
Medina duduk di depan meja rias, dia baru saja selesai membersihkan diri. Medina menatap liontin yang menggantung di lehernya. Sungguh kalung dengan liontin kupu-kupu kecil itu terlihat sangat indah dan Medina tidak pernah menyangka jika malam ini Rega akan memberikan dia kalung seperti ini dan melamarnya juga.
Pintu ruang ganti yang terbuka membuat Medina menoleh, tersenyum pada Rega yang baru saja keluar dari ruang ganti. Pria itu terlihat lebih segar setelah mandi.
Rega menghampiri Medina dan memeluknya dari belakang. "Kau begitu cantik dengan liontin itu, Sayang"
Medina tersenyum, dia memang sangat menyukai liontin yang diberikan oleh Rega padanya. "Terima kasih ya, Sayang"
Rega mengangguk, lalu dia memberi kecupan di puncak kepala Medina. "Sayang, ayo tidur. Besok Ibu Nia akan dijemput datang kesini"
Medina langsung tersenyum dengan lembut pada Rega dari balik pantulan cermin di epannya. "Benarkah? Aku senang mendengarnya, lalu kalau Giant bagaimana? Apa dia juga akan datang besok"
Rega melepaskan pelukannya, lalu dia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di pinggir tempat tidur. "Sayang, kenapa kamu selalu memperhtikan Giant? Aku bisa saja cemburu jika kau terlalu memperhatikannya"
Medina terkekeh mendengarnya, rasanya dia mulai merindukan rajukan manja dari Rega. Medina tentu tahu jika Rega memang pria pencemburu sejak mereka berpacaran dulu. Jika hanya seorang pra yang tidak sengaja menyapa Medina saja, dia akan marah dan merajuk. Medina berdiri dan menghampiri Rega, duduk disamping Rega dan menyandarkan kepalanya di bahu Rega.
"Aku juga bingung, kenapa aku bisa merasa nyaman dengannya. Tapi rasa...."
"Kau bilang apa?! Kau merasa nyaman dengannya? Berani sekali kau mengatakan itu Medina, aku benar-benar tidak suka kau dekat dengan pria manapun selain aku"
Medina menghela nafas pelan saat Rega tiba-tiba saja marah padanya, padahal dia belum menyelesaikan ucapannya. "Sayang dengar aku dulu, rasa nyamanku pada Giant berbeda dengan rasa nyamanku denganmu. Aku menganggapnya sebagai adikku sendiri. Jadi rasa nyamanku itu seperti dengan orang yang dekat denganku, bukan seperti aku bersamamu yang saling mencintai"
"Tidak ada kata menganggapadik pada siapa pun. Karena kalian tidak mempunyai ikatan darah apapun"
Medina hanya tersenyum dengan ucapan ketus padanya. "Baiklah, aku akan menganggapnya sebagai temanku saja"
"Itu juga tidak boleh, karena tidak ada pertemanan diantara seorang wanita dan pria. Karena dulu juga kita adalah seorang teman, dan pada akhirnya kita tetap saling jatuh cinta"
Medina terkekeh mendengar itu, dia mengingat bagaimana saat dulu dirinya dan Rega hanyalah dua orang asing yang tidak sengaja bertemu. Lalu banyak pertemuan-pertemuan lainnya yang membuat keduanya menjadi seorang teman dan berakhir menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai.
__ADS_1
Medina naik ke atas tempat tidur, berbairing disana. Rega menoleh dan melihat Medina yang terbaring dengan terlentang diatas tempat tidur. Rega langsung naik ke atas tempat tidur dan berbaring diatas tempaat tidur.
Rega menarik bahu Medina aga gadis itu berbalik dan menghadap ke arahnya. "Ibu hamil tidak boleh tidur dengan terlentang seperti itu"
Medina tersenyum, dia beringsut masuk ke dalam pelukan Rega dan terlelap dengan nyaman dalam pelukan Rega. Hingga pagi datang, Rega tersenyum ketika Medina masih berada dalam pelukannya. Dia selalu nyaman ketika Medina berada dalam pelukannya.
Cup..
Rega mengecup kening Medina yang berada didalam pelukannya. Lalu tanganya mengelus perut buncit Medina. "Sehat-sehat ya Nak, jangan membuat Ibumu kamu kesulitan saja. Cukup Papa saja yang membuat Ibumu terluka"
Medina menggeliat pelan, dia sedikit mengucek matanya yang terasa perih karena menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea matanya.
