
Giant menatap dengan panik dan cemas layar laptop yang berada di depan temannya ini. "Bagaimana apa sudah ketemu?"
"Sebentar, ini sedang proses"
Ting...
Suara dari laptop itu langsung membuat Giant menatap ke arah layar laptop yang menyala. "Bagaimana?"
"Dia ada di desa" Menyebutkan salah satu nama desa di kota itu.
"Ya ampun kenapa jauh sekali, kenapa dia bisa pergi ke tempat sejauh itu..." Giant cukup terkejut saat mengetahui letak keberadaan Medina saat ini. "...Yaudah, makasih ya sudah membantuku"
Giant segera melajukan motornya menuju desa yang disebutkan temannya tadi. Jaraknya dari kota cukup jauh, tapi Giant harus benar-benar menemukan Medina dan membawanya kembali ke rumah.
Drett.. Drett..
Giant menghentikan motornya sebentar saat dia merasakan ponselnya yang bergetar di dalam saku jaket yang di pakainya. Melihat layar ponselnya.
"Waduh gawat, apa dia sudah sampai di kota ini ya"
"Hallo"
"Aku baru saja sampai, sekarang kau dimana?"
"Emm. Aku sedang di jalan untuk menyusul Kak Medina"
"Menyusul? Maksudmu apa?"
Giant menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa bingung harus menjawab apa saat ini. "Kak Medina sudah pergi dari rumahku tadi pagi"
"Apa kau bilang?! Kenapa kau tidak memberi tahuku sialan! Sekarang dimana dia?"
"Aku sedang menyusulnya ke desa" Giant menyebutkan nama desa yang di ketahui jika Medina berada disana.
"Shaare lokasinya!"
Giant tidak sempat menjawab lagi karena Rega langsung menutup teleponnya. Mau tidak mau, dia hanya perlu menuruti perkataan Rega saja. Giant segera mengirimkan lokasi desa yang akan dia tuju saat ini.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian? Masalah sebesar apa hingga membuat Kak Medina kabur dari suaminya sendiri. Eh, tapi Kak Medina pernah bilang jika dia belum menikah. Ahh.. Aku benar-benar bingung dengan kisah mereka"
Giant kembali melajukan motornya, hingga satu jam kemudian dia baru masuk ke sebuah desa. Dia mencari-cari keberadaan Medina, hingga dia melihat gadis itu yang duduk di sebuah trotoar pinggir jalan. Giant menghentikan motornya di depan Medina.
"Kak, ayo pulang"
Medina yang sedang kelelahan karena berjalan cukup jauh. Di mendongak dan menatap Giant dengan terkejut. "Giant, kenapa kamu ada disini?"
Padahal Medina sudah sengaja tidak mengangkat telepon dari Giant. Karena dia tidak mau pria itu mengetahui keberadaannya. Tapi sekarang Giant malah sudah berada di depannya.
"Kak, ayo naik dan kembali pulang ke rumah"
Medina menghembuskan nafas kasar, dirinya sudah bagai seorang buronan yang sedang dicari polisi. Mengetahui jika Rega mengetahui keberadaannya, Medina langsung pergi tanpa dia tahu kemana tujuannya. Bahkan Medina hanya terus berjalan dan berjalan, tanpa tahu dimana dia akan berhenti. Karena Medina tidak mempunyai arah tujuan.
"Tidak bisa Giant..." Medina menundukan wajahnya. Tak terasa air mata yang sudah lama dia tahan, sekarang benar-benar runtuh dari pertahanannya. "...Aku tidak bisa kembali ke rumahmu, aku tidak bisa bertemu dengan dia"
Giant turun dari atas motornya, dia mendekati Medina dan memeluknya. Giant menghela nafas saat tangisan Medina benar-benar pecah dalam pelukannya. "Jadi Kakak sudah tahu kalau Ayah dari anak Kakak ini akan datang?"
Medina mengangguk, tangisannya semakin memilukan. "Aku..Hiks.. Aku tidak mau mengganggu hidupnya lagi Giant. Aku tidak mau merusak pernikahan dia dan istrinya. Aku memang wanita hina, bahkan aku rela menjadi pemuas naf*su mantanku sendiri"
Giant meringis pelan mendengar ucapan Medina yang begitu menyayat hati. Giant menoleh dan menatap pada sebuah mobil yang berhenti tidak jauh dari sana. Seorang pria tampan turun dari mobil itu dan berjalan cepat menghampirinya.
