
Selvia tersenyum, namun tangannya mengusap air mata yang membasahi pipinya. Dia menutup perlahan pintu kamar Medina. Lalu turun ke lantai bawah dan kembali ke kamarnya.
Selvia duduk di pinggir tempat tidur dengan air mata yang masih mengalir dipipinya. "Semuanya salahku, aku tahu akhirnya akan seperti ini tapi tetap saja memaksa keadaan untuk berpihak padaku. Tapi, biarkan aku masih tetap egois sampai saat ini. Aku masih sangat mencintainya, Tuhan"
Selvia langsung menghapus air matanya ketika pintu kamar terbuka. Dia tersenyum pada suaminya yang berjalan ke arahnya dengan wajah lelah. "Sayang, kenapa dengan wajahmu? Kok bete gitu?"
Rega mencoba tersenyum, meski senyuman yang terlihat sangat kaku. Dia mengelus kepala Selvia dan mencium puncak kepalanya. "Aku mandi dulu ya, kamu sudah mandi?"
Selvia menggeleng pelan. "Belum, kamu saja duluan atau mau mandi bersama?"
Rega menggeleng pelan, dia mengelus kepala Selvia sebelum berlalu ke ruang ganti.
Selvia hanya tersenyum masam melihat suaminya yang berlalu begitu saja ke ruang ganti. "Aku ingin kamu juga membalas perasaanku"
Selesai mandi, Rega mengajak Selvia untuk makan malam bersama. Di meja makan sudah banyak makanan yang di masak oleh Medina. Saat sepasang suami istri itu datang, Medina mencoba tersenyum.
"Ayo makan, semuanya sudah siap"
"Wah, Kak Medina pintar masak ya. Ajari aku dong, aku juga mau masak untuk suamiku"
Rega langsung menatap Medina yang tersenyum pada Selvia ketika gadis itu menekan kata suami pada Medina.
"Nanti aku ajarkan ya"
Makan malam kali ini sungguh terasa berbeda dengan makan malam sebelumnya. Bagaimana ada Selvia di antara mereka membuat Medina dan Rega saling tatap dengan canggung. Entah bagaimana cara menafsirkan hubungan ini. Rega meminta Medina untuk tetap bertahan, meski di tengah pernikahan dirinya san Selvia. Namun, lagi-lagi atas alasan cinta Medina tetap bertahan. Dia hanya ingin terus bersama Rega, sehingga tidak berpikir apapun selain bisa terus bersama pria itu.
"Oh ya, Kak Medina masih kuliah?"
Medina mengangguk dengan tersenyum pada Selvia. "Ya, semester akhir"
"Apa Kakak sudah punya pacar?"
__ADS_1
Medina terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Karena memang dia tidak mempunyai kekasih saat ini. Rega? Dia hanya teman ranjangnya saja, bukan kekasihnya.
"Makan yang benar Se, jangan banyak bicara kalau sedang makan. Nanti tersedak" Rega mengelus kepala Selvia yang duduk di sampingnya, tapi tatapan matanya tertuju pada Medina.
"Tidak Se, aku tidak punya pacar"
Mata Rega langsung menyipit tidak suka pada Medina, ketika dia mendengar jawaban gadis itu. Medina langsung melanjutkan makannya dan berpura-pura tidak melihat tatapan menyeramkan dari Rega.
Makan malam ini selesai juga, meski Medina benar-benar tidak menikmati makanan yang masuk ke mulutnya. Medina hanya ingin segera menyudahi makan malam ini. Medina membereskan bekas makan malam dan mencuci piring kotor di wastaffel.
"Kak, biar aku bantu cuci piring ya"
"Jangan Se, kamu gak boleh kecapean. Sekarang kita ke kamar saja, istirahat"
Selvia cemberut melihat suaminya yang selalu melarangnya melakukan apapun. "Tapi 'kan aku belum ingin tidur, kalau kita nonton tv dulu gimana Kak?"
Rega mengelus kepala Selvia, lalu merangkul bahu gadis itu. "Yaudah, kita nonton tv dulu"
Medina melirik dengan ujung matanya, dia jelas melihat apa yang dilakukan suaminya dan yang dibicarakannya pada Selvia. Medina hanya menghembuskan nafas kasar, mencoba menahan sesak di dadanya ketika melihat sikap lembut Rega pada Selvia.
