
Siang hari pihak dari wedding organizer benar-benar datang dan mulai melakukan tugasnya. Medina hanya menatap dari jendela kamarnya saja. Bagaimana halaman rumah ini tengah di hias dengan beberapa bunga dan hiasan lainnya. Pelaminan juga sudah terpasang, meski masih belum benar-benar terpasang dengan rapi.
Medina mengelus perutnya, merasa jika semua ini masih terlalu seperti mimpi baginya. Bagaimana saat ini dia melihat semua persiapan pernikahannya dengan Rega. Setelah melewati banyak rintangan yang telah mereka lewati selama ini.
"Sayang, jangan berdiri terus"
Medina menoleh pada Rega yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah dia mengecek keadaan di bawah. Memberi petunjuk pada orang-orang dari wedding organizer untuk melakukan tugasnya dengan baik. Semuanya harus sesuai dengan keinginannya.
"Sayang, sini deh..." Medina melambaikan tangannya pada Rega, meminta Rega untuk mendekat padanya. "...Kenapa semua terasa terlalu mewah ya?"
Rega mengerutkan keningnya mendengar ucapan Medina. Dia berjalan mendekat padanya dan memeluk Medina dari belakang. "Apanya yang terlalu mewah? Semuanya sudah sesuai keinginanmu. Pernikahan yang sederhana"
Medina menatap ke arah halaman rumah, dimana orang-orang sedang disibukan dengan pekerjaan mereka masing-masing. "Tapi Sayang, ini sangat mewah. Meski tidak menyewa gedung tapi ini benar-benar pernikahan yang mewah. Dari hiasannya saja sudah sangat mewah. Kamu ngerti sederhana maksud aku gak si?"
"Iya Sayang, aku mengerti. Makanya aku mengadakan acara pernikahan kita di rumah. Tidak menyewa gedung, dan aku juga hanya mengundang sekitar seribu orang lebih"
Medina tercengang mendengar itu. Rega mengatakan itu dengan santai, sementara Medina benar-benar terkejut dengan ucapannya barusan. Ini si bukan sederhana. Gumamnya.
"Sederhana yang aku bicarakan adalah hanya mengundang keluarga terdekat saja. Bukan malah mengundang banyak orang seperti ini"
"Sayang, mau sesederha apapun pernikahan kita. Aku tetap ingin pernikahan kita di ketahui banyak orang. Aku tidak mau sampai ada yang menganggap kamu hanya seorang istri simpanan saja karena acara pernikahan kita yang tertutup"
Deg..
Medina langsung menoleh pada Rega, entah kenapa dia begitu tersentuh dengan ucapan Rega barusan. Dia merasa jika Rega begitu memikirkan dirinya dan perasaannya. Rega ingin melindungi Medina dari ucapan orang-orang yang akan melukai hatinya.
Medina berbalik dan memeluk suaminya dengan erat. Menyandarkan kepalanya di dada Rega dengan isakan kecil. "Sayang, terima kasih untuk semuanya"
__ADS_1
Rega mengelus kepala Medina, lalu mengecupnya. "Sayang, kamu kenapa menangis? Apa perkataanku membuat kamu menangis?"
Medina menggeleng, dia mendongakan wajahnya dan menatap Rega dengan mata berkaca-kaca. "Aku merasa sangat dicintai olehmu"
Rega tersenyum mendengar itu, dia mengecup bibir Medina dan kecupan itu mulai memberikan luma*tan halus di bibirnya. Rega menahan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya itu. Ciuman yang selalu membuat Rega rindu. Merasakan setiap kecapan diantar bibir keduanya dengan nikmat. Keduanya saling memejamkan mata dan menikmati ciuman yang berlangsung beberapa menit itu.
Hingga medina mulai kehabisan nafas, barulah Rega melepaskan tautan bibisr mereka. Medina memukul dada rega dengan kesal dengan sebelah tangan mengusap bibirnya yang basah.
"Sayang, kamu mau buat aku kehabisan nafas ya?"
