Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 37 #Medina Pergi#


__ADS_3

"Terima kasih Pak, saya begitu bangga bisa menjadi murid Bapak selama ini"


Medina mengambil sertifikat kelulusannya lebih awal, dia tidak akan mengikuti acara wisuda dengan alasan akan pindah rumah ke tempat yang jauh dari sini. Dan beruntung Dosen pembimbingnya mengerti dan mengizinkan.


"Iya Medina, selamat menempuh kehidupan baru kamu di tempat yang baru"


Medina mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Dosen. Setelahnya dia segera berpamitan. Medina harus segera pergi untuk pergi ke kota yang dia tuju. Medina harus segera pergi meninggalkan Ibu kota. Dia tidak mau terus berada di tempat yang menyakitkan ini. Tempat yang menjadi saksi bisu kisah cintanya yang tetap kandas.


"Sayang, ayo kita memulai hidup baru di tempat yang baru" Medina mengelus perutnya dengan lembut. Dia naik ke dalam gerbong kereta. Duduk di salah satu kursi disana dengan tas yang berada di atas pangkuannya.


Ketika kereta yang dia tumpangi mulai melaju, Meidina menatap ke arah luar jendela. Air matanya menetes begitu saja, tanpa bisa dia tahan. "Selamat tinggal Rega, selamat tinggal semua kenangan"


Medina benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Dia menangis dengan sesenggukan di dalam kereta. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak lagi peduli pada banyak orang yang menatap bingung ke arahnya.


"Nak, kenapa?"


Suara lembut seorang Ibu yang duduk di sampingnya membuat Medina mendongak dan menghapus sisa air matanya. Medina menggeleng pelan. "Tidak papa Bu"


"Kamu mau kemana Nak?"


Medina menggeleng pelan, dia memang belum memiliki tujuan yang sebenarnya. Entah dia akan tinggal dimana nanti. "Saya tidak tahu Bu, saya sedang ingin pergi dari kepedihan hidup saya di Ibu kota"


Ibu paruh baya yang duduk di samping Medina, menatap iba pada Medina yang terlihat kehilangan ari hidup. "Ikut Ibu mau?"


Dan entah kenapa Ibu itu merasa harus menolong Medina. Dia melihat jelas bagaimana Medina yang sangat rapuh. Medina yang penuh luka. Ibu itu merasa jika dia harus menolongnya.


"Kemana?"


"Ke rumah Ibu, kamu tahu Ibu hanya tinggal sendiri. Anak Ibu satu-satunya bekerja di Ibu kota. Ini Ibu habis berkunjung darinya"


Medina mengangguk mengerti, dia seperti bertemu dengan sosok malaikat yang mau menolongnya di saat dia yang begitu rapuh dan tidak tahu arah tujuan. Membuat Medina kembali menangis dan memegang tangan Ibu itu. "Terima kasih Bu, terima kasih banyak. Ibu bagaikan malaikat penolong untuk aku"


"Iya Nak, oh ya siapa namamu?"

__ADS_1


"Medina Bu"


"Baiklah, kamu bisa panggil saya Ibu Nia"


Medina mengangguk, dia mencium punggung tangan Ibu Nia dengan tangisan yang pecah. Merasa bersyukur disaat tersulit dalam hidupnya, dia dipertemukan dengan sosok baik seperti Ibu Nia.


Beberapa jam perjalanan, membuat Medina cukup lemas. Beruntung dia tidak sampai muntah-muntah, dia hanya merasa pusing saja. Hingga akhirnya kereta yang dia tumpangi sampai di stasiun yang d tuju. Medina dan Ibu Nia turun dari dalam kereta.


"Mari ikut Ibu Nak"


Medina mengangguk, dia mengikuti langkah Ibu Nia. Naik ke dalam mobil angkutan umum di kota ini. Medina benar-benar hanya mengikuti kemana Ibu Nia membawanya. Kota ini adalah tempat baru untuk Medina. Dia benar-benar tidak tahu harus pergi kemana dan bagaimana. Beruntung sekali karena dia bertemu dengan Ibu Nia yang begitu baik hati dan mau menolongnya.


Turun dari angkutan umum, lalu berjalan masuk ke sebuah gang. Melewati tiga rumah dan akhirnya sampai di rumah Ibu Nia. Sederhana namun terawat, begitulah rumah Ibu Nia.


