
Pintu kamar yang seketika terbuka lebar di susul dengan suara Selvia, membuat Medina mematung di tempatnya. Dia segera memutuskan sambungan teleponnya dengan Rega. Berbalik dan menatap Selvia yang berdiri di ambang pintu.
"Iya Se, ada apa?"
"Ayo masak lagi, aku ingin belajar masak"
Medina tersenyum, meski sedikit kaku karena terlalu kaget dengan kehadiran Selvia yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya disaat dia sedang bertelepon dengan Rega.
Sepertinya dia tidak mendengar apa-apa.
"Iya Se, sebentar lagi ya. Aku masih cape. Kamu siapkan saja dulu bahan masakan yang ingin kamu masak hari ini, nanti aku akan turun ke bawah"
"Oke, kalau gitu aku ke bawah dulu ya Kak"
"Iya Se"
Selvia keluar dari kamar Medina, menutu pintu kamar dengan helaan nafas kasar. "Maafkan aku Kak, tapi apapun alasannya aku tidak ingin melepaskan Kak Rega"
Di dalam kamar Medina terduduk di pinggir tempat tidur dengan tangan memegang dadanya. Dia benar-benar terkejut dengan kehadiran Selvia yang tiba-tiba. Melihat ponselnya, dia berharap Rega tidak marah karena aku menutup sambungan telepon dengan sepihak.
Medina merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kaki yang menggantung ke atas lantai. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang.
"Sebenarnya aku sedang memerankan drama apa. Tapi, aku tetap menjalaninya meski tahu ini salah. Tuhan, salah jika aku hanya ingin selalu berada di dekat orang yang aku cintai. Biarlah jika Rega tidak lagi mencintaiku, dan hanya menganggap aku pemuas naf*su sesaat untuknya. Yang penting, aku bisa bersamanya"
Medina menghela nafas berat, dia bangun dan segera keluar dari kamarnya. Menemui Selvia yang berada di dapur. Sedang asyik menyiapkan bahan makanan di atas meja.
"Hai Se, jadi mau masak apa kita hari ini?"
Selvia menoleh pada Medina dan tersenyum padanya. "Aku pernah lihat Kak Rega makan ayam kecap buatan Kak Medina dengan lahap. Kita buat itu lagi, sepertinya Kak Rega menyukainya"
Ya, karena memang dia selalu menyukai apa yang aku masak.
"Suka gak?"
Rega mendongak, menatap gadis yang masih memakai seragam sekolah itu dengan tersenyum. Dia baru saja mencoba masakannya.
"Enak, kamu pertama kali belajar masak? Tapi kok sudah seenak ini ya"
Medina duduk di kursi depan Rega, menatap kekasihnya itu dengan kedua tangan yang menopang dagunya. "Aku senang kalau kamu suka. Iya, ini memang masakan pertama aku yang kamu coba"
"Maksudnya? Kamu sudah sering masak?"
__ADS_1
Medina mengangguk "Untuk diriku sendiri"
"Dasar, kenapa tidak dari dulu saja membuat masakan ini untukku. Aku suka ayam kecap buatanmu. Ini bisa jadi makanan favoritku"
******
"Kak"
Medina mengerjap, dia tersenyum pada Selvia yang memanggilnya. "Iya Se? Ada apa?"
"Ayo kita mulai memasaknya, Kak Medina malah bengong di situ"
Medina mengangguk dan segera menghampiri Selvia. Dan acara masa memasak pun di mulai. Sesekali Medina tertawa melihat Selvia yang menjerit ketakutan saat dia menggoreng dan terkena cipratan minyak panas.
"Pelan-pelan masukinnya Se, jadi gak nyiprat minyaknya"
"Gak bisa Kak, aku benar-benar gak bisa ini. Aduh, tangan aku perih-perih nih gara-gara minyak itu. Udah ah Kak, aku benar-benar menyerah"
Medina tertawa melihat Selvia yang terduduk di kursi meja makan dengan wajah yang begitu lelah. Padahal dia hanya membantu menggoreng tahu dan tempe saja. Tapi sudah selelah itu. Dasar gadis kecil, katanya ingin belajar masak. Tapi baru segitu saja sudah menyerah. Gumam Medina sambil mengaduk masakan di dalam wajan.
