
"Kakak..." Selvia terkejut ketika melihat Kakak laki-lakinya datang ke rumahnya. Dia langsung menghambur ke pelukan Kakaknya itu. "...Kakak datang kok gak bilang-bilang"
"Iya Se, Kakak hanya ingin melihat keadaan kamu. Apa semakin membaik?"
Selvia mengangguk, dia melerai pelukannya dan menatap sang Kakak. "Aku baik Kak, suamiku benar-benar menjagaku dengan baik. Bahkan dia tidak mengizinkan aku melakukan apapun yang akan membuat aku lelah"
Kendra mengelus kepala adiknya itu, dia senang melihat adik kesayangannya tersenyum bahagia seperti ini. "Kakak senang mendengarnya"
"Yaudah, ayo kita masuk Kak"
Kendra mengangguk, dia mengikuti adiknya untuk masuk ke dalam rumah. Melihat sekelilingnya. "Rumahnya nyaman Dek, bisa juga suami kamu memilih rumah"
Selvia tersenyum, dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. "Iya Kak, memang suamiku itu pandai dalam segala hal. Sini, duduk Kak"
Kendra mengangguk, dia menghampiri Selvia dan duduk di samping adiknya itu. Keduanya asyik mengobrol berbagai hal, sampai suara langkah kaki mengalihkan obrolan mereka.
"Eh Kak, sudah pulang ya"
"I-iya Se" Medina sedikit terkejut saat di rumah tidak hanya ada Selvia. Tapi ada seorang tamu yang dia tidak kenal.
Kendra menoleh ke arah Medina, dan entah kenapa dia merasa tidak bisa mengalihkan tatapannya pada gadis itu. Kendra merasa.... Tertarik pada Medina.
"Oh ya Kak, kenalin ini Kakak aku"
Medina mengerjap, dia tersenyum dan segera berjalan mendekat pada mereka. Dia mengulurkan tangannya pada Kendra. "Saya Medina, sepupunya Rega"
Kendra segera berdiri, dia menerima uluran tangan Medina dengan tatapannya yang tidak pernah beralih dari wajah Medina. "Emm. Saya Kendra, Kakaknya Selvia"
Medina sedikit menarik paksa tangannya yang terus di genggam oleh Kendra. "Kalau begitu, saya permisi dulu ke kamar ya"
"Iya Kak, istirahat sana"
Tatapan Kendra bahkan mengikuti langkah Medina hingga menaiki anak tangga. Menatap punggung gadis itu sampai dia masuk ke dalam kamar. Selvia yang melihat itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ngapain Kak? Suka ya sama Kak Medi?" Selvia kembali menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
Kendra menoleh pada adiknya, lalu kembali duduk di samping Selvia. "Dek, sejak kapan dia tinggal disini?"
"Sejak aku pindah ke rumah ini, Kak Medi memang sudah ada disini. Dia memang tinggal disini, karena sudah tidak punya keluarga. Ya, keluarga satu-satunya dia hanya Kak Rega"
__ADS_1
Kendra menatap ke lantai atas, menatap pintu kamar yang tadi Medina masuk ke dalamnya. "Kasihan sekali dia"
Selvia tersenyum melihat Kakaknya, sepertinya memang benar kalau Kendra memiliki ketertarikan lebih pada Medina. "Kakak suka sama Kak Medi?"
Kendra menoleh pada adiknya, lalu mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Kakak hanya merasa tertarik saja padanya"
Selvia tertawa mendengarnya. "Tertarik bisa jadi cinta loh Kak, hati-hati dengan kata tertarik itu"
Kendra tidak menjawab, dia hanya sedang memikirkan tentang gadis yang baru pertama kali dia temui, namun memberi kesan berbeda untuknya.
******
Selesai mandi dan beristirahat sebentar, Medina kembali turun ke lantai bawah untuk segera menyiapkan makan malam. Hari sudah petang, sudah waktunya dia masak sebelum Rega pulang dari pekerjaannya.
Mengambil beberapa bahan di dalam kulkas, Medina mulai berkutat dengan alat masak di dapur. Saat dia sedang menyelesaikan masakan terakhirnya, Medina harus dikejutkan dengan suara seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dapur.
