
Medina masih terdiam dengan ucapan Rega barusan. Dia masih belum tahu apa alasan Rega menikahi Selvia. Tapi, sekarang tiba-tiba saja Rega ingin menceraikan istrinya itu.
Medina melepas pelukan Rega dan berbalik menghadap pria itu. "Sayang, kamu gak pernah cerita apa alasan kamu menikahi Selvia. Tapi sekarang kamu tiba-tiba akan menceraikan dia karena aku, jelas aku akan merasa sangat bersalah padanya"
Rega menggeleng pelan, dia meraih kedua tangan Medina dan menggenggamnya. "Aku menikahinya bukan karena cinta, Me. Aku menikahinya karena suatu alasan"
"Ya alasan apa? Aku harus tahu"
Tidak ada pilihan lain selain Rega mulai menceritakan semuanya. Tentang pernikahannya yang terjadi dengan Selvia. Tentang jalan hidupnya yang tidak semudah yang di kira orang-orang.
"Mungkin semua orang yang melihatku akan merasa bahwa aku adalah pria paling beruntung di dunia ini. Aku hanya seorang anak supir yang meninggal di usia aku yang masih muda. Lalu, dengan baik hatinya majikan Ayah aku mau merawat aku, bahkan membiayai aku sampai lulus kuliah di luar negara. Dan sekarang sudah sukses seperti ini. Tapi, mereka tidak tahu di balik semua itu, aku selalu tertekan dengan bahasan yang selalu bersangkutan tentang hutang budi. Sampai aku pun tidak bisa memilih calon istriku sendiri"
Medina langsung memeluk Rega, untuk pertama kalinya Medina melihat sisi rapuh dari pria ini. Rega menghela nafas, mencoba menahan diri untuk tidak sampai meneteskan air mata.
"Sudah ya, tidak perlu diceritakan lagi. Aku mengerti keadaan kamu, jadi sekarang aku akan mendukung setiap keputusan kamu"
Rega memeluk Medina dengan erat, dari dulu hanya wanita ini yang bisa membuat hatinya tenang. Hanya Medina yang selalu nyaman di ajak bercerita. Rega bersyukur karena kini dia telah kembali bersama gadisnya ini.b
"Tolong jangan pergi Sayang, jangan tinggalkan aku"
Medina mengangguk dalam pelukan Rega. "Aku tidak akan pergi selama kamu tidak menyruhku pergi"
Rega melerai pelukannya, menatap Medina dengan lekat. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih mual?"
"Tidak papa, mungkin hanya masuk angin saja. Sudahlah, sekarang kamu pindah ke kamar Selvia ya"
Rega cemberut mendengar itu, dia memeluk kembali Medina dan mencium puncak kepalanya. "Gak mau, aku pengen terus sama kamu"
Medina terkekeh mendengarnya, ternyata Reganya masih sama. Selalu bersikap manja padanya, meski di luaran sana dia terkenal dengan sikap dinginnya. Tapi ketika bersama Medina, dia selalu memperlihatkan sosok manja yang menggemaskan.
Medina mengelus kepala Rega dengan lembut. "Sayang, untuk saat ini kamu masih harus menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Jadi, kembali dulu ke kamar Selvia"
Akhirnya mau tidak mau, Rega tetap harus kembali ke kamar Selvia. Sampai di kamarnya, ternyata Selvia sudah bangun. Tidak biasanya dia bangun sepagi ini, membuat Rega bingung harus memberi penjelasan apa jika dia bertanya.
"Sayang, darimana? Kok aku bangun kamu tidak ada?"
__ADS_1
Rega menatap wajah polos itu, sebenarnya dia tidak benci Selvia. Sejak kecil mereka selalu hidup bersama. Rega menyayanginya seperti seorang adik, sampai dia sadar jika Selvia ternyata memiliki perasaan yang lebih padanya.
"Aku dari ruang kerja, semalam ada pekerjaan yang harus selesai pagi ini dan aku lupa. Jadi baru di kerjakan"
Selvia mengangguk mengerti, dia memeluk Rega dan ingin mencium bibir pria itu. Namun, Rega menghindar. Hampir setiap Selvia ingin menciumnya, Rega selalu menghindar.