Semua masakan akhirnya terselesaikan oleh Medina, tanpa bantuan Selvia tentunya. Gadis itu hanya duduk tenang di kursi meja makan sambil memperhatikan Medina yang memasak.
"Sudah"
Selvia hanya membantu menata makanan di atas meja makan. Sebentar lagi jam makan siang, dan Rega akan segera pulang. Mengingat suaminya akan segera pulang ke rumah, membuat Selvia tersenyum senang. Dia sudah sangat merindukan pria itu seharian ini. Tadi siang dia mencoba menghubungi Rega, tapi tidal di angkat oleh pria itu. Mungkin karena Rega sedang banyak pekerjaan.
Dan Rega datang saat Selvia masih menata makanan di atas meja. Dia menghampiri istrinya dan mengelus kepalanya.
"Sudah pulang, ayo makan malam. Aku sudah sangat susah payah loh memasak semua ini"
Medina tersenyum mendengarnya, memang Selvia sudah sangat berusaha meski pada akhirnya menyerah juga.
"Wah, benar kamu yang masak semua ini?" Rega menatap Selvia yang memeluknya dengan tersenyum pada istrinya itu.
Selvia mengangguk, dia mengecup dagu Rega dengan senyum bahagia. "Tentu saja, Kak Medina yang membantuku"
Rega melirik ke arah Medina yang masih menggunakan apron di tubuhnya. Gadis itu mengedipkan matanya untuk mengiyakan ucapan Selvia barusan.
"Yasudah, kalau gitu aku mau mandi dulu"
"Aku siapkan air untuk mandinya ya"
__ADS_1
Rega menggeleng, dia mengelus kepala Selvia dengan lembut. "Tidak usah, aku bisa sendiri. Kasihan kamu, kan sudah capek memasak banyak makanan untuk makan malam hari ini"
Setelah Rega berlalu dari dapur, Selvia segera menghampiri Medina. "Maaf ya Kak, karena aku berbohong. Tapi tolong jangan Kakak bongkar ya, aku ingin Kak Rega senang memakan makanan yang dia kira hasil masakan istrinya"
Medina tersenyum, dia mengelus kepala Selvia layaknya seorang Kakak pada adiknya. "Iya Se, kamu tenang saja. Oh ya, aku bawa jatah makanku sekarang ya. Aku mau makan di kamar saja, lagi banyak tugas jadi sekalian sambil ngerjain tugas"
"Oke Kak, makan yang banyak ya"
Medina mengangguk dan tersenyum, dia mengambil makanan ke dalam piring dan membawanya ke kamar serta segelas air putih.
Rega selesai mandi, dia segera ke ruang makan. "Loh Se, mana Medina?"
"Kak Medina makan duluan di kamarnya Kak, katanya mau sambil mengerjakan tugas"
Rega mengangguk, dia menarik kursi dan duduk disana. Mengambil makanannya dan mulai memakannya.
"Gimana Kak, enak?"
Rega mengangguk, memang masakannya terasa enak karena Rega juga tahu masakan siapa ini. "Enak, kamu hebat Se sudah bisa masak seenak ini. Padahal baru belajar"
"Hehe"
Selvia tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja. Karena kenyataannya ini semua adalah masakan Medina, bukan dirinya.
Selesai makan malam, seperti biasa Selvia akan mengajak Rega untuk bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi. Selvia tiduran di atas pangkuan suaminya.
"Kak, akhir pekan ini apa ada acara?"
Rega menatap Selvia yang tiduran diatas pangkuannya. "Kenapa memang?"
"Kita pulang ke rumah Daddy yuk, aku kangen sama Daddy dan Mommy"
"Emm. Aku ada acara bersama temanku, kalau kamu sendiri saja kesana bagaimana? Biar minta di jemput saja sama supir Daddy"
Selvia cemberut, dia ingin bersama suaminya tapi malah tidak bisa. "Ayolah Kak, hanya sebentar saja. Setelah itu Kakak boleh pergi dengan teman-teman Kakak"
"Yaudah iya"
Akhirnya Rega tetap tidak bisa menolak ajakan Selvia. Meski sebenernya dia enggan ke rumah mertuanya itu.
Bersambung
__ADS_1