Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 36 #Semuanya Telah Berakhir#


__ADS_3

Medina tersenyum dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ya, dia sudah mengira tentang hal ini. Sudah pasti Rega akan memilih Selvia, jelas dia adalah istrinya dan sekarang sedang mengandung anaknya. Apalagi yang perlu Rega pertahankan dari Medina.


"Ya, aku akan segera pergi dari rumah ini dan dari kehidupanmu"


Deg..


Rega terdiam, menatap punggung Medina dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Semua ini bukan apa yang dia inginkan. Dia tidak berharap semua ini terjadi, tapi apa yang bisa dia lakukan saat ini ketika semuanya sudah terjadi.


"Me, tolong jangan membenciku"


Medina menggeleng, dia masih membelakangi Rega. Rasanya Medina tidak sanggup jika harus menatap pria itu. "Aku tidak akan membencimu, karena kamu telah menitipkan sesuatu di tubuhku"


Aku tidak mungkin membenci Ayah dari anakku sendiri.


"Aku akan mencarikan kamu rumah baru"


"Tidak perlu, aku bisa cari sendiri"


Medina berlalu dari hadapan Rega, mengurungkan niatnya untuk mengambil minum, dia malah kembali naik ke lantai atas menuju kamarnya. Masuk ke dalam kamar dan tangisannya benar-benar pecah. Medina terduduk di atas lantai dengan tangisan yang tidak bisa dia tahan.


"Kenapa sakit sekali, Tuhan. Kenapa?" Medina memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak. Dia hancur dengan kenyataan yang ada. Tentang dirinya yang harus benar-benar pergi dari kehidupan Rega.


Medina berajalan perlahan ke arah tempat tdiur, menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Meringkuk dan menangis disana sampai dia terlelap dengan sendirinya.


Sementara di kamar tamu, Rega berdiam diri. Duduk di atas lantai, tubuhnya menyandar pada sofa. Rambut yang acak-acakan dengan mata yang sembab. Rega kembali menangis karena kehilangan Medina untuk kedua kalinya. Namun apa yang bisa dia lakukan, ketika kenyataan seolah tidak menginginkan mereka bersatu. Selalu ada cara untuk dirinya dan Medina berpisah.


"Maafkan aku Me, maaf karena aku kembali melukai perasaanmu. Aku tetap mencintaimu, Sayang. Semoga kita bisa di pertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda. Keadaan yang bisa mempersatukan kita tanpa hambatan apapun lagi. Jika itu hanya akan terjadi di kehidupan selanjutnya, maka aku tidak papa mati lebih dulu dan menunggumu"


Keterpurukan yang di alami dua insan yang sama-sama terluka dengan keadaan dan kenyataan yang ada.


******

__ADS_1


Dan pagi ini Medina terbangun dengan tubuh yang benar-benar lemas. Seharian kemarin dia benar-benar tidak makan apapun. Berjalan dengan lemas ke kamar mandi, Medina harus segera bersiap untuk pergi dari rumah ini. Dia akan benar-benar pergi hari ini. Karena sudah tidak ada gunanya lagi dia berada disini. Rega saja sudah menginginkan semuanya berakhir. Itu artinya dia harus segera pergi. Sudah tidak ada lagi yang bisa Medina harapkan disini.


Medina turun ke lantai bawah, menuju dapur yang masih sepi di pagi buta. Mengambil dua lembar roti dan mengolesinya dengan slai. Medina memakan dua lembar roti tawar itu dengan lahap. Dia tidak boleh mengabaikan kesehatannya dan juga anak yang sedang di kandungnya.


Meminum segelas susu, meski bukan susu untuk Ibu hamil. Tapi setidaknya Medina memberikan nutrisi untuk anak di dalam kandungannya. Tangan Medina mengelus perutnya dengan lembut.


"Kita berjuang sama-sama ya Nak, Ibu yakin pasti bisa menjaga kamu dengan baik"


Setelah mempersiapkan semuanya dan Medina benar-benar telah siap untuk pergi meninggalkan rumah ini. Meninggalkan semua kenangan di dalam rumah ini. Ketika dia memabawa tas besarnya dan meraih handel pintu kamar, tiba-tiba semua bayangan bersama Rega di kamar ini terlintas diingatannya.