"Wahh, baunya enak sekali"
Medina hampir terlonjak kaget, dia berbalik dan menatap Kendra yang berada di dekat meja makan. Sedang mengamati makanan di atas meja yang sudah Medina buat.
Kendra menatap Medina dengan tersenyum. "Hebat sekali kamu, bisa masa sebanyak ini seorang diri"
"Selvia mengajak aku untuk makan malam disini. Dan sepertinya hari ini memang keberuntungan aku, bisa makan masakan kamu" Kendra berkata sambil berjalan mendekati Medina. Berdiri menyandari di meja kompor samping Medina yang sedang mengaduk masakannya di dalam wajan.
"Ohh ya, kamu masih kuliah ya"
Sebenarnya Medina sedikit tidak nyaman saat Kendra mulai mendekatinya dengan pertanyaan-pertanyaan tengang kehidupannya seperti ini. Tapi dia juga tidak bisa untuk mengacuhkannya, terlalu tidak sopan.
"Iya"
Medina selesai dengan masakan terakhirnya, menuangnya ke atas piring lalu membawanya ke meja makan. Kendra masih di posisinya dan terus mengikuti kemana Medina melangkah. Melihat sikap cuek Medina, malah semakin membuat Kendra tertarik padanya.
"Medina, ayo pergi jalan denganku kapan-kapan"
Medina seketika langsung menoleh pada Kendra. Dia sudah menduganya, karena rasanya tidak mungkin Kendra terus mengajaknya bicara jika tidak ada hal lain yang dia inginkan darinya.
"Tidak bisa, saya banyak urusan"
Kendra tersenyum, dia berjalan mendekati Medina. "Kan tidak sekarang, kapan-kapan saja kalau kau punya waktu luang"
__ADS_1
Medina merasa jika Kendra semakin dekat dengan tubuhnya. Disaat dia sedang menata makanan di atas meja. Tangan Kendra berada di atas meja dekat tubuh Medina dan saat Medina menoleh, wajahnya benar-benar berada di dekatnya sekarang.
"Kak apaan si"
Kendra tersenyum, dia senang melihat wajah polos Medina ini. "Kenapa memangnya? Kau tidak suka aku seperti ini, apa mungkin akan ada yang marah. Pacarmu?"
Medina mendorong dada Kendra agar menjauh darinya, tapi percuma karena tubuh tegap itu sama sekali tidak terusik dengan dorongan tangan Medina.
"Kakak mau apasi sebenarnya?" Medina mulai kesal dan tidak lagi menunjukan rasa hormatnya pada Kendra, seperti tadi.
"Aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi Medina, aku tertarik padamu"
Deg..
"Kalian sedang apa?"
Keterkejutan Medina bukan hanya karena ucapan Kendra barusan. Tapi suara bariton yang tiba-tiba muncul. Medina segera mendorong tubuh Kendra dengan sekuat tenaganya, dan kali ini pria itu mengalah. Menjauh dari tubuh Medina.
Medina menoleh ke arah Rega yang berdiri di ambang pintu dapur dengan tatapan tajam.
"Hai Ga, sudah pulang ya. Aku sengaja berkunjung ke rumahmu ini"
"Harap sopan jika sedang berada di rumah orang lain!"
Ucapan dingin Rega membuat Medina merinding sendiri. Dia tahu bagaimana pria itu jika merasa miliknya terusik oleh orang lain. Rega berjalan melewati Medina yang masih berdiri di tempatnya. Mencuci tangan di wastafell, lalu duduk di kursi meja makan.
"Kau panggil Selvia, aku lapar ingin segera makan"
"Kenapa kau menyuruh aku? Kau yang suaminya"
"Kau juga Kakaknya"
Akhirnya Kendra hanya mendengus kesal, dan akhirnya dia berlalu dari dapur untuk memanggil Selvia di dalam kamarnya.
Medina melirik Rega yang masih menatapnya dengan tajam. Membuat dirinya takut saja.
"Jauhi dia!"
Ultimatum pertama yang harus Medina lakukan. Tanpa banyak bicara, Medina hanya mengangguk.
__ADS_1
Bersambung