Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 46 #Tidak Akan Mengganggu Rega Lagi?#


__ADS_3

"Medina, ada yang mencarimu di luar"


Medina yang sedang tiduran di atas tempat tidur langsung bangun dan menatap ke arah Ibu Nia yang berdiri di ambang pintu. Hari ini memang tidak ada pesanan cattering, membuat Medina sedikit lebih santai.


"Siapa Bu?" Medina tidak merasa mempunyai teman di kota ini. Lalu, siapa yang mencarinya?


"Ibu juga tidak tahu, coba kamu temui saja dulu. Oh ya, Ibu mau ke warung sebentar"


Medina mengangguk, dia turun dari atas tempat tidur. Memakai sandal rumah, lalu berjalan keluar kamar. Medina berjalan menuju pintu utama rumah ini. Saat dia berdiri di ambang pintu rumah, Medina jelas melihat siapa yang duduk di kursi yang ada di teras depan. Tubuh Medina seketika mematung.


"Se-selvia?"


Selvia menoleh, dia tersenyum dan langsung menghampiri Medina. "Hai Kak, apa kabar?"


Tubuh Medina bergetar melihat perut Selvia yang sama besarnya dengan perutnya. Seketika tangan Medina langsung menutupi perutnya sendiri. Meski dia tahu usahanya itu hanya sia-sia.


Berakhir dengan duduk di kursi yang ada d teras rumah. Medina mencoba untuk menetralkan perasaannya yang sangat terkejut dengan kehadiran Selvia.


"Darimana kamu tahu aku tinggal disini?"


"Kak Kendra"


Medina menghembuskan nafas pelan, dia sudah menduganya. Karena tidak mungkin jika Kendra tidak bercerita pada Selvia tentang pertemuannya dengan Medina.


"Kak Medina hamil anaknya Kak Rega?"


Deg...


Seketika Medina langsung menoleh pada Selvia. Sampai saat ini, Medina mengira jika Selvia tidak mengetahui tentang hubungan gelapnya dengan Rega.


"Tidak perlu terkejut begitu Kak, aku tahu semuanya. Setiap malam, Kak Rega selalu ke kamar Kakak 'kan? Aku tahu Kak, tapi aku hanya berpura-pura tidak tahu agar aku bisa terus bersama suamiku"


Medina terdiam, dia melihat air mata yang mengalir di pipi Selvia. Hal itu membuat Medina semakin merasa bersalah. "Se, aku minta maaf. Aku memang jahat karena berhubungan gelap dengan suamimu. Tapi, aku janji mulai saat ini aku tidak akan mengganggu kalian lagi"


Selvia mengusap air matanya, dia meraih tangan Medina yang berada diatas meja yang menjadi penghalang diantara mereka duduk. "Terima kasih Kak, karena Kakak sudah mengalah. Jadi, mohon untuk tidak mengganggu suamiku lagi. Kakak tahu sendiri jika aku sedang hamil, apalagi dengan kesehatan aku yang tidak baik-baik saja. Jadi aku sangat membutuhkan Kak Rega saat ini"


Medina tersenyum dengan cairan bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Rasanya dia terlalu lelah dengan hidunya ini. Medina terlalu banyak mengalah, tapi semuanya memang kesalahannya sendiri.


"Iya Se, aku tidak akan mengganggu kamu dan Rega lagi"

__ADS_1


"Terima kasih Kak, tapi apa bisa Kakak pindah dari sini. Karena suamiku tidak sengaja mendengar percakapan aku dan Kak Kendra. Dia pasti akan langsung mencari Kakak kesini"


Deg..


******


"Bagaimana keadaanmu Ga?"


Pagi ini Aiden sengaja datang ke rumah Rega. Mengecek keadaan sahabatnya yang masih sakit itu.


"Sudah lebih baik, maaf karena aku belum bisa masuk kantor"


"Tidak masalah, aku kesini juga karena ingin memberi tahu kamu sesuatu"


Rega menatap Aiden dengan mata sedikit menyipit. "Apa?"


"Ga, aku sudah tahu dimana Medina berada. Dia ada di kota xx. Kendra tidak sengaja menemukannya saat dia melakukan tinjauan proyek di kota itu"


"Kau serius? Kenapa baru memberi tahuku?"


