apa-apa, Pak nanti istri bapak marah lagi," seru Nia.


"Nggak masalah kok, justru saya yang khawatir jika kamu pulang sendirian apalagi tengah malam seperti ini, kita tidak tahu kan kalau tiba-tiba terjadi sesuatu di tengah jalan," keluh Eric.


Eric langsung mengajak Nia ke parkiran, mereka kembali ke mobil. Eric lantas melajukan mobil itu dengan kecepatan yang sedang. Bahkan ia menanyakan alamat untuk mengantarkan Nia ke sana.


"Tolong arahkan jalannya, Nia! Saya tidak tahu di mana rumah kamu berada," pinta Eric, seraya sesekali melirik wajah sekretarisnya.


Sejak tadi, Eric memang tidak pernah mengabari istrinya. Bahkan ia tidak pernah memberitahukan jadwal kerjanya. Sebab, Eric merasa gengsi jika harus mengkomunikasikan dpersoalan pekerjaan dengan Leticia serta ia menganggap Leticia tidak akan mengerti.

__ADS_1


Tak hanya itu, Eric juga sungkan jika harus berkomunikasi dengan Leticia. Apalagi selama ini yang ia lakukan bersama Leticia hanya sekedar menjaga hubungan antara sebatas suami istri kontrak yang hanya berlangsung semasa di rumah saja. Tidak saat berada di luar rumah.


"Pak, besok kita juga ada meeting pagi-pagi. Jadi Bapak harus datang cepat, jangan sampai terlambat," ungkap Nia mengingatkan kembali tentang rapat yang akan berlangsung di kantor.


"Oh ... kita ada rapat pagi lagi?" tanya Eric sembari menggaruk-garuk tengkuk dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya sibuk memutar kemudi stir.


"Ya, Pak besok ada rapat dengan para pemilik saham, mereka semua meminta kejelasan tentang saham Varrel grup, mereka ingin agar saham itu tetap bertahan dan tidak terjadi penurunan!"


"Kalau itu sih mereka harusnya tenang saja. Lagian saham Varrel grup tetap bertahan kok, dia tidak akan mengalami penurunan jadi para pemilik saham tidak perlu khawatir," beber Eric dengan santai.


"Apa Bapak sudah melihat pasar saham hari ini? Justru mereka meminta digelar rapat karena terjadi penurunan hingga 20% loh," sahut Nia, menatap bosnya penuh selidik.


"Apa? Terjadi penurunan? Saya belum mengecek bursa saham hari ini lantaran terlalu sibuk menyelesaikan seluruh pekerjaan yang sudah dijadwalkan apalagi saat pagi saya juga sibuk dengan urusan keluarga." Eric berpikir keras karena memang ia belum melihat nilai saham perusahaan.


"Iya, Pak makanya kita menyelenggarakan rapat dengan pemilik saham karena mereka protes adanya penurunan harga saham di pasaran. Oleh karena itu mereka meminta kejelasan dari pihak dari CEO Varrel grup," imbuh Leticia.


"Sudahlah, sepertinya saya akan melanjutkan untuk melihat nilai saham saat tiba di rumah nanti. Apa penyebab terjadinya penurunan saham hari ini?" tandas Eric.


"Apa Bapak tidak tahu terjadi satu permasalahan di salah satu anak perusahaan Varrel grup, karena ada tindakan dari salah satu karyawan," beber Nia memberitahukan secara gamang pada bosnya.

__ADS_1


"Masalah apa lagi sih?" timpal Erik menggerutu.


"Itulah yang menjadi misteri, Pak karena kita belum berhasil mengungkapnya tapi rumor yang beredad dari karyawan, katanya ada satu kecelakaan yang terjadi di anak perusahaan makanya mempengaruhi harga saham," tutur Nia panjang lebar.


__ADS_2