
Ketika hari baru di jalani Medina dengan penuh rasa syukur, ternyata membuat dirinya bisa sedikit lapang dan menerima semua kenyataan yang ada. Dalam waktu seminggu ini, telah membuat Medina cukup membenahi posisi hati dan perasaannya.
Apa dia telah melupakan Rega? Untuk hal itu tentu saja tidak. Entah Medina bisa atau tidak melupakan pria itu. Apalagi ada benih darinya yang tertanam di perutnya saat ini. Dia merasa tidak yakin bisa melupakan Rega. Waktu 5 tahun saja, tidak berhasil menghapus perasaan cintanya pada Rega.
Medina hanya jatuh cinta sekali dalam hidupnya. Yaitu kepada Rega, dan sampai sekarang hatinya belum mengajak dirinya untuk berpaling pada orang lain. Entah dia bisa berpaling atau tidak. Medina pun tidak yakin dengan hal itu.
"Me, semua pesanan sudah di antar?"
Medina baru saja pulang dari mengantar pesanan cattering dan snack untuk beberapa tempat acara pesta kecil-kecilan hari ini. Dia membuka sepatunya dan menyimpannya di rak sepatu.
"Iya Bu, semuanya sudah sampai ke tujuan dengan selamat"
Ibu Nia tersenyum, mendengar ucapan Medina. "Terima kasih ya"
"Iya Bu, tenang saja. Lagian Medina 'kan wanita yang kuat"
Ibu Nia mengelus lengan Medina ketika gadis itu menghampirinya. "Iya Me, kamu memang gadis yang kuat"
"Yaudah, Medi ke kamar dulu ya. Mau ambil handuk, pengen mandi gerah sekali"
"Iya Nak"
Medina masuk ke kamar, ketika pintu kamar tertutup dia menghembuskan nafas panjang. Ternyata keceriaan itu hanya di tunjukan di depan orang lain. Tapi saat dia seorang diri, maka wajah lelah penuh luka itu langsung terlihat. Bagaimana berpura-pura tegar itu adalah hal yang paling menyakitkan.
Medina mengelus perutnya dengan lembut. "Terima kasih atas kerja samanya hari ini Nak, Ibu bisa bekerja tanpa kendala karena kamu begitu baik dan tidak membuat Ibu kesusahan"
Medina mengambil baju handuk dan berlalu ke luar kamar. Menuju kamar mandi yang berada di dapur rumah ini. Segera mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Medina membantu Ibu Nia untuk menghangatkan makanan untuk makan malam.
"Biar Medi bantu Bu"
"Tidak perlu Nak, kamu duduk saja. Lagian semuanya sudah hampir selesai"
__ADS_1
Medina tersenyum, dia menarik kursi meja makan dan duduk disana. Melihat menu makan malam hari ini adalah sisa dari masakan yang di buat untuk cattering tadi siang. Medina mengelus perutnya, merasa bersyukur karena sampai hari ini dia masih bisa makan dan memberikan anaknya nutrisi yang baik.
Sehat-sehat dalam perut Ibu ya Nak, Ibu akan berusaha untuk memenuhi nutrisi untuk kamu.
Medina meminum susu ibu hamil dan terkadang dia sengaja membeli beberapa buah untuk memberikan nutrisi yang baik untuk calon anaknya yang berada di dalam perutnya. Medina akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya.
"Ayo kita makan Me, semuanya sudah siap"
"Iya Bu, terima kasih"
******
Ketika kedua orang tua Selvia datang berkunjung ke rumah Rega di akhir pekan ini. Sebenarnya Kendra yang sengaja mengajak kedua orang tuanya untuk berkunjung ke rumah Rega. Alasannya hanya satu, agar dia bisa menemui Medina dengan tidak sengaja. Namun, saat dia datang ke rumah ini kenyataan yang di ucapkan Selvia benar-benar membuatnya terkejut.
"Medina telah pergi satu minggu yang lalu Kak. Kita tidak tahu kemana dia pergi, Kak Rega saja mencoba mencarinya tapi tidak menemukan Medina dimana pun"
Ucapan Selvia benar-benar membuat Kendra terkejut. "Kenapa kamu tidak memberi tahu Kakak sejak awal Se? Pantas saja Kakak coba hubungi dia, tidak pernah bisa tersambung. Apa dia juga mengganti nomor ponselnya"
Kendra terdiam beberapa saat sebelum dia mengikuti Selvia untuk masuk ke dalam rumah, setelah mereka menyelesaikan makan siang mereka. Kemana kamu pergi, Me? Gumamnya.