"Ya karena aku juga baru tahu semalam, saat ada meeting mendadak dengan perusahaan Kendra. Dan kabar mengejutkan lainnya adalah, Medina hamil Ga"


Deg..


"Dan sepertinya alat tes kehamilan yang di tunjukan Selvia padamu adalah milik Medina. Begitulah cerita yang di bawa Kendra padaku"


Rega benar-benar tidak bisa berfikir jernih sekarang. Medina hamil, dan dia pasti sedang mengandung anaknya. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia dan calon anaknya baik-baik saja?


"Den, aku harus segera menemuinya"


"Iya Ga, memang sebaiknya begitu. Tapi, aku juga tidak tahu dimana alamat rumahnya. Kendra tidak berhasil menemukan alamat rumah yang di tinggali Medina. Kamu hanya perlu tanyakan pada pria bernama Giant..." Aiden mengeluarkan secarik kertas dari saku jas yang di pakainya, menyeragkannya pada Rega. "...Ini adalah nomor Giant, yang diberikan Kendra padaku"


Setelah mendapatkan informasi tentang Medina, Rega tidak lagi menunda waktu untuk pergi ke kota itu. Memesan tiket pesawat menuju kota itu. Sebelum Rega naik ke dalam pesawat dia sudah menghubungi Giant dan mengatakan jika dia adalah suaminya Medina, membuat Giant tidak bisa melakukan apa-apa selain mengirimkan alamat rumahnya pada Rega.


Namun, sepertinya Giant baru ingat satu hal. "Kak Medina tidak boleh jadi pergi dari rumah"


Giant ingat jika semalam Medina meminta izin pada Ibu Nia dan Giant untuk pergi dari rumah mereka. Katanya dia akan mencari kontrakan atau kos. Ibu Nia dan Giant melarangnya, namun Medina tetap kekeuh dan memaksanya. Sampai akhirnya Ibu Nia dan Giant tidak bisa menahannya lagi.


"Pak, tolong awasi pekerja disini sebentar ya. Aku ada urusan sebentar"

__ADS_1


Giant segera pergi dari sana, mengendarai motornya dengan cepat agar dia bisa segera sampai di rumah.


Aku akan pergi besok Bu, tadi sudah lihat-lihat di sosial median dan ada kontrakan kosong di kota ini.


"Tidak Kak, aduh.. Jangan pergi dulu, tolong"


Giant sampai di depan rumahnya, dia masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. "Kak.. Kak Medina.."


"Giant ada apa? Kenapa kamu berteriak?" Ibu Nia muncul di balik pintu dapur.


"Bu, Kak Medina mana? Apa dia sudah pergi?"


Ibu Nia menghela nafas pelan. "Ibu sudah sebisa mungkin melarangnya Gi, tapi Medina tetap kekeuh untuk pergi. Saat Ibu tanyakan alasannya kenapa dia tidak betah tinggal disini, Medina juga tidak memberikan jawaban apapun"


Giant langsung mengusap wajah kasar. "Bu, suaminya Kak Medina menghubungi aku. Ternyata suaminya adalah teman dari Bos aku. Dia akan datang sekarang kesini untuk menyusul Kak Medina dan menyelesaikan masalah mereka. Tapi sekarang bagaiamana? Kak Medina sudah pergi"


"Apa? Jangan bercanda kamu! Ya ampun Giant, kenapa kamu tidak bilang dari tadi"


"Bu, Giant juga baru tadi mendapat teleponnya"


"Mungkin suaminya adalah pria yang ada di foto yang selalu Medina pandangi setiap hari kalau sedang sendirian di dalam kamarnya. Ibu pernah tidak sengaja melihatnya"


"Aduh. Bagaimana ini Bu?"


"Begini saja, sekarang kamu telepon Medina dan tanyakan dimana dia sekarang dan kamu susul dia"


"Oke"


Giant mencoba menghubungi Medina, namun tidak di angkat oleh Medina. Membuat Giant semakin frustasi saja.


"Ayo dong Kak, angkat sebentar saja"


"Bu Giant pergi dulu, mau menemui teman Giant yang bisa melacak keberadaan seseorang dari nomor ponselnya"


"Iya Giant, segera temukan Medina dan bawa kembali dia kesini"


"Iya Bu"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2