Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 66 #Pergi Ke Panti Asuhan?#


__ADS_3

Medina merasa heran saat dia mendapat telepon dari Ibu panti  yang dulu ditempatinya. Rega yang berbaring disampingnya menatap wajah bingung istrinya itu, membuat  dia penasaran.


"Kenapa? Siapa yang menelepon?"


Medin menoleh pada suaminya, lalu dia segera mengangkat telepnitu."Ibu Panti"


"Hallo Bu"


"Me, kamu  dimana sekarang? Apa kamu masih bersama Nyonya Sonya yang mengadopsi kamu itu? Lama sekali kamu tidak berkunjung kesini"


Medina menghela nafas, setelah sekian lama Ibu Panti masih saja belum  tahu keburukan orang yang mengadopsinya itu. "Tidak Bu, Medi sekarang sudah tdak tinggal bersamanya. Medi sudah menikah Bu, maaf karena tidak  sempat mengundang Ibu, karena acaranya benar-benar mendadak"


Rega hanya diam dengan menajamkan telinganya, dia ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Medina dengan Ibu Panti yang meneleponnya itu.


"Ya ampun, selamat ya Me. Tidak pap kok, Ibu sudah ikut senang mendengar kamu sudah menemukan jodohmu yang baik"


"Iya Bu, tapi sebenarnya ada apa Ibu menelepon pada Medina?" Karena tidak mungkin jika hanya ingin menanyakan itu saja.


"Begini Me, bisakah kamu datang ke panti besok? Ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu, cukup penting juga"


Medina mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang sebenarnya ingin Ibu Panti bicarakan padanya, "Baiklah, besok aku akan datang kesana Bu"


Medina menatap ponselnya setelah dia menutup sambungan telepon dari Ibu Panti. Rega yang melihat wajah istrinya yang seperti sedang kebingungan, langsung memeluk Medina dengan lembut. Kepalanya ada di kaki Medina yang sedang duduk menyandar, sementara Rega yang sedang tiduran disamping Medina.


"Sayang ada apa?"


"Aku harus pergi ke panti besok, ada yang ingin Ibu Panti bicarakan denganku"


Rega mengecup paha istrinya dengan lembut. "Yasudah, biar ku antar besok"


"Memangnya kamu tidak bekerja?"

__ADS_1


Rega menggeleng pelan, dia memang masih meminta cuti  pada Aiden dan beruntungnya Aiden begitu mengerti. Meski begitu Rega masih mengerjakan beberapa pekerjaan yang memang harus dia kerjakan sendiri melalui email.


"Kamu kenapa terlihat bingung seperti itu?"


Medina menatap suaminya yang sedang memeluk kakinya yang sedang berselonjor itu. "Tidak papa, aku hanya sedikit bingung saja. Tidak biasanya Ibu Panti menghubungiku dan meminta aku dattng kesana, memangnya ada masalah apa ya"


Rega bangun ari tiduran nyamannya, dia merangkul bahu Medina. Mengecup kepalanya dengan lembut. "Jangan terlalu difikirkan. Ingat kata Dokter jika kamu it tidak boleh banyak fikiran"


Medina mengangguk, memang saat ini dia harus bisa mengelola stres agar dirinya dan kandungannya juga sehat.


Rega memegang tengkuk Medina dan mulai mencium bibir istrinya itu. Mengingat perkataan Dokter membuat Rega bisa lebih tenang saat ingin melakukan hal ini pada Medna.


Medina sudah mengerti apa yang sedang diinginkan oleh suaminya saat tangan Rega terasa mulai menyusuri tubuhnya. Medina juga mulai menikmati snetuhan yang Rega berikan padanya. Ciuman Rega dibibirnya membuat Medina semakin merasa rileks. Dan malam ini mereka saling melepas rindu selama ini dengan ciuman yang di berikan. Keringat yng menetes di tubuh keduanya dengan ungkapan yang terus terucap dari bibir masing-masing.


******


Pagi ini Medin turun ke lantai bawah setelah dia selesai mandi. Suaminya masih terlelap di dalam kamar, mungkinkarena kelelahan karena kegiatan semalam yang terjadi semalam diantara mereka berdua.


