
Ia khawatir permasalahan Fani terdengar ke telinga Frederic sehingga menimbulkan masalah baru.
"Ceritakan sama mbak, ada masalah apa kamu di sekolah?" cecar Leticia, dengan nada yang lembut agar sang adik mau mengaku.
"Ehm ... aku berkelahi dengan teman sekelasku, mbak!" Fani masih tertunduk, ia takut akan dimarahi oleh Leticia.
"Kok bisa? Siapa yang memulai?" tanya Leticia, menatap tajam ke wajah Fani.
"Dia duluan mbak, jujur aku tak mau menyakitinya. Dia bukan lawanku, tetapi karena aku diposisi terjepit, akhirnya aku lawan!" tegas Fani, menirukan gaya meninju dengan kepalan tangan.
"Yasudah! Jangan khawatir, bila kau tidak bersalah jangan takut. Mbak akan mendukungmu! Besok pagi-pagi mbak akan memenuhi panggilan gurumu!" Leticia semakin geram takut sang adik kena kasus pembullyan.
*****
Setelah bekerja seharian, Frederic pulang dengan wajah yang lesu. Pekerjaannya memang sudah selesai tapi tidak ada semangat setelah tiba di rumah. Ada sedikit pekerjaan yang mengganggu pikiran.
Leticia dengan wajah datar menghampiri Frederic. Tampak kesedihan pada raut wajah pria itu. Leticia bahkan enggan menyapa.
Dengan dingin, Leticia menghampiri suaminya yang sedang duduk di tepian ranjang. Memberanikan diri untuk menyapa dan menanyakan kabar sang suami hari ini.
Semenjak menikah, memang kedekatan belum terjadi antara Frederic dan Leticia. Mereka saling menjaga jarak satu sama lain, meski akhirnya kejadian tak terduga kerap terjadi.
"Tuan, ada masalah?" tanya Leticia, mulai memberanikan diri membuka obrolan diantara mereka.
"Tidak," jawabnya singkat.
Leticia mulai buntu saat mendapatkan jawaban singkat suaminya. Ia juga duduk di sebelah Frederic, bahkan mereka tak berani saling menatap.
"Mau kopi?" tawar Leticia.
"Tidak," jawab Frederic singkat lagi.
Leticia yang mendengar jawaban pria itu semakin malas untuk berbasa-basi. Sebab, jawabannya hanya sekedar singkat dan jelas. Tak ada alasan untuk meneruskan obrolan mereka.
Frederic beranjak dari ranjang, mengambil ipad yang tersimpan di tas kerja. Ia mulai membaca lagi soal anak perusahaan yang menyita pikirannya hari ini.
Bagaimana mungkin seorang ayah menyembunyikan anak perusahaan yang telah berkembang pesat. Sulit sekali untuk mencerna pikiran Varrel Pratama. Padahal, jika Varrel menjelaskan sejak awal, Frederic tak akan kesulitan mengikuti kinerja perusahaan.
__ADS_1
Kini, pekerjaannya menumpuk. Banyak hal yang harus dikerjakan dan diurus. Menyita waktu dan perhatian Frederic, ia semakin pusing untuk mengerjakan semua hal sekaligus.
Satu masalah lagi, satu anak perusahaan sedang diambang batas kehancuran. Perusahaan itu hendak kolaps, bahkan tak ada alasan untuk mempertahankan perusahaan tersebut.
Frederic memang belum mendatangi langsung anak perusahaan yang berdiri dibidang surat kabar itu. Ia hanya meninjau lewat lembaran berkas yang menumpuk di salah satu berkas di meja kerja.
"Ahhh!" desah Frederic, memijit pelipis yang terasa memusingkan.
Ia ingin mengkomunikasikan mengenai anak perusahaan yang hampir tutup karena tak ada lagi pembacanya. Pratama News, salah satu anak perusahaan yang dimiliki Varrel, dibangun sejak tahun 1990.
Di masa mendatang, perusahaan yang bergerak dibidang pemberian kabar berita melalui media cetak surat kabar atau koran itu tak lagi diminati. Banyak masyarakat yang beralih ke media online.
Ditengah gencaran maraknya media online, kini surat kabar tak laku lagi. Banyak orang yang mengurangi pengeluaran mereka hanya untuk mendapatkan satu koran di pagi hari.
Kini, masyarakat lebih suka menatap layar ponsel dibandingkan harus membaca lembaran koran yang lebar dan besar. Tulisan kecil juga turut memusingkan bola mata.
"Apa aku harus menutupnya? Atau mempertahankannya?" ujar Frederic dengan lirih, menatap sejarah perusahaan yang ada di ipad.
