
Ketika Medina sedang mengajari Selvia masak sore ini, Rega baru saja pulang dari bekerjanya. Dia langsung menghampiri kedua wanita itu. Selvia yang melihat suaminya datang, langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Sayang sudah pulang ya, tumben masih sore kok udah pulang aja"
Rega mengelus kepala Selvia dan memberi kecupan disana, namun tatapan matanya tertuju pada Medina yang sedang memotong sayuran di atas meja makan. Medina langsung mengalihkan pandangannya ketika menyadari pandangan Rega yang tertuju padanya.
"Mau mandi dulu? Biar aku siapkan airnya" Selvia sedikit melerai pelukannya, dia menatap Rega dengan tersenyum. Namun senyumnya seketika pudar saat melihat tatapan Rega yang tidak tertuju padanya. Selvia sedikit menggoyangkan lengan Rega agar kembali fokus padanya.
"Hmm. Ada apa Se?"
"Mau aku siapkan air untuk mandinya?"
Rega mengangguk dengan sedikit kaku, matanya masih saja melirik ke arah Medina yang sejak tadi menundukan wajahnya, sengaja menghindari beradu tatap dengan Rega. "Yaudah, kamu ke kamar duluan. Tolong siapkan air untuk aku mandi ya, aku mau ambil minum dulu"
Selvia melirik Medina yang sejak Rega datang hanya diam dengan menundukan kepalanya. Selvia menghela nafas, lalu tersenyum pada Rega. "Baiklah, aku akan siapkan air untuk kamu mandi ya"
Rega tersenyum, kembali mencium kening Selvia. "Makasih ya Se"
"Iya Kak"
Setelah Selvia pergi, Rega segera menghampiri Medina dan memeluknya dari belakang. Mencium pipi dan puncak kepala gadis itu dengan gemas. "Kenapa diam saja, aku merindukanmu tahu"
Medina menghela nafas, dia melepaskan pisau yang di pegangnya dan memegang tangan Rega yang melingkar di dadanya. "Jangan kayak gini Ga, nanti Selvia lihat tidak enak"
Cup..
Rega malah kembali mencium pipi Medina. "Kalau sedang berdua saja seperti ini, panggil aku Sayang!"
Sebuah ucapan yang sebenarnya terdengar seperti ketetapan yang harus Medina lakukan dan tidak bisa membantahnya. "Tidak bisa Ga, aku takut Selvia melihat dan tidak sengaja mendengarnya"
"Aku bilang disaat kita berdua, bukan saat ada Selvia. Kamu mengerti 'kan?"
Medina menghela nafas, dia melepaskan lingkaran tangan Rega di dadanya, lalu dia berdiri dan menatap pria itu. "Iya, aku mengerti. Tapi...."
Cup..
__ADS_1
Rega mencium bibir Medina sebelum sempat Medina melanjutkan ucapannya. Medina terbelak kaget dengan apa yang di lakukan Rega, dia mencoba mendorong tubuh Rega agar menghentikan adegan ciuman ini. Namun, tangan pria itu malah menahan tengkuk lehernya dan mulai memberikan luma*tan halus di bibirnya. Membuat Medina tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti permainan Rega ini.
"Kak airnya sudah siap.."
Deg..
Medina mendorong tubuh Rega dengan sekuat tenaganya, pria itu yang terkejut juga refleks melepaskan tautan bibirnya dan menjauh dari Medina. Terburu-buru menuangkan air minum ke dalam gelas dan meminumnya. Tepat saat Selvia muncul di balik pintu dapur. Suasana sudah kembali kondusif. Medina masih memotong sayuran dengan wajah menunduk dan jantungnya yang berdebar kencang.
"Kak, airnya sudah siap. Lama sekali"
"Iya Se, aku haus jadi sampai minum beberapa gelas ini..." Rega menyimpan gelas kosong, lalu berjalan ke arah Selvia dan merangkul bahu gadis itu. "...Yaudah sekarang ayo kita ke kamar. Kamu tidak perlu membantu Medina memasak, kamu 'kan harus banyak istirahat"
"Yahh.. Kan aku mau belajar masak Kak, biar bisa masakin Kakak makanan"
Rega membawa Selvia keluar dari dalam dapur dengan sedikit memaksanya. "Sudahlah, aku tidak papa tidak merasakan masakanmu yang penting kamu sehat selalu"
Selvia hanya tersenyum dan memeluk Rega dengan senyuman yang hangat.