"Pagi Bu"


"Eh, Me sudah bangun ya, ,ama suami kamu?"  


"Rega masih tidur Bu, oh ya kemarin Ibu kemana? Kk aku tidak melihat Ibu saat aku kembali ke rumah"


Ibu Nia tidak langsung menjawab, dia hanya terus menata masakannya diatas meja. "Tidak Me, Ibu ke tempat Giant kemarin"


Medina mengangguk mengti, lalu dia menarik kursi dan duduk  disana. Medina merasa sikap Ibu Nia yang sedikit berbeda dari biasanya. "Bu, nanti siang aku akan pergi dengan suamiku ya"


"Baiklah"


Ada apa dengan Ibu Nia? Kenapa sikapnya sangat berbeda dari biasanya.

__ADS_1


Dan siang ini Medina dan Rega benar-benar brangkat menuju Panti asuhan tempat Medina tinggal sejak kecil. Di perjalanan Medina hanyadiam dengan menatap keluar jendela.


"Sayang apa boleh jika kita membeli sesuatu dulu untuk anak-anak Panti?" Medina menoleh dan menatap pada suaminya.


Rega mengelus kepala Medina dengan lembut. "Tentu saja Sayang,kita beli bebereaa makanan dan.. Emm. Biasanya usia berapa tahun saja yang ada disana?"


"Ya berbagai macam, ada yang masih anak-anak, ada juga anak-anak yang ada juga remaja, tapi biasanya suka ada beberapa bayi yang baru ditinggal disana. Kita beri susu bayi juga"'


"Baiklah, ayo kita beli berbagai macam mainaan dan mainan"


"Yasudah kalau gitu kita jangan membeli banyak mainan, lebih baik pakaian saja. Aku juga tidak terlalu banyak pakaian. Ya, paling bekas dari Kakak aku yang sudah kecil, baru akan diberikan pada anak-anak yang lebih kecil"


Mendengar cerita Mdina barusan, membuat Rega merasa jika dirinya kurang bersyukur. Dia memang bukan terlahir dari keluarga yang kaya, tapi dia setidaknya sejak kecil dia tidak pernah kekurangan apapun.


Apalagi karena keluarga Selvia yang juga sangat menyayanginya sejak dulu. Itulah kenapa Rega sangat sulit untuk menolak permintaan orang tua Selvia, karena memang dia mempunyai banyak hutang budi pada keluarga itu. Meski sekarang mungkin memang Rega sudah dalam fase lelah karna dia yang terus diatur oleh keluarga Selvia.


"Sayang aku tidak pernah menyangka jika hidupku memang jauh lebih beruntung dari kebanyakan anak-anak lainnya yang memang kurang beruntung dalam hidupnya"


Medina tersenyum pada suaminya itu, dia mengelus kepala suaminya dengan lembut. "Sayang, kamu tidak tahu saja jika memang banyak anak yang kurang beruntung dari pada kehidupan kamu waktu itu"


"Ya, aku memang harus lebih bersyukur"


"Loh Sayang, bukannya kamu akan membeli dulu beberapa pakaian dan mainan untuk anak-anak?" Medina merasa bingung saat mobil susminya yang langsung berbelok menuju arah Panti.


"Aku akan menghubungi anak buahku dan meminta dia saja untuk membelikan semuanya. Lagian kita lihat dulu ada berapa banyak anak disini. Takutnya kita kurang membelinya dan nanti malah membuat anak-anak berebut"


Medina mengangguk dan terseyum melihat itu. Betapa dia bahagia saat suaminya juga mengerti dan mau brbagi dengan anak-anak pantik.


"Sayang, terima kasih ya karena sudah mau berbagi dengan anak-anak Panti"


Rega tersenyum, dia meraih tangan istrinya dan menciumnya dengan lembut. "Tidak perlu berterima kasih, karena aku  bersyukur karena Ibu Panti telah membesarkanmu dan merawatmu.Jadi aku harus mengucapkan terima kasih padanya"

__ADS_1


Medina hanya tersenyum mendengar itu.


Bersambung


__ADS_2