Rega terkekeh melihat kekesalan medina padanya. Bukannya mints maaf, Rega malah memeluk Medina dengan lembut. "Sayang, entah kenapa aku selalu merasa candu dengan bibirmu ini. Sampai aku suka gak bisa berehenti"
Medina mendengus kesal mendengar ucapan Rega barusan. Memukul dada Rega dengan kesal. "Apaan si kamu ini, malu tahu"
Rega terkekeh melihat wajah merah Medina. Cup... Dia memberikan kecupan hangat di kening Medina. "Aku mengatakan yang sebenarnya, memangnya kenpa? Aku 'kan calon suami kamu jadi aku bebas mau mencium kamu dimana pun dan kapan pun"
Medina melepaskan pelukan Rega ditubuhnya. Lalu melangkah menuju pintu kamar. Namun, sebelum langkahnya sampai di pintu kamar tangannya langsung ada yang menahan. Menarik tubuhnya ke belakang hingga tubuh Medina terjatuh dalam pelukan Rega. Pria itu memeluk tubuhnya dengan erat, seolah tidak akan membiarkan Medina pergi dari hadapannya.
"Sayang apaan si, aku mau masak dulu ih. lepasin dulu" Medina mencoba untuk melepaskan pelukan Rega, namun pria itu malah semakin erat melingkarkan tangannya di dada Medina.
"Bisa tidak untuk hari ini, kamu tetap berdiam diri saja. Sekarang adalah waktunya kamu untuk istirahat"
Bolehkah saat in Medina merasa jika dirinya memang seberharga itu bagi Rega. Disaat dulu, bagaimana dirinya bekerja keras untuk membiayai hidupnya sendiri. Tapi sekarang benar-benar ada yang memberinya perhatian. Seolah ha kecil seperti memasak saja tidak boleh dia lakukan karena takut dirinya akan lelah.
Medina memegang lengan Rega yang berada di dadanya. "Sayang aku tidak bisa jika hanya berdiam diri begini saja. Aku bosan, lagian memasak bukanhal besar yang akan membuat aku lelah atau kecpean"
"Iya aku tahu, tapi untuk hari ini saja aku ingin kamu berdiam diri saja dan tidak perlu melakukan apapun. Kau lupa jika tadi pagi saja kau muntah-muntah lagi. Jadi tolong untuk hari ini beristirahat saja"
__ADS_1
Sepertinya untuk saat ini Medina tidak bisa membantah ucapan Rega. Wajar saja jika Rega begitu megkhawatirkan dirinya, karena ini adalah pengalaman pertama baginya menghadapi ibu hamil sepertinya.
"Yaudah iya, untuk saat ini aku hanya akan berdiam diri saja. Karena calon suamiku yang melarang aku mengerjakan apapun"
Rega tersenyum senang karena Medina menuruti apa pekataannya. Rega mencium kepala Medina. "Terima kasih Sayang, kamu wanitaku yang selalu menurut apa perkataanku. Kecuali satu kali kamu tidak menurut padaku"
Medina berbalik dan menatap Rega dengan kening yang berkerut. Merasa jika ucapan Rega membuat dirinya bingung. "Memangnya kapan aku tidak menurut padamu?"
"Ketika kamu pergi dari rumah ini, aku 'kan sudah pernah bilang jika aku tidak menyuruhmu pergi dari kehidupanku. Tapi kamu malah benar-benar pergi dan menghilang dari kehidupanku. Samapai aku benar-benar bingung harus mencarimu kemana lagi. Apa kamu tahu bagaimana aku begitu terpuruk saat kamu pergi dan hilang dari kehidupanku? Aku benar-benar hampir gila, Medina!"
Medina menatap Rega dengan mata yang berkaca-kaca. Jelas dia melihat bagaimana Rega begitu rapuh saat ini. Medina memeluk Rega dengan erat, seolah memberi tahukan jika mulai saat ini, Medina tidak akan meninggalkan Rega lagi.
"Sayang tenanglah aku tidak akan pergi lagi dari hidupmu. karena mulai saat ini dan seterusnya aku akan selalu berada di sisimu"
"Ya aku akan pegang janjimu itu!"
"Yaudah sekarang kita keluar saja, aku ingin lihat persiapan untuk acara pernikahan kita"
Rega mengangguk, dia menggandeng tangan Medina dan membawanya keluar kamar. "nanti malam kita makan di luar saja. Aku sudah memesan tempat di Restaurant Alavaro"
Medina mengangguk sebagai jawaban. Mereka sampai di halaman depan rumah ini. Medina menataap persiapan untuk acara pernikahannya yang masih butuh banyak penyelesaian lainnya.
Menatap tanganya dan tangan Rega yang saling bertaut. Medina tersenyum pada beberapa orang yang berpapasan dengannya.
"Jangan tersenyum seperti itu, Sayang! Kau terlihat cantik dengan senyumanmu itu" bisik Rega ditelinga Medina, membuat gadis itu tersenyum.
bersambung
__ADS_1