Di dalam dapur, Medina menghembuskan nafas kasar setelah Rega dan Selvia pergi. Dia mengusap bibirnya yang masih tersisa bekas ciumannya dengan Rega.
Medina melanjutkan masaknya untuk makan malam. Meski jantungnya masih berdebar karena terkejut.
Untung saja tidak ketahuan.
******
Selvia membuka lemari milik Rega, tidak terlalu banyak pakaian Rega disana. Dia mengambil pakaian santai untuk suaminya dengan pikiran yang melayang menembus ke kejadian di dapur barusan.
Selvia baru saja akan melangkah masuk ke dapur, namun pemandangan di depannya membuat dirinya terdiam beberapa saat di balik dinding dapur. Bukan karena Selvia tidak melihatnya, namun dia mencoba bersikap biasa saja karena sadar jika semua ini adalah akibat dari keegoisannya.
Pintu kamar mandi yang terbuka membuat Selvia mengerjap, tersadar dari lamunannya. Selvia menghembuskan nafas kasar sebelum dia berbalik dan menatap Rega dengan senyumannya yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Ini baju gantinya Kak, aku keluar dulu ya"
Selvia berjalan keluar ruang ganti, karena dia sadar jika suaminya masih tidak merasa nyaman ketika berganti baju saat dia berada disana. Menjalani malam pertama saja, Rega selalu memalingkan wajahnya seolah dia memang tidak mau melihat wajah Selvia saat melakukannya seperti dia yang tidak menikmatinya.
__ADS_1
Aku pasti bisa membuat kamu menjadi milikku seorang. Tidak apa jika hatimu tidak bisa aku miliki seutuhnya.
Selvia menemui Medina yang masih berada di dapur. Gadis itu masih melanjutkan memasaknya. "Belum selesai Kak? Aku bantu apa nih?"
Medina yang sedang mengaduk masakannya di dalam wajan, menoleh pada Selvia. Dia tersenyum hangat pada gadis itu. "Tidak usah Se, kamu duduk saja disana. Tinggal sedikit lagi kok, sebentar lagi selesai"
Selvia tersenyum, dia berjalan mendekati Medina. Menatap masakan Medina di dalam wajan dengan tatapan berbinar. Mengambil aroma masakan dengan mengipaskan tangannya ke arah mulut, menghirup aroma masakan yang membuat perutnya mulai keroncongan.
"Wanginya enak banget Kak, emang paling jago nih Kakak soal ginian. Lain kali, ajarin akunya sampai tuntas ya Kak"
Medina terkekeh mendengarnya. "Iya Se, kapan-kapan ya. Tadi keburu Rega datang si"
Selvia berdiri dengan sedikit menyandar pada meja kompor. Disamping Medina yang sedang memasak. "Iya Kak, lagian gak biasanya suamiku itu pulang sore"
Medina hanya tersenyum, selalu ada rasa tidak nyaman ketika dia mendengar Selvia memanggil Rega dengan sebutan 'suamiku'. Seolah Selvia sedang mengklaim jika Rega memang sudah menjadi miliknya. Seutuhnya.
"Kamu duduk saja disana Se, takutnya keciprat minyak panas kalau kamu berdiri disini"
"Iya Kak, hari ini aku jadi penyicip masakan Kakak saja ya. Hehe"
Medina tertawa kecil mendengarnya, dia mengambil piring dan memindahkan masakan di dalam wajah ke atas piring. Ketika semua masakan telah selesa, dan Medina tinggal menata masakannya itu di atas meja. Rega muncul di balik pintu dapur dengan wajah yang sudah lebih segar.
"Wah sudah siap ya makan malamnya"
"Iya Sayang, Kak Medina yang masak semuanya. Hebat banget ya"
Rega tersenyum, dia menarik kursi di samping Selvia dan duduk disana. Ujung matanya melirik Medina yang duduk di kursi sebrangnya.
"Ayo makan, Se"
"Iya Kak"
Selvia mengambilkan makanan untuk suaminya. "Mau sama apa saja Sayang?"
Medina menunduk, dia selalu merasa tidak nyaman mendengar panggilan Sayang Selvia pada Rega. Namun, apa dia berhak jika dia merasa cemburu? Rasanya tidak, karena dia tidak memiliki hak apapun atas Rega.
__ADS_1
Bersambung