Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 43 #Resmi Bercerai#


__ADS_3

Ketukan palu di ruang sidang ini telah memutuskan pernikahan yang terjalin hanya karena sebuah obsesi dan paksaan. Rega menghela nafas lega saat dirinya sudah benar-benar terbebas dari Selvia. Sementara gadis itu langsung meraung menangis berteriak menolak keputusan hakim.


Rega keluar dari ruang sidang dengan perasaan yang lega. Tidak memperdulikan raungan Selvia yang sudah seperti orang gila saja. Aiden dan Alvaro yang ikut hadir di persidangan menyusul Alvaro untuk keluar. Aiden menepuk bahu sahabatnya.


"Selamat karena kau telah terbebas dari wanita gila itu. Aku baru tahu jika dia benar-benar gila"


Alvaro terkekeh mendengarnya. "Kalian tidak pernah menyangka jika dia gila. Padahal sudah dari dulu aku mengira jika dia gila"


"Aku hanya ingin mencari Medina mulai saat ini"


Alvaro menghela nafas, dia menepuk bahu Rega. Memberinya semangat pada sahabatnya itu. "Semuanya akan baik-baik saja Ga. Banyak-banyak berdo'a agar Medina baik-baik saja dan kamu bisa segera menemukan gadis itu"


Rega mengangguk dan mengucapkan banyak terima kasih pada Akvaro dan Aiden yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.


Rega kembali ke rumah setelah semuanya selesai. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Masih di kamar yang ditempati Medina, mungkin kamar ini akan menjadi kamar miliknya setelah ini dan seterusnya. Tak terasa, sudah satu bulan Medina pergi dari rumah ini. Dan sampai saat ini, Rega benar-benar belum menemukannya.


Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja dimana pun dia berada. Tolong segera pertemukan kami kembali.


Hanya mampu berdo'a, bersabar dan berusaha yang bisa Rega lakukan saat ini untuk bisa menemukan Medina. Sungguh hatinya merasa sangat terluka ketika dia mengingat tentang kekasihnya yang pergi juga karena kesalahannya.


Rega terlelap di atas tempat tidur itu. Membayangkan jika Medina ada di sampingnya dan dia bisa memeluk gadis itu.


Hingga waktu berlalu dengan sangat cepat. Sudah hampir 6 bulan Medina pergi dari kehidupannya. Dan sampai sekarang Rega masih belum menemukan titik keberadaan Medina. Membuat dia jadi frustasi sendiri. Sampai dia merasa lelah dengan semua ini. Rega menjadi pria yang sering datang ke sebuah bar hanya untuk minum. Membuat dirinya mabuk adalah hal paling jitu untuk bisa melupakan sejenak semua beban dan masalah dalam hidupnya.


Kedua sabahatnya saja sudah tidak bisa lagi untuk menghentikan Rega. Pria itu benar-benar sedang berada dalam kondisi frustasi.


******


Kandungannya semakin besar dan perutnya pun sudah terlihat semakin menonjol. Medina menikmati setiap proses kehamilan pertamanya ini. Dengan membantu Ibu Nia, dia bisa lebih beraktivitas dan tidak selalu memikirkan pria yang sama.


Pagi ini Giant datang ke rumah, membawa kabar jika proyek yang di jalankan perusahaan tempatnya bekerja sedang berlangsung. Jadi Giant akan berada disini selama beberapa hari bersama atasannya.

__ADS_1


Dan entah kenapa Medina selalu merasa senang saat ada Giant disini. Dia selalu banyak menghibur Medina. Pembawaannya yang ceria dan selalu ramah pada siapa saja, membuat Medina merasa nyaman bersamanya.


"Besok bos aku akan pesan nasi box untuk pekerja di proyek. Bisa 'kan Bu?"


"Bisa, kamu tenang saja. Kamu tinggal tanyakan saja pada Bos kamu itu, berapa nasi box yang dia butuhkan agar Ibu belanjanya jelas"


Giant mengangguk, dia menatap Medina yang sedang memotong daun bawang di meja makan. Gadis malang yang hamil tanpa seorang suami. Membuat Giant ingin sekali melindunginya.


