
Rega berdiri dari duduknya dan dia tidak sengaja menjatuhkan bantal di atas tempat tidur. Bukan masalah bantal yang terjatuh, tapi selembar foto yang ikut terjatuh dari atas tempat tidur. Rega mengambilnya dan menatap Medina dan foto itu secara bergantian.
"Ini?"
Medina tersenyum, dia mengambil foto itu dari tangan Rega. "Selama aku disini sendirian, maka aku sering mengajak ngobrol anak aku dengan memegang foto ini. Aku bilang jika ini adalah Papa kamu, dia tampan dan sangat baik pada Ibu. Karena saat itu aku tidak pernah mengira jika kamu akan kembali padaku. Jadi aku hanya ingin mengenalkan sosok Ayahnya pada anakku ini"
Rega menatap Medina dengan mata yang berkaca-kaca. Entahlah, dia merasa sangat tersentuh dengan apa yang diucapkan oleh Medina. Bagaimana ada wanita yang hatinya sebaik Medina dan setulus Medina. Dia sudah begitu terluka dan tersakiti, tapi cinta tulusnya pada Rega tidak pernah pudar hanya dengan termakan waktu dan jarak.
"Sayang..."
Rega seolah tidak mampu berkata-kata lagi. Dia langsung memeluk Medina dengan erat. Seolah tidak ada yang mampu dia ucapkan lagi setelah mrngetahui sebesar apa cinta tulus Medina padanya dan perjuangan dia saat harus meninggalkannya.
"Maafkan aku, semuanya juga karena kesalahanku. Bodoh banget karena aku memilih untuk mengakhiri semua dengan kamu tanpa aku ketahui jika kamu sedang mengandung anakku"
Medina tersenyum, dia menepuk pelan punggung Rega yang memeluknya. "Sudahlah, semuanya sudah terjadi dan tidak ada lagi yang perlu kita sesali"
Rega menangkup wajah Medina dengan tangannya. Pipi gadis itu sekarang terlihat lebih tirus. "Sayang, pokoknya mulai saat ini kita akan selalu bersama. Apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama"
Medina tersenyum, dia mengelus lembut pipi Rega. "Terima kasih karena sudah kembali"
Rega mengangguk, dia mendekatkan wajahnya dengan Medina. Semakin dekat dan dekat, hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Ciuman yang sudah lama tidak lagi mereka rasakan. Saling melepaskan kerinduan. Air mata Rega bahkan sampai menetes mengenai pipi Medina, dia begitu merindukan ciuman ini sampai tidak bisa berkata-kata apapun lagi. Hanya mampu meluapkan segala kerinduannya dengan ciuman yang sedang terjadi.
Cukup lama ciuman itu terjadi sampai Medina yang hampir kehabisan nafas, membuat Rega langsung menghentikannya.
Dia menatap Medina dengan matanya yang basah. Medina tentu terkejut melihat Rega yang menangis. Dia mengusap air mata itu di pipi Rega.
"Sayang, kenapa menangis?"
Rega menggeleng pelan, tapi air mata tetap mengalir dari matanya. Dia tidak bisa mengendalikannya, saat ini Rega benar-benar sedang merasa terluka melihat keadaan Medina. Membayangkan bagaimana gadisnya hidup dalam keterpurukan selama ini. Mengandung anaknya dan dia pergi tanpa ada tujuan. Masih beruntung karena ada Ibu Nia yang mau menolongnya dan menampungnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, karena aku kamu harus terluka dan hidup dengan keterlukaan ini"
Medina tersenyum, dia mengelus pipi Rega dan kembali menghapus air matanya. "Semuanya sudah aku lewati, yang penting sekarang kamu benar-benar akan bersamaku dan tidak akan lagi membuat aku terluka"
"Iya Sayang, aku tidak akan pernah berpaling darimu. Karena sampai kapan pun aku tidak pernah bisa berpaling darimu"
Medina tersenyum, dia memeluk Rega dengan erat. Ternyata memang benar, seorang pria akan berani menunjukan kelemahannya di depan wanita yang sangat dicintainya. Karena Adrega yang dikenal banyak orang, adalah pria dingin yang tegas. Tidak akan pernah ada yang menyangka jika dia bisa menangis seperti ini hanya karena seorang wanita seperti Medina.