Medina selesai mencuci piring, dia berjalan menuju tangga. Ingin segera pergi ke kamarnya, namun saat hampir sampaj di anak tangga Medina melihat Rega yang berciuman dengan Selvia. Tangan Medina bergetar di sisi tubuhnya, ternyata melihat secara langsung kemesraan mereka tetap membuat hati Medina terluka.
Mereka suami istri Me, kamu harus ingat itu.
Medina berlari naik ke lantai atas dan Rega menyadari kehadrian Medina. Dia mendorong tubuh Selvia yang menciumnya secara tiba-tiba. "Kamu apaan si? Kenapa tiba-tiba menciumku?"
Selvia menatap Rega yang mengelap bibirnya yang basah. Memang pria itu sama sekali tidak membalas ciumannya. "Memangnya kenapa? Kamu 'kan sudah menjadi suami aku. Lalu, kenapa aku tidak boleh hanya untuk menciummu?"
"Sudahlah, aku ingin istirahat. Apa kamu masih ingin menonton? Aku ke kamar duluan" Rega berdiri dan berlalu ke kamar yang di tempatnya dengan Selvia di lantai bawah rumah ini.
Selvia hanya menatap punggung Rega yang menjauh. Dia tersenyum dan mengelap bibirnya yang basah. "Aku yakin kamu akan jatuh cinta padaku suatu saat nanti. Biarkan saja aku egois saat ini"
__ADS_1
******
Medina mengerjap ketika merasakan pelukan seseorang di tubuhnya. Dia terlonjak kaget saat mendapati seorang pria yang tidur di sampingnya. Medina benar-benar terkejut karena sebelumnya dia memang tidur sendirian, tapi sekarang tiba-tiba saja ada seseorang yang tidur di sampingnya dan memeluknya.
"Sayang ada apa si?"
Medina mengelus dadanya yang berdebar karena keterkejutan yang terjadi. "Ga, kamu ngapain tidur disini? Kalau istrimu tahu bagaimana?"
"Sudahlah, kamu tidur lagi. Ini masih tengah malam, aku masih ngantuk"
Medina menatap Rega yang menggeser tubuhnya dan memeluk perut Medina yang terduduk di sampingnya. "Ga, aku gak enak ahh sama istri kamu. Sekarang kamu pindah sana ke kamar Selvia. Kenapa malah tidur disini?"
"Tidur lagi Sayang, sebelum aku benar-benar bangun dan kau tahu apa yang akan terjadi setelah itu"
Deg..
Medina langsung membaringkan kembali tubuhnya ketika ancaman Rega benar-benar membuatnya merinding. Rega memeluk tubuh Medina bagaikan guling yang nyaman. Mencium pipi gadis itu dengan lembut.
Medina menatap wajah Rega yang terlelap dengan tenang. Rasanya dia tidak mau berpisah lagi dengan pria ini. Medina sangat mencintainya, sehingga dia berubah menjadi gadis yang bodoh dan rela melakukan apapun demi bisa tetap bersama Rega.
Medina beringsut masuk ke dalam pelukan Rega. Menghirup aroma tubuh pria itu yang begitu menenangkan. Hingga pagi menjelang Medina merasa tubuhnya hampa, saat dia membuka mata ternyata Rega sudah tidak ada disana. Medina merubah posisi tidurnya menjadi menghadap langit-langit kamar.
Entah darama seperti apa yang sedang aku jalani saat ini.
Medina bangun dan menurunkan kedua kakinya ke atas lantai. Berjalan menuju ruang ganti. Mandi dan berendam di dalam bak mandi, Medina hanya sedang merilekskan tubuh dan fikirannya.
******
Rega mengelus kepala Selvia yang masih terlelap di tempat tidur. Lalu dia naik ke atas tempat tidur dan ikut berbaring di samping Istrinya. Namun dia tidak terlelap, dia hanya tidur terlentang menatap langit-langit kamarnya.
Meski semuanya tidak mudah, tapi aku yakin bisa melewati semua ini asalkan Medina ada di sampingku.
__ADS_1
Entah harus bagaimana Rega menafsirkan semua ini. Dia tetap tidak bisa melepaskan Medina, namun Rega juga tidak bisa lepas dari Selvia. Membuat dirinya terlibat dalam dua hati yang entah bagaimana cara dia memilihnya.
Bersambung