"Aku belum mandi Se, aku akan mandi dulu"
Rege melepaskan pelukan Selvia dan berlalu ke kamar mandi. Berendam di dalm bak mandi dengan air hangat dan aromaterapi. Membuat tubuh Rega sedikit rileks. Hatinya sedikit lega ketika dia mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Tentang perasaannya pada Medina yang masih sama sampai saat ini. Namun, kisah mereka masih terhalang keadaan yang ada.
******
Medina menghela nafas ketika dia melihat Kendra yang kembali datang menjemputnya pulang. Seperti biasa pria itu menunggu di depan gerbang kampus.
"Kak, kenapa datang lagi? Aku sudah pesan taksi online" Medina mengatakan itu sambil menatap ke arah mobil yang selalu berhenti di sebrang jalan.
"Batalin saja Me, aku ingin menjemputmu. Oh ya, sampai saat ini aku belum mempunyai nomor ponselmu"
Medina memang bukan tipe orang yang gampang sekali memberikan nomor ponsel atau semua hal pribadi pada orang lain. Apalagi dengan orang yang baru dia kenal.
Deg..
Kendra terdiam, dia seolah telah di tolak bahkan sebelum dia sempat mengungkapkan kata cinta. Namun, tidak apa. Karna dia akan terus menantikan harapan yang baru. Meski Medina mengatakan hal seperti itu, tapi Kendra tidak akan berhenti begitu saja sampai disini.
"Tidak apa, aku masih bisa menjadi temanmu 'kan?"
Hal ini yang tidak bisa Medina tolak, mengajak berteman adalah hal yang jarang Medina dengar dari beberapa orang yang mengenalnya. Semua cenderung tidak mau kenal apalagi berteman dengan Medina.
"Iya Kak, tidak papa"
Drett..Drett...
Medina merogoh tasnya ketika ponselnya bergetar. Melihat siapa yang menelepon, membuat Medina langsung menatap ke arah mobil yang berhenti di sebrang jalan itu.
"Maaf kak, hari ini sepertinya aku tidak bisa pulang dengan Kakak. Terima kasih sudah repot-repot mau menjemputku"
__ADS_1
"Iya Me, tidak papa. Tapi, aku tidak mau kehilangan lagi kesempatan. Minta nomor ponselmu" Kendra menyodorkan ponselnya pada Medina, meminta gadis itu menuliskan nomor ponselnya.
Medina menghela nafas, akhirnya dia memberikan apa yang diinginkan Kendra. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Kendra segera pergi dari kampus Medina membuat Medina menghela nafas lega.
Dia berjalan menyebrangi jalan, menghampiri mobil Rega yang sejak tadi terparkir disana. Masuk ke dalam mobil, Medina langsung di suguhi tatapan tajam dan tidak suka dari Rega.
"Lama sekali, senang ya mengobrol dengan pria lain"
Medina memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Dia menatap Rega yang sedang dalam mode kesal padanya. "Ya, masa aku tinggalin gitu aja pas dia masih ajak aku bicara. Kan gak sopan"
"Dia minta apa sama kamu?"
Duh, dia marah gak ya kalau aku kasih nomor ponsel pada Kak Kendra.
"Aku menjelaskan kalau aku punya orang yang aku suka, jadi aku tidak bisa terus memberinya harapan"
"Bagus. Memang itu yang harus kamu lakukan"
Medina hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sudah terbiasa dengan sikap Rega yang satu ini. Posesif dan pencemburu. Menjalin hubungan dengannya sejak dulu, jelas Medina tahu bagaimana sifat Rega.
"Ihh, itu apa?"
Rega langsung menoleh pada Medina, lalu melihat ke arah apa yang di maksud Medina. Seorang pedagang kaki lima yang menjual makanan pedas berkuah dengan berbagai macam kerupuk dan mie di dalamnya. Terkadang memakai tulang ayam atau telur juga.
"Kamu mau?"
Medina mengangguk dengan mata berbinar, membayangkan dia memakan kuah pedas yang ada di makanan itu. Sampai membuat dia menelan ludahnya sendiri.
Rega tersenyum dengan ekspresi Medina ini, dia mengelus kepalanya. Lalu memundurkan kembali mobilnya dan berhenti tepat di depan pedagang itu.
"Satu Pak, yang pedas ya"
"Siap Neng"
Bersambung
__ADS_1