Status mengenai perusahaan Pratama News belum diketahui oleh Varrel. Selama ini, ia menganggap perusahaan itu cukup berkembang ditengah sengitnya persaingan penyebaran media cetak.
Leticia mengamati suami kontraknya dari kejauhan. Frederic yang duduk di kursi rias sembari menatap ipad hanya mengeluh sejak tadi. Alhasil, tingkah Frederic sangat menyita perhatiannya.
"Kenapa, Tuan?" tanya Leticia, yang terganggu dengan pikiran suaminya.
"Aku pusing." Frederic tetap fokus memperhatikan data-data mengenai perusahaan Pratama News.
"Pusing kenapa?" Leticia semakin penasaran, ia berharap pembicaraan mereka berlanjut, saling bertukar pikiran justru membuat Leticia lebih baik, setidaknya ia memiliki teman bicara sore itu.
Frederic mendekati Leticia yang duduk menyandarkan tubuhnya di headboard. Ia menyambar Leticia, sehingga perempuan itu seketika terkejut.
Tidak biasa, suaminya malah semakin membuat Leticia salah tingkah. "Ada apa?" cecar Leticia, agak memundurkan tubuhnya, menjaga jarak diantara mereka berdua.
"Oh ... sorry, aku nggak bermaksud mendekatimu. Aku ingin menunjukkan sesuatu," ucapnya.
"Apa?" Leticia menatap dalam suami kontraknya, menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Menurutmu bagaimana tentang ini?" Frederic menggeser layar ipad, menunjukkan file foto perusahaan secara bergantian.
__ADS_1
Leticia yang belum mengerti masih kebingungan. Ia mengerutkan kening, bertanya-tanya dalam hati. "Apa maksudnya?"
Seolah-olah Frederic mengetahui isi hati Leticia. Ia tiba-tiba menjelaskan secara rinci mengenai perusahaan itu.
"Maksudku, kamu lihat foto perusahaan yang kutunjukkan? Nah, perusahaan ini hampir bangkrut, aku sendiri baru mengetahui hari ini. Banyak investor yang meminta agar perusahaan itu ditutup sehingga meminimalkan kerugian dari perusahaan utama."
Leticia mendengarkan dengan serius penuturan Frederic tetapi ia tak mau gegabah untuk memberikan pendapat. Ia masih menunggu penjelasan dari Frederic.
"Ayahku belum tahu soal status perusahaan ini. Baru disampaikan padaku. Menurutmu, bagaimana? Apa keputusan yang harus kubuat?"
Leticia tampak berpikir sejenak, setelah melihat lama berdirinya perusahaan itu, sedikit menyisakan pendapatnya.
"Hmm ... itu perusahaan media?"
Frederic hanya mengangguk tanpa menjelaskan.
"Kenapa tidak mengikuti perkembangan jaman?" tanya Leticia, menatap lekat suaminya.
"Maksudnya?" timpal Frederic, malah kembali bertanya.
"Sekarang jamannya teknologi, daripada perusahaan itu ditutup, sejarah perusahaan menghilang, orang-orang melupakannya begitu saja, mengapa tidak mempertahankannya dengan mengikuti perkembangan saat ini?" lontar Leticia panjang lebar.
"Contohnya?" Frederic memajukan wajah, mengikis jarak antara Leticia dan dirinya. Bahkan, hidung mereka saling bersentuhan, membuat Leticia sangat terkejut.
Sontak saja, refleks ia memundurkan wajahnya agar jaraknya semakin menjauh.
"Contohnya, kamu jadikan perusahaan itu perusaan media online. Pakai website gitu loh! Beritanya diposting di website, kayak kebanyakan media sekarang!" sahut Leticia.
"Oh ... sempat terpikirkan seperti itu, apakah menguntungkan?" hardik Frederic, sedikit memberi ruang dan jarak antara dirinya dan Leticia.
"Pasti! Bila yang kamu share berita-berita yang terkini! Orang-orang akan mengunjungi website tersebut. Menurutku lebih menguntungkan daripada koran, sebab tidak perlu keluar biaya untuk cetak koran," timpal Leticia, seolah-olah sebagai guru, mengajarkan pada seorang murid.
"Hm ... benar juga, apa aku harus meminta pendapat ayahku?" tanynya lagi meminta pendapat sang istri.
Leticia mengangguk dengan cepat, izin dari sang ayah sangat penting seperti mendapatkan restu.
"Harus! Dia orang pertama yang mendirikan perusahaan itu, makanya harus tahu!"
__ADS_1