Namun, memang hanya Medina yang bisa membuat Rega menunjukan kelemahannya. Rega yang sebenarnya rapuh dan terluka dengan kenyataan dalam hidupnya. Rega yang terluka dengan keadaan. Yang tidak pernah mempunyai pilihan sejak kedua orang tuanya meninggal. Semuanya selalu di atur oleh keluarga Selvia dengan alasan karena mereka yang telah membiayai Rega selama ini.
Medina berjalan keluar kamar diikuti Rega di belakangnya. Ibu Nia sudah menunggu mereka diruang tengah. Medina langsung menghampirinya dan duduk di samping Ibu Nia.
"Bu, kalau misalkan Medina kangen sama Ibu boleh ya sesekali Medi datang kesini?"
"Tentu Sayang, kamu bisa berkunjung kesini kapan pun kamu ada waktu. Rumah ini sudah menjadi rumah kamu juga. Makasih ya, selama ini sudah membantu Ibu dan menemani Ibu"
"Iya Nak, Ibu senang membantu kamu. Karena kisah kamu sudah seperti kisah Ibu dimasa lalu. Hanya saja, pria yang menghamili Ibu tidak sebaik Nak Rega. Dia tidak mau bertanggung jawab dan malah menyuruh Ibu untuk menggugurkan kandungan Ibu. Jadi, saat itu karena Ibu frustasi membuat Ibu memilih untuk meninggalkan anak Ibu di sebuah panti asuhan"
Medina melerai pelukannya, dia menatap Ibu Nia dengan tatapan sendu. "Aku juga anak panti asuhan Bu, aku tinggal di panti asuhan Kasih Ibu"
Deg..
******
Akhirnya Pagi ini Medin benar-benar harus pergi. Dia tetap harus kembali ke Ibu kota untuk memulai hidup barunya disana bersama pria yang dia cintai. Meski sebenarnya Medina masih merasa berat untuk meninggalkan Ibu Nia yang sudah begitu baik padanya.
Medina memeluk Ibu Nia untuk yang terakhir kali sebelum dia pergi dari kota ini. "Pokoknya Ibu harus datang di acara pernikahan aku. Mau 'kan kalau Ibu dan Giant menjadi perwakilan keluarga Medina. Karena memang tidak ada keluarga yang aku miliki"
Ibu Nia mengangguk, dia mengelus kepala Medina yang memeluknya. "Iya Nak, Ibu pasti datang"
__ADS_1
"Tenang saja Sayang, aku akan mengutus orang untuk menjemput mereka nanti kesini"
Medina melerai pelukannya, lalu dia menoleh pada Rega yang tersenyum padanya. "Yaudah aku pergi ya Bu. Giant kabari aku ya kalau ada apa-apa"
"Iya Kak siap, aduh kenapa aku sedih ya Kakak pergi"
Medina tersenyum, dia merentangkan tangannya ke arah Giant. "Sini peluk dulu"
Giant langsung menghambur ke pelukan Medina. Dia benar-benar merasa sedih ketika Medina harus pergi dari rumahnya. Padahal Giant sudah merasa nyaman dengan keberadaan Medina. Merasa mempunyai saudara perempuan.
"Kamu baik-baik ya disini, nanti kalau kamu sudah kembali lagi ke Ibu kota kamu hubungi aku. Nanti kita ketemu disana"
"Iya Kak, makasih ya untuk semuanya. Aku senang mengenal Kakak yang tidak pernah pantang menyerah"
"Iya Kak"
"Ekhem!"
Giant tersenyum ketika mendengar deheman keras dari pria yang berdiri di dekat Medina. Dia langsung melepaskan pelukannya dan melirik ke arah Rega yang menatapnya dengan tajam.
"Sudah Kak, itu calon suami Kakak sudah marah sepertinya"
Medina terkekeh, dia menoleh pada Rega, lalu menghampirinya dan memeluknya. "Jangan cemberut kayak gitu dong Sayang. Giant itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri"
"Tapi jangan salah Kak, aku pernah melamar Kak Medina untuk menikah dengannya"
Medina tertawa mengingat hal itu, bagaimana Giant dengan percaya dirinya akan menjadikan Medina sebagai istrinya. Bukan itu masalahnya, tapi Medina melihat bagaimana Giant tulus mengatakan itu. Tapi tentu saja dia tidak akan pernah tahu bagaimana hidup dalam sebuah pernikahan. Apalagi dengan seorang anak yang sudah hadir dalam hidup mereka.
Bersambung
__ADS_1