Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 14 #Beginikah Kisahku#


__ADS_3

Masih dalam keadaan polos, Medina duduk di pangkuan Rega dengan kepala yang menyandarkan di dada pria itu. Rega mengecup kepala Medina beberapa kali dengan tangan yang memeluk tubuh gadis itu. Lalu dia melirik ke arah tempat tidur, dimana banyak buku berserak dan layar laptop yang masih menyala.


"Kamu masih belum selesai mengerjakan tugas?"


Medina melirik ke atas tempat tidur, menghela nafas berat. "Belum, tadinya malam ini mau begadang ngerjain tugas. Eh malah ngerjain hal lain"


Rega terkekeh mendengarnya, dia mengelus kepala Medina dengan Sayang. "Besok saja di lanjutkan, sekarang istirahat saja. Sudah malam"


Medina mengangguk, dia mengambil baju Rega yang tergeletak di atas lantai. "Kamu pakai baju kamu dan kembali ke kamar Selvia sana. Aku mau mandi dulu"


Rega menghela nafas, sebenarnya dia masih ingin bersama Medina saat ini. "Cium dulu Sayang"


Medina menoleh dan menatap suaminya yang masih belum melepaskan dirinya begitu saja. "Apaan si, aku udah kasih kamu lebih dari sekedar ciuman"


"Cepat ihh, Sayang..."


Medina memegang wajah Rega dengan tangannya. Rasanya dia merindukan wajah tampan ini yang selalu merajuk, ketika Medina tidak menuruti keinginannya. Ternyata sikap Rega masih sama.


Cup..cup..cup..


Medina mencium kedua pipi Rega dan satu kali kecupan di bibirnya. "Sudah lepas sekarang, aku mau mandi"


Meski sedikit tidak rela, namun pada akhirnya Rega membiarkan Medina berdiri dari pangkuannya. Medina berjalan menuju ruang ganti. "Sana kembali pada istrimu, aku sudah memberikan apa yang kamu mau"


Medina masuk ke dalam ruang ganti dan menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang tertutup. Memegang dadanya yang terasa sesak. Kembali pada istrimu! Teriakan lantang dirinya yang sebenarnya begitu menyayat harinya sendiri.


Tuhan, beginikah kisah ku?


Medina merasa jika dirinya tidak lebih dari seorang pela*cur. Melayani pria yang mempunyai istri, bedanya dia hanya melayani satu pria saja. Itupun karena pria itu adalah pemilik hatinya sampai saat ini.


Di dalam kamar, Rega memakai kembali pakaiannya. Dia menoleh sekilas ke arah ruang ganti. Medina masih belum keluar darisana. Rega berjalan menuju tempat tidur dan membereskan beberapa buku milik Medina dan laptopnya juga. Menyimpan diatas nakas. Setelah memastikan Medina tidak akan melanjutkan tugas kuliahnya di hari yang sudah larut. Rega keluar dari kamar Medina dan kembali ke kamarnya dan Selvia.


******


Pagi ini Medina bangun sedikit siang, mungkin karena dirinya yang tidur terlalu larut semalam.

__ADS_1


"Duh, aku gak sempat buat sarapan lagi. Tapi ini sudah benar-benar siang, tidak akan sempat jika aku membuat sarapan dulu" Medina melirik jam dinding di kamarnya. Memang sudah tidak mempunyai banyak waktu untuk Medina berangkat kuliah.


Medina turun ke lantai bawah setelah selesai bersiap. Berjalan menuju dapur, dan dia melihat Selvia yang sedang sarapan bersama suaminya. Melihat wajah polos gadis itu, membuat Medina mengingat kejadian semalam. Rasa bersalah langsung memenuhi hatinya.


"Pagi Kak, ayo sarapan. Suamiku membuatkan sarapan untuk kita, sangat enak tahu. Aku bahkan tidak tahu kalau Kak Rega pandai memasak"


Sapaan hangat dan ceria dari Selvia semakin membuat Medina merasa bersalah. Dia tersenyum pada gadis itu. "Iya Se, tapi kayaknya aku gak sarapan dulu. Udah telat banget, mau langsung berangkat saja. Selamat menikmati sarapanmu ya Se"


"Oh gitu, yaudah deh Kak"


Medina segera berlalu dari sana ketika menyadari lirikan tajam Rega padanya. Medina memang sudah memesan taxi online dan ketika dia keluar dari rumah, taxi online pesanannya sudah datang. Segera Medina masuk dan berangkat ke kampus.