Medina menghembuskan nafas kasar, dia menoleh kembali. Menatap sekeliling kamar yang dia tempati selama beberapa bulan ini. Tidak bisa dipungkiri, jika dia selalu merasa bahagia dan nyaman saat Rega memeluknya diatas tempat tidur itu.


"Selamat tinggal Rega, aku tetap mencintaimu"


Medina benar-benar keluar dari kamar dan berajalan cepat untuk keluar dari rumah ini sebelum penghuni rumah yang lain terbangun.


Di balik dinding diantara ruang tengah dan ruang tamu. Selvia berdiri, dengan memegangi dadanya. "Maafkan aku Kak, tapi aku harus melakukan ini"


******


Rega menarik kursi dan duduk disana. "Dimana Medina, Se?"


"Aku tidak tahu Kak, belum kelihatan. Coba Kakak lihat dia di kamarnya"


Rega mengangguk, dia berdiri kembali dan berlalu dari dapur. Sementara Selvia hanya menatap punggung Rega yang menghilang di balik pintu dapur. Dia menghembuskan nafas berat dan melanjutkan kembali kegiatannya.


Rega sampai di depan pintu kamar Medina, memutar handel pintu dan pintu langsung terbuka. Itu artinya Medina memang tidak mengunci pintu. Rega masuk ke dalam kamar dengan menutup pintu kamar kembali. Memanggil Medina beberapa kali.


"Me, Medina.."


Rega masuk ke dalam ruang ganti, mencari Medina ke kamar mandi. Tapi Medina benar-benar tidak ada disana. Rega keluar kembali dari ruang ganti dengan perasaan yang mulai panik.

__ADS_1


"Tidak. Medina tidak mungkin pergi tanpa berpamitan denganku" Entahlah sejak semalam Rega benar-benar menjadi pria yang lemah. Matanya mudah sekali mengeluarkan air mata.


Rega melihat sesuatu di atas nakas, dia segera menghampirinya. Sebuah credit card dan kartu atm yang pernah dia berikan pada Medina dengan sebuah amplop berwarna putih di bawah kartu itu. Rega duduk di pinggir tempat tidur, membuka amplop itu yang isinya adalah sebuah surat.


Untuk Adrega Devaro.


Terima kasih untuk semuanya yang telah kamu berikan padaku. Aku bahagia bisa bersamamu, lagi.


Senang saat kamu mengatakan cinta, tidak tahukah sebahagia apa hatiku. Tapi sepertinya kisah kita akan selesai sampai disini.


Aku pergi Ga, jangan cari aku lagi. Karena aku pergi dan akan benar-benar menghilang dari hidupmu. Maaf karena aku mengambil beberapa uang dari kartu atm kamu. Aku membutuhkannya. Nanti kalau aku ada rezeki lebih akan aku ganti. Aku sudah catat nomor rekening kamu. Nanti akan aku transfer.


Selamat tinggal Ga, semoga bahagia bersama istri dan anakmu.


Dari Medina yang selalu mencintaimu.


Tes..


Air mata menetes di atas kertas itu. Rega tidak percaya jika semuanya telah benar-benar berakhir. Tentang dirinya dengan Medina. Bagaimana semua hal indah dalam hidupnya, akan benar-benar berakhir sampai disini.


Rega mendekap kertas berisi tulisan tangan Medina di dadanya. "Maafkan aku Sayang"


Rega berbaring di atas tempat tidur yang biasa dia tempati dengan Medina. Menghirup aroma Medina yang masih tersisa dari bantal dan selimut yang Medina pakai. Meringkuk sambil memeluk bantal bekas Medina. Air matanya tidak pernah berhenti mengalir.


Semuanya telah berakhir..


"Maafkan aku Medina, aku tetap mencintaimu Sayang. Maafkan aku"


Ucapan itu terus berulang terdengar dari mulut Rega.


Seseorang di balik pintu kamar terdiam sambil menyandarkan tubuhnya di dinding samping pintu kamar. "Maafkan aku Kak, tapi aku tidak mau kehilangan Kakak. Aku tidak mau melepaskan Kakak"

__ADS_1


Selvia mengusap kasar air mata yang menetes begitu saja di pipinya. Lalu dia segera pergi dari depan kamar Medina.


Bersambung


__ADS_2