Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 75 #Rega Yang Masih Kecewa#


__ADS_3

Medina menatap  Selvia dengan prihatin, gadis manis yang selalu terlihat ceria dimatanya, kini tengah terbaring lemah diatas ranjang pesakitan.


"K-kak Medina, maafin aku juga" lirihnya dengan suara yang benar-benar pelan hingga hampir tidak terdengar. Selvia bena-benar sedang dalam keadaan lemah dan lemas sekarang.


"Sayang, ayo pulang"


Medina langsung melirik tajam pada suaminya itu.Bisa-bisanya Rega tidak menanggapi permintaan maaf dari Selvia yang keadaannya sudah benr-benar mengkhawatirkan seperti ini.


"Sayang tunggu sebentar, kamu ini kenapa si? Kasihan Selvia, setidaknya kamu jawab permintaan maaf dia"


Selvia yang melihat bagaimana Medina begitu membela dirinya dan masih mempunyai rasa kasihan padanya,benar-benar tidak dapat menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Nyonya Sirena yang melihat air mata yang menetes di sudut mata putrinya itu langsung menghapusnya. Jelas Nyonya Sirena juga merasa sangat tersentuh dengan kebaikan Medina setelah apa yang di lakukan Selvia padanya.


"Selvia, kamu harus semangat untuk sembuh ya. Aku yakin kalau kamu pasti bisa sembuh. Aku dan Rega telah memaafkan kamu, jadi kamu tidak perlu lagi terus merasa bersalah pada kami. Karena semua yang telah terjadi dan berelalu, aku anggap sebagai bentuk rintangan dan perjuangan yang di lewati oleh kami sebelum pada akhirnya bisa kembali bersama"


Tess,,


Air mata Selvia yang kembali menetes di  sudut matanya. Mengingat semua yang telah terjadi di masa lalu, semua kejahatan yang telah dia lakukan hanya untuk memisahkan Rega dan Medina. Namun nyatanya cinta yang di paksa tidak akan bisa selamanya bersatu. Karena yang ada di dalam hati Rega,  hanyalah Medina. Bukan Slevia. Jadi takdir tetap membawa mereka untuk tetap bersatu kembal,  meski sudah banyak rintangan dan cobaan yang telah dilewati.


"Sayang cepat ihh, aku harus ke kantor sekarang"


Medina menghela nafas pelan ketika Rega masih terus mengajaknya cepat pergi dari sana. "Iya Sayang, sebentar"


Medina berpamitan pada Nyonya Sirena dan segera pergi dari ruangan Selvia itu. Medina menggeleng pelan melihat sikap suaminya ini. Rega yang menggandeng Medina dan terus melangkah menyusuri lorong rumah sakit dengan terus bungkam dan memasang wajah dinginnya.


"Sayang, kamu ini kenapa si? Gak seharusnya loh kamu bersikap seperti tadi di depan orang yang sakit"


"Aku tidak peduli, karena memang aku menjenguknya saja sudah sangat malas"

__ADS_1


Medina hanya menggeleng heran dengan sikap  suaminya ini. Rega masih terlihat sekali jika dia masih sangat marah pada Selvia. Dan Medina tidak bisa melarang suaminya untuk tidak marah dengan apa yang di lakukan Selvia di masa lalu memang sudah sangatlah keterlaluan. Bahkan Selvia yang mencuri alat tes kehamilan milik Medina dan berepura-pura hamil pada Rega hingga terpaksa Rega harus memutuskan hubungan dengan Medina saat itu. Wanita yang sangat Rega cintai.


Masuk ke dalam mobil, Rega masih saja diam dengan wajah dinginnya itu. Medina tidak terlalu mengajaknya bicara karena tahu jika saat ini Rega memang sedang tidak ingin bicara.