"Ayo masuk Nak"


Medina mengangguk, dia masuk dengan sedikit ragu. Suasana yang sepi yang dia rasakan ketika dia masuk ke dalam rumah ini.


Medina mengangguk, dia menghela nafas pelan. Duduk di kursi yang ada di ruang tengah ini. "Tapi Bu, Medi...."


Medina ragu untuk mengatakannya, tapi tidak mungkin juga dia berbohong pada Ibu Nia yang telah begitu baik dan menerimanya. "Medina... sedang hamil, Bu"


Ibu Nia terdiam, lalu beberapa saat kemudian dia tersenyum. Meraih tangan Medina dan menggenggamnya. "Tidak papa, Ibu akan menerima kamu dan anak kamu. Jika kamu tidak ingin cerita tentang kehidupan kamu, juga Ibu tidak akan memaksa"


Medina menunduk, dia memang belum siap menceritkan tentang kisahnya bersama Rega. Rasanya Medina akan sangat terluka ketika menceritakan semuanya. Dia sudah ingin memulai hidup baru dan mencoba melupakan tentang masa lalu dalam hidupnya. Meski dia tidak yakin jika dia akan bisa melakukan itu.


"Maafkan Medina Bu, untuk saat ini aku belum bisa cerita. Tapi jelasnya aku hamil tanpa menikah, Ayah dari anak ini mempunyai istri"


Melihat Ibu Nia yang terdiam membuat Meidna mendongak dan menatap wajah Ibu Nia yang jelas terkejut mendengarnya. Medina merasa jika Ibu Nia akan membatalkan bantuannya pada Medina ketika dia mendengar cerita Medina barusan.


"Kalau Ibu keberatan, Medina bisa pergi saja Bu. Tidak papa kok, Medina sadar jika keadaan Medina ini akan membuat Ibu malu"


"Tidak Nak, bukan seperti itu. Ibu hanya terkejut saja, dan ada pengalaman yang sama yang pernah Ibu alami di masa lalu"

__ADS_1


"Maksudnya Bu?"


"Dulu, Ibu pernah hamil di luar nikah seperti kamu. Tapi bodohnya, Ibu tidak sekuat kamu. Ibu membuang anak itu. Dan sekarang Ibu menyesal, Ibu ingin bertemu dengan anak Ibu itu. Tapi sayang, sepertinya tidak akan pernah bisa bertemu. Mungkin jika dia ada, usianya akan sama denganmu"


Medina terdiam, dirinya merasa jika hal sulit yang dia alami saat ini. Mungkin juga pernah dialami oleh orang lain.


"Sama seperti kamu Nak, Ibu datang kesini juga sebagai pelarian hingga Ibu merasa nyaman dan tenang disini dan menemukan suami Ibu yang mau menerima Ibu apa adanya dengan masa lalu Ibu yang tidak baik"


Medina tersenyum, dia mengelus punggung tangan Ibu Nia yang menggenggam tangannya. "Ibu hebat, semoga nantinya aku juga bisa menemukan jodoh yang baik ya Bu. Mau menerima keadaan aku dan anak aku"


Tapi hati ini tetap berharap jika orang itu adalah Rega. Bodoh Medina, kamu memang bodoh!


"Iya Nak, pasti kamu akan menemukannya. Percayalah pada takdir Tuhan"


Dan hari ini adalah awal hidup baru Medina dimulai. Menjalani kehidupannya dengan calon bayi yang berada di kandungannya.


Ibu Nia menunjukan kamar kosong yang bisa di tempati oleh Medina. Dia membereskan beberapa barang yang dia bawa di dalam lemari kosong yang ada di kamar itu. Medina mengelus perutnya dengan lembut, duduk di pinggir tempat tidur.


"Sabar ya Nak, Ibu akan membuat kamu bahagia meski kita hanya hidup berdua. Tanpa Ayah kamu, tapi Ibu akan berusaha untuk membuat kamu bahagia"


Ketika cinta yang tidak bisa hilang, namun keadaan memaksanya untuk pergi dan menghilang. Dan sekarang Medina hanya bisa mencoba untuk melupakan semua tentang masa lalunya. Meski dia tidak yakin jika dia bisa melakukan itu.


Pada kenyataannya sampai saat ini, Rega masih pemilik hatinya.


Suara pintu yang terbuka membuat Medina menoleh, dia melihat Ibu Nia yang berdiri di ambang pintu.


"Me, ayo kita makan. Ibu sudah masak"


"Iya Bu"


Medina keluar dari kamarnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2