Di dapur, Selvia masih asyik memakan sarapannya dengan terus memuji masakan suaminya itu. "Aku masih gak nyangka kalau kamu pintar memasak. Ajari aku dong Sayang"


Rega tersenyum tipis, dia mengelus kepala Selvia. "Makan saja jika kau suka makanan buatanku. Tidak perlu belajar masak, kamu hanya perlu banyak istirahat dan minum obat dengan teratur"


Bahu Selvia melemas mendengarnya. "Aku sudah sangat bosan terus meminum obat"


"Semuanya juga demi kebaikan kamu Se, jangan kecewakan orang orang tuamu dan Kakakmu"


Selvia mengangguk saja, meski sebenarnya dia malas ketika Rega mulai membahas kesehatannya.


Selvia melirik jam dinding, lalu kembali menoleh ke arah suaminya. "Ya, sejam lagi aku ada kuliah online lagi"


Rega mengangguk, dia berdiri dan mengelus kepala Selvia. "Aku berangkat ya"


"Iya Kak, hati-hati di jalan"


Rega mengangguk, dia segera pergi ke perusahaan. Namun, di perjalanan dia sempatkan untuk menghubungi Medina.


"Hallo, iya Ga ada apa?"


"Ekhem.."


Medina mengerjap mendnegar deheman Rega di sebrang sana dengan isyarat ancaman. Medina memukul kepalanya sendiri. "Sayang, maksudnya itu. Aku lupa"

__ADS_1


"Lupa? Jadi kau sedang melupakan aku ya? Semudah itu melupakan aku, padahal baru semalam kita melewati malam penuh kenikmatan berdua"


Medina terbelalak mendengar itu, dia menjauhkan ponselnya dari telinga. Menatap layar ponselnya dengan mengumpat Rega tanpa suara.


"Dimana kau? Apa sudah sampai kampus?"


"Sebentar lagi, kamu dimana? Kok bisa telepon aku?"


"Di jalan"


Medina mengangguk mengerti, dia menatap ke arah luar jendela. Di saat seperti ini entah kenapa dirinya merasa jika Rega adalah miliknya. Padahal kenyataannya Medina hanya seorang pemuas naf*su saja baginya.


"Yaudah, hati-hati di jalan ya. Aku sudah sampai di kampus"


"Iya Sayang"


Rega menekan tombol earphone di telinganya untuk memutuskan sambungan telepon dengan Medina. Beberapa saat kemudian dia sampai di perusahaan, berjalan masuk dengan beberapa karyawan yang menyapanya dengan penuh hormat.


"Ga, pagi ini meeting dengan mertuamu ya?"


Rega mengangguk, dia membuka file berkas untuk tema metting pagi ini di ipadnya. "Iya, ayo kita ke ruang metting sekarang. Sebentar lagi dia datang"


Aiden mengangguk, dia dan Rega berjalan menuju ruang metting. Menunggu rekan kerjanya yang belum datang. Dan meeting pagi ini berjalan dengan lancar. Bagaimana Rega begitu profesional dalam bekerja. Dia selalu menjadi tangan kanan Aiden dalam hal apapun. Hasil kerjanya selalu memuaskan dan menguntungkan perusahaan.


Meski Rega hanya seorang asisten, tapi dia lebih berperan penting dalam kemajuan perusahaan. Bahkan ketua pimpinan perusahan, yaitu Ayahnya Aiden saja sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Karena sudah saking percaya dengan Rega yang sudah bekerja bertahun-tahun di perusahaan ini.


"Ga, Daddy ingin bicara sebentar dengan kamu"


Aiden yang mengerti jika Rega dan mertuanya membutuhkan waktu berdua untuk berbicara langsung pamit undur diri. Dan di ruangan ini sekarang hanya tinggal Rega dan Daddy.


"Bagaimana keadaan Selvia?"


"Dia baik dan selama ini masih terlihat sehat, bahkan selalu ceria"


Daddy tersenyum, senang mendengar kabar putrinya yang baik-baik saja. "Maafkan keegoisan Daddy Nak, tapi tolong tetap bahagiakan Selvia. Apapun yang kamu inginkan akan Daddy berikan asalkan kamu tidak meninggalkan Selvia dan melukainya. Bahkan perusahaan Daddy saja akan Daddy berikan padamu"

__ADS_1


Rega tidak menjawab, karena memang bukan ini keinginannya. Namun apa boleh buat, dia sudah terjebak dengan semua ini.


Bersambung


__ADS_2