"Kenapa kau harus bersikap baik seperti itu pada dia? Apa kau lupa tentang apa yang dulu dia lakukan padamu, hingga kita berdua harus berpisah"


Medina menatap suaminya dengan senyuman hangat, tangannya mengelus pipi Rega dengan lembut. "Sayang, aku tentu masih ingat dengan ap yang dia lakukan dulu. Tapi, saat ini kita telahkembali bersama dan sebentar lagi juga ak mempunyai anak. Jadi apa lagi yang akan membuat kita terpisah saat ini? Biarkan Selvia juga hidup tenang tanpa mempunyai rasa bersalah apapun"


Rega benar-benar tidak menyangka jika istrinya ini bis dengan lapang memaafkan Selvia. Padahal dia yang lebih menderita dari apa yang Selvia perbuat di masa lalu.


"Aku mencintaimu"


Medina tersenyum saja mendengar Rega yang malah mengatakan kalimat itu, daripada membalas ucapannya barusan.


"Aku juga"


******


"Siapa wanita itu?"


"Istrinya Tuan Rega, kan memang mereka menikah disaat wanitanya sudah hamil"


"Iya, yang aku dengar juga begitu. Makanya acara pernikahannya begitu mendadak"


Rega berhenti melangkah saat dia hampir sampai di depan lift. "Selesaikan pekerjaan kalian, bukan malah bergosip di kantor. Jika tidak mau gaji kalian turun bulan ini dan tidak akan ada bonus tahunan"


Sekumpulan karyawan yang sedang berbisik-bisik itu langsung bubar seketika setelah mendengar ancaman menakutkan bagi setiap karyawan. Potong gaji dan tidak ada bonus tahunan.

__ADS_1


Rega kembali melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam lift dengan terus menggandeng tangan istrinya itu. Di dalam lift, Medina melirik suaminya itu. Sikap tegas Rega barusan benar-benar membuat Medina ingin tertawa sendiri. Mengingat bagaimana Rea yang di rumah selalu bersikap manja padanya. Bahkan sangat manja.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Rega yang menyadari akan tatapan istrinya yang tertuju padanya itu.


Medina menggeleng pelan dengan menahan senyum, ketika dia mengingat tentang sikap suaminya dirumah yang benar-benar  berbeda dari biasanya.


"Tidak papa, aku hanya merasa lucu saja dengan sikapmu ini"


Rega langsung menoleh pada Medina dan menatap istrinya dengan mata yang menyipit. "Kenapa memangnya? Apanya yang lucu menurut kamu?"


"Melihat kamu yang bersikap tegas, padahal ketika di rumah kamu begitu manja padaku"


Mendengar itu, Rega hanya tersenyum. Dia mendekat pada Medina dan memeluk istrinya itu dari belakang. Merasa aman karena saat ini mereka sedang berada di dalam lift.


Cup.. cup..


Rega mengecup pipi Medina dengan gemas, tangannya juga mengelus perut buncit istrinya yang terus bergerak itu. Karena bayi di dalam kandungannya yang begitu aktif.


"Memangnya kamu mau jika aku manjanya pada orang lain? Bukan padamu?"


"Apaan si, jangan macam-macam deh. Ingat aku ini sedang hamil sekarang"


Rega tertawa pelan mendengar ucapan istrinya itu. Dan tepat pada saat itu pintu lift terbuka, sekumpulan karyawan yang sedang menunggu naik lift itu langsung terkejut ketika melihat adegan di depannya dan suara tawa Rega yang menurut mereka adalah sebuah pertanda tidak baik. Karena selama ini jangankan mendengar Rega tertawa, melihatnya tersenyum saja tidak pernah mereka alami.


"Ada apa kalian? Naik lift berikutnya"  Rega langsung menutup kembali pintu lift. Dia benar-benar tidak suka waktu berdua dengan Istrinya ini terganggu. Apalagi saat melihat tatapan terkejut dari semua karyawannya.


Medina juga begitu terkejut dengan kejadian barusan. Membuat dirinya langsung melepaskan pelukan Rega. "Sayang, aku malu banget ketahuan sama karyawan kamu tadi"

__ADS_1


"Sudah, tidak papa. Mereka hanya terkejut saja melihat aku dan kau di dalam lift ini"


Bersambung


__ADS_2