"Baik Bu, besok aku akan membawanya kesini menggunakan motor teman kerja. Kak Medina siap-siap ya pas jam makan siang, karena aku tidak mungkin bisa membawa nasi box sebanyak itu sendiri memakai sepeda motor. Tetap harus ada yang memeganginya"


Medina mendongak, lalu dia menganggukan kepalanya. "Siap Giant, aku siap antar kemana saja"


Giant tersenyum mendengarnya. Dia berpamitan pada Ibu dan Medina sebelum pergi bekerja.


"Me, hari ini bisa 'kan untuk mengantar pesanan snack makanan dan nasi kotak juga" Ibu Nia menyebutkan salah satu alamat di kota ini.


Medina mengangguk. "Iya Bu, nanti Medina antarkan. Jam berapa memang?"


Media mengangguk, hari ini memang cukup sibuk. Bahkan Ibu Nia sudah masak sejak pagi buta, karena pesanan makanan yang harus diantar sebelum jam makan siang. Jadi, harus benar-benar di kerjakan sejak pagi buta.


Medina sudah bersiap untuk mengantarkan pesanan cattering. Dia mengelus perutnya yang menonjol dengan lembut. Gerakan di dalam sana selalu membuat Medina senang. Menandakan jika anak dalam kandungannya memang sehat dan bergerak sangat aktif.


"Ayo anak Ibu, kita mulai bekerja. Jadi anak baik ya, Ibu butuh kerja samanya dari kamu"


Dengan dua kantung plastik besar, di tangan kiri dan kanannya. Seperti biasa Medina akan berangkat menggunakan angkutan umum. Namun saat sampai di lokasi, ternyata jaraknya masih cukup jauh jika Medina berjalan kaki. Akhirnya dia menghampiri tukang ojek pangkalan yang ada disana.


"Permisi Pak, saya mau ke alamat ini untuk mengantarkan pesanan cattering" Medina menunjukan alamat yang dia tulis di sebuah nota dan dia tempelkan di kantung plastik yang di bawanya.


"Bisa Neng, ayo naik"


Medina bukannya takut naik motor, tapi dia memikirkan keadaan bayi dalam kandungannya. Sedikit ragu saat dia ingin naik ke atas motor. "Emm. Pak maaf ya, tapi bisa 'kan kalau bawa motornya jangan terlalu kencang. Saya sedang hamil"

__ADS_1


"Siap Neng, tenang saja saya juga punya istri dan istri saya juga pernah hamil tiga kali. Jadi saya sering kena marah kalau sampai bawa motor kencang, sedangkan membawa perempuan yang sedang hamil"


Medina tersenyum mendengarnya. Dia naik ke atas motor dan menyamankan posisi duduknya. "Beruntung sekali istri Bapak itu, bisa mendapatkan perhatian dari seorang suami pekerja keras seperti Bapak"


"Ahh. Si Eneng bisa aja. Ya, yang namanya suami memang harus perhatian sama istrinya Neng. Apalagi kalau istrinya sedang hamil"


Medina hanya tersenyum mendengar itu, karena dia tidak merasakan apa yang Ibu hamil lainnya rasakan. Bermanja pada suami dan selalu di sayang oleh suaminya. Diberikan perhatian lebih disaat dia sedang mengandung. Medina benar-benar tidak merasakan semua itu.


"Suami Eneng kemana? Kenapa pergi sendiri, dengan membawa banyak pesanan seperti itu"


"Suami saya kerja Pak, jauh jadi tidak bisa pulang"


"Ohh pulangnya seminggu sekali ya, atau satu bulan sekali"


Medina tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja. Karena pada kenyataannya, Rega tidak akan pernah pulang dan menemuinya lagi.


"Sudah sampai Neng"


Medina segera turun dari atas motor, dia menyimpan dulu kantung plastik yang di bawanya di atas tanah. Lalu mengeluarkan uang dari tas selempang yang di pakainya.


"Ini Pak. Eh, tapi sepertinya Bapak tunggu sebentar deh. Saya gak lama kok, soalnya nanti saya pulang kesananya lagi sama siapa"


"Yaudah atuh Neng, saya tungguin"


"Terima kasih ya Pak, ini ongkosnya sekalian dengan antar jemput ya"


Medina menambahkan lagi uangnya, lalu memberikannya pada si Bapak tukang ojek.


"Iya Neng, terima kasih"


Medina segera mengantarkan pesanan cattering. Setelahnya dia segera pulang kembali.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2