Deg..
Medina langsung melepaskan pelukannya, dia menatap Giant dengan tajam. "Giant, kenapa melakukannya? Kau tahu aku sedang mencoba pergi dari kehidupannya. Ayo cepat bawa aku pergi Giant, aku tidak mau sampai dia menemukan keberadaan aku. Giant, ayo cepat bawa aku pergi"
Medina menarik-narik jaket Giant, dia belum menyadari keberadaan Rega disana. "Giant, ayo bawa aku pergi. Aku mohon... Hiks.. Aku tidak mau dia menemukan aku, aku tidak mau mengganggunya lagi.. Hiks.. Giant, aku mohon"
Giant menggeleng pelan, dia menghapus air mata Medina. "Maaf Kak aku tidak bisa karena dia sudah berada disini"
Seketika tubuh Medina mematung mendengar itu. Dia menoleh dan melihat Rega yang berdiri tidak jauh darinya. Oh Tuhan, kenapa kau mempertemukan kami kembali?
Rega menatap Medina di balik kacamata hitam yang dia pakai. Ada cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya. Hati Rega begitu tersayat mendengar ucapan Medina barusan. Bagaimana gadisnya itu begitu takut saat akan bertemu lagi dengannya.
Medina berdiri dan mencoba untuk berlari dari sana. Dia benar-benar tidak mau bertemu Rega lagi. Bagaimana ucapan Selvia kemarin benar-benar membuat Medina takut dan harus segera pergi.
Grepp..
__ADS_1
Medina yang berusaha untuk berlari, namun sebuah tangan kekar menahan lengannya dan menarik tubuhya hingga jatuh dalam pelukannya. Rega memeluk tubuh Medina dari belakang.
"Sayang, aku kembali. Tolong jangan pergi lagi"
Tubuh Medina bergetar, di benar-benar tidak bisa berkata-kata saat ini. Bagaimana tangan Rega benar-benar memeluknya dengan erat.
"Ayo pulang, jangan lari-larian lagi"
"Lepas, aku tidak mau bersama kamu lagi. Aku ingin hidup sendiri"
"Kalau kamu tidak mau bersama aku, maka anak kita tentu ingin hidup bersama Ayahnya"
Deg..
Medina merasakan tangan Rega yang mengelus perut buncitnya. Dia tidak bisa melakukan apapun. Air matanya sudah mengalir di pipinya.
"Tolong lepaskan aku, jangan ikat aku dengan apapun lagi. Biarkan aku pergi, aku mohon Ga"
Rega menggeleng, dia membalikan tubuh Medina agar menghadapnya. "Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan kamu lepas lagi dari genggamanku"
"Tidak bisa Ga.. Aku..."
Meidna terkejut saat Rega tiba-tiba menggendong tubuhnya dan membawanya menunu mobil. "Kau, bawa tas Medina dan masukan ke dalam mobil"
"Ba-baik"
Giant yang sejak tadi hanya terdiam menatap adegan di depannya, langsung terkejut mendengar ucapan dingin Rega. Dia segera membawa tas Medina dan di bantu oleh supir memasukannya ke dalam bagasi mobil.
Medina benar-benar tidak melakukan apapun lagi. Dia hanya diam dalam pelukan Rega dengan air mata yang terus mengalir. Rega benar-benar tidak melepaskan pelukannya. Rega mengecup beberapa kali puncak kepala Medina. Mobil pun mulai melaju, mengikuti motor Giant yang melaju lebih dulu sebagai petunjuk jalan.
"Bagaimana keadaannya? Apa anak kita baik-baik saja" tangan Rega mengelus perut Medina dan dia langsung mendapatkan respon dari dalam sana. Sebuah tendangan.
"Sayang, dia bergerak. Dia pasti merindukan aku sebagai Ayahnya"
"Ga.. Aku..."
Cup..
__ADS_1
Rega mengecup bibir Medina, membuat gadis itu tidak bisa melanjutkan ucapannya yang sudah Rega ketahui apa yang ingin Medina ucapkan padanya.
Bersambung