"Se..?" Mommy menatap Selvia dengan tatapan yang sulit di artikan, membuat Selvia bingung saja.
"Iya Mom? Ada apa?" Selvia menaruh beberapa minuman dan cemilan yang dia bawa dari dapur.
"Mommy ingin bicara dengan kamu, bisa?"
Selvia mengangguk. "Ayo, kita bicara di kamar Selvia saja"
Mommy mengangguk, mereka berdua berlalu dari sana.
Hal itu membuat Rega sedikit bingung, dia baru saja memberi tahu kedua mertuanya tentang kehamilan Selvia. Tapi reaksi keduanya benar-benar membuat Rega tidak mengerti. Bukan reaksi kedua orang tua yang bahagia karena akan segera mendapatkan cucu.
Selvia membawa Mommy ke kamarnya, duduk di pinggir tempat tidur.
__ADS_1
"Jadi...?"
Selvia menatap Mommy dengan bingung, entah apa yang di maksud kata 'jadi' yang Mommy ucapkan. "Jadi apa, Mom? Aku tidak mengerti"
"Kenapa kau berpura-pura hamil?"
Deg..
Selvia baru mengerti apa yang dimaksud oleh Ibunya. "Mom, aku bisa jelasin. Aku melakukan ini hanya agar Kak Rega tidak pergi dari hidupku"
"Ini gila Se, kamu tidak perlu melakukan itu. Karena Rega sudah menjadi milikmu, Mommy dan Daddy sudah memaksa dia untuk menikahimu. Dan sekarang apalagi yang kamu takutkan sampai kamu melakukan hal ini?"
"Tidak bisa Mom, aku tetap harus melakukan hal ini agar Kak Rega tetap bersamaku"
Selvia memiliki penyakit yang membuat rahimnya rusak sejak dia remaja. Jadi, dia sudah menjalani operasi pengangkatan rahim sejak remaja. Dan Rega memang tidak mengetahui soal itu. Tapi, Mommy benar-benar tidak menyangka hingga Selvia akan melakukan hal ini.
"Lebih baik kamu hentikan kebohongan kamu ini, Se. Karena kamu tidak bisa terus seperti ini. Kehamilan itu semakin lama akan semakin besar, dan kalau sampai waktunya melahirkan. Kamu akan melahirkan apa? Kamu harus melahirkan seorang bayi"
"Mom, sudahlah semua itu biar aku pikirkan nanti saja. Yang penting sekarang Kak Rega benar-benar memperhatikan aku dan menjadikan aku prioritas utamanya"
Mommy menggeleng tidak percaya dengan ucapan Selvia barusan. "Sebenarnya apa si yang kamu takutkan sampai kamu melakuakn kebohongan seperti ini? Rega telah menjadi milikmu, lalu apa lagi yang kamu takutkan?"
"Karena Kak Rega tidak mencintaiku Mom, selama berada disini dia membawa pacarnya untuk tinggal satu atap dengan kita. Meski dia tidak menunjukan perselingkuhan itu, tapi aku mengetahuinya"
"Apa? Berani sekali Rega selingkuh darimu? Siapa wanita itu? Biar Mommy temui dia dan memberinya pelajaran, sudah tahu Rega telah menikah. Kenapa dia masih saja mau bersamanya"
Mommy benar-benar marah ketika mendengar itu. Karena dia juga seorang Ibu dan seorang istri. Mommy bisa merasakan apa yang dirasakan oleh putrinya.
Selvia meraih tangan Mommy, mengelus tangan Ibunya dengan lembut. "Kak Medina tidak salah Mom, dia adalah kekasih Kak Rega sebelumnya. Mereka saling mencintai, sebelum aku hadir dan harus menikah dengan Kak Rega. Aku sadar jika di hati Kak Rega hanya ada Kak Medina. Tapi Mom, saat ini aku masih ingin egois. Aku hanya ingin memiliki Kak Rega seutuhnya. Jadi, aku harus melakukan ini agar Kak Medina pergi sendiri dari kehidupan Kak Rega"
Mommy memeluk Selvia, dia tidak membenarkan apa yang di lakukan anaknya ini. Tapi Mommy hanya mencoba mengerti situasi dan keadaan Selvia sampai putri kesayangannya itu melakuakn hal sejauh ini.
Bersambung
__ADS_1