"Aku mengganggumu ya? Maafkan aku ya Sayang" Rega kembali mengecup keningnya.
Medina menggeleng pelan, tidurnya semalam sangat nyenyak membuat pagi ini Medina merasa lebih segar pagi ini. Wajah khas bangun tidurnya selalu membuat Rega gemas melihatnya. Dia mengecup bibir Medina dengan gemas.
"Kenapa kau selalu menggemaskan"
Rega terkekeh dengan kelakuan Medina yang terus menghirup aroma tubuhnya. Hembusan nafas Medina yang terasa di lehernya semakin membuat Rega merasakan sesuatu dalam dirinya bangkit seketika.
"Sayang stop mencium leher ku, kau telah membangunkan sesuatu dalam diriku"
Medina tersenyum, dia tahu apa yang Rega maksud itu. Akhirnya dia memilih untuk menghentikan kegiatannya itu. Takut jika Rega benar-benar tidak bisa menahannya. Medina bangun dan menjaga jarak aman dari Rega.
"Maaf Sayang, karena aku telah membuatnya bangun. Tapi aku benar-benar menyukai aroma tubuhmu dibangun tidur seperti ini"
"Sayang kamu jangan aneh-aneh deh. Aku juga belum mandi, kenapa kau menyukai aroma tubuhku yang belum mandi"
Medina mengangkat bahunya acuh tak acuh, karena dia sendiri tidak tahu kenapa dia bisa menyukai aroma tubuh Rega yang bahkan belum mandi itu. Medina menurunkan kedua kakinya ke atas lantai dan berjalan mengitari tempat tidur menuju ruang ganti.
__ADS_1
"Yang jelas aku menyukai aroma tubuhmu. Aku juga tidak tahu kenapa, mungkin ini adalah keinginan anakmu" kata Medina sebelum dia masuk ke dalam ruang ganti.
Mendengar hal itu, Rega tesenyum. Dia pernah mendengar tentang hal yang hanya di alami oleh Ibu hamil. "Pasti Medina sedang mengidam saat ini. Oh, aku akan selalu menuruti apapun keinginannya karena selama ini dia pasti hanya seorang diri dan mewujudkan semua keinginannya seorang diri"
Hahh...
Rega menghembuskan nafas pelan, jelas dia selalu merasa menyesal karena semua itu. Semua penyesalan yang Rega rasakan selama ini. Bagaimana dia telah membuat Medina terluka dengan semua yang telah terjadi diantara mereka.
Mulai saat ini aku akan membahagiakanmu, Sayang. Aku tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kita lagi.
Rega segera menyusul Medina ke ruang ganti. Saat dia ingin membuka pintu kamar mandi, namun pintu kamar mandi yang terkunci membuat Rega menggedor pintu.
"Sayang buka pintunya! Sejak kapan kau suka mengunci pintu saat di kamar mandi"
Rega tentu tahu kebiasaan Medina yang tidak pernah mengunci pintu kamar mandi saat dia berada di dalamnya. "Sayang buka, sedang apa kau di dalam? Kenapa kau mengunci pintunya?"
Medina yang sedang mandi segera menyelesaikan mandinya karena gedoran di pintu kamar mandi. Sebenarnya Medina hanya tidak sengaja mengunci pintu kamar mandi saja. Bukan karena hal apa-apa. Tapi, Rega pasti sudah berfikir kemana saja. Menganggap jika Medina sedang berada dalam situasi yang berbahaya.
"Sa..." Baru saja Rega akan kembali berteriak memanggil Medina. Tapi pintu keburu terbuka.
"Sayang, ada apasi? Aku sedang mandi"
Rega menatap Medina dengan tajam. "Kenapa mengunci pintu? Kau tidak biasa mengunci pintu kamar mandi"
"Aku hanya tidak sengaja mengunci pintu, kamu kenapa si? Aku tidak papa Sayang"
Rega melengos kesal, karena sekarang Medina sudah selesai mandi. Maka rencana untuk mandi bersama dengan Medina tidak bisa terwujud.
"Yaudah, cepat pakai baju. Kau bisa demam"
__ADS_1
"Iya Sayang, sayang"
Bersambung