
Medina tidak bisa tidur malam ini, dia terus memikirkan tentang pertemuannya dengan Kendra tadi siang. Saking terkejutnya dan tidak tahu harus melakukan apa, Medina langsung pergi dari hadapan Kendra. Bahkan dia tidak menghiraukan teriakan Giant dan Kendra yang memanggil-manggil namanya. Beruntung karena Medina bisa lepas dari Kendra.
Namun pagi ini dia tidak bisa lepas dari pertanyaan Giant tentang kejadian kemarin. Mendina hanya menghembuskan nafas kasar ketika Giant terus mendesaknya untuk menjawab pertanyaan Giant barusan.
"Jadi ada hubungan apa Kakak dengan Bos aku? Apa Bos aku adalah Ayah dari anak Kakak ini?"
Medina langsung menggeleng cepat, tangannya memegang perut buncitnya. "Tidak Giant, dia bukan Ayah dari anak yang aku kandung saat ini. Aku hanya mengenalnya saja saat aku tinggal di Ibu kota. Dan alasan aku yang langsung pergi kemarin, karena aku terkejut dan aku tidak mau sampai semua masa lalu aku yang tidak baik itu kembali datang hanya dengan hadirnya satu orang dari kehidupan masa lalu aku"
Giant cukup mengerti dengan alasan yang diberikan Medina padanya. Jadi dia tidak banyak bertanya lagi lada Medina. Tapi, saat sekarang Giant baru saja sampai di tempat proyek, dia sudah di tunggu oleh Kendra.
"Giant ayo bicara sebentar"
Tentu Giant hanya mengangguk dan tidak bisa menolak ajakan bosnya itu. Berada di sebuah cafe yang ada di sebrang jalan. Giant merasa sedikit was-was dengan apa yang akan dibicarakan oleh atasannya ini.
"Jadi, kenapa Medina bisa bersama kamu?"
Kan, benar dugaanku jika Tuan Kendra akan menanyakan soal Kak Medina.
"Aku juga tidak tahu, tapi Ibuku bilang jika dia menolong Kak Medina dan mengajaknya tinggal di rumahku"
"Apa?! Jadi dia tinggal di rumahmu?"
Giant hanya mengangguk dengan wajah polosnya. Dia hanya mengatakan yang sejujurnya.
"Emm. Giant, apa bisa aku datang ke rumahmu. Aku ingin bertemu dengan Medina, ada hal yang harus aku bicarakan padanya"
Giant terdiam sejenak, dia sedang memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan pada Kendra.
Aku tidak mau masa lalu aku yang tidak baik itu kembali datang hanya karena kehadiran satu orang dari masa lalu aku.
Ucapan Medina tadi pagi membuat Giant sedikit bingung harus menjawab apa. Dia tidak mau membuat Medina stres karena kedatangan Kendra. Apalagi keadaan Medina yang saat ini sedang hamil.
"Maaf Bos, tapi sepertinya tidak bisa. Saya benar-benar minta maaf, karena Kak Medina bilang tidak mau bertemu dengan orang-orang di masa lalunya. Aku tidak mau membuat Kak Medina stres, apalagi dia sedang hamil"
"Hamil?!"
__ADS_1
Kendra ingat saat kemarin Medina berlari dari hadapannya. Gadis itu terus memegangi perutnya yang terlihat sedikit besar dari pandangan Kendra.
Medina hamil? Oh Tuhan, apa jangan-jangan....
Kendra menyudahi percakapannya dengan Giant setelah dia mengetahui satu hal tentang Medina. Gadis itu sedang hamil.
Giant juga tidak merasa salah berbicara. Dia hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan yang dia ketahui.
******
Medina duduk di sebuah ayunan di taman kota. Dia baru saja selesai mengantarkan pesanan. Dan karena waktu masih sore, Medina memutuskan untuk berdiam sebentar di taman kota. Sedikik merilekskan tubuh dan pikirannya saat ini.
Duduk di sebuah ayunan kayu yang ada di taman itu. Menghirup udara di sore hari dengan tangannya yang terus mengelus perutnya.
"Takdir apa ini? Kenapa dunia terlalu sempit. Aku sudah lari sejauh ini, tapi masih saja bertemu dengan orang-orang yang aku kenal. Padahal aku lari sejauh ini, hanya untuk menghindari mereka semua. Orang-orang di masa laluku"
Medina mengelus perutnya, ketika dia merasakan tendangan dari dalam sana langsung membuat Medina tersenyum. "Sayang, kamu gak perlu ikut khawatir. Ibu janji akan melindungi kamu sampai kapan pun. Karena kamu adalah buah hati dari Ibu dan Papa kamu yang sampai saat ini masih sangat Ibu cintai"
Cukup lama berada disana, Medina memutuskan untuk kembali ke rumah Ibu Nia. Dia sengaja berjalan kaki, hanya untuk menikmati udara di sore hari ini. Sampai dirumah Ibu Nia. Medina segera masuk ke dalam kamarnya, karena Ibu Nia pergi entah kemana.
"Aku hanya berharap Kak Kendra tidak akan membicarakan pertemuan dia denganku pada siapa pun"
Medina mengangkat bantal yang selalu di tidurinya. Di bawah bantal itu ada sebuah foto yang sengaja dia bawa saat dia pergi dari rumah Rega. Foto pria yang dicintainya dan juga Ayah dari anak yang dikandungnya saat ini.
Medina duduk bersila di atas tempat tidurnya. Matanya selalu berkaca-kaca ketika dia melihat foto pria yang sampai saat ini masih menjadi pemilik hatinya.
"Semoga kamu bahagia disana, bersama istri dan anak kamu. Kamu tenang saja, aku juga bahagia disini bersama anak aku"
Tes..
Air mata yang tidak bisa Medina tahan lagi, menetes mengenai wajah pria yang ada di foto. Medina segera mengusap foto itu agar tidak rusak karena terkena air matanya.
"Sampai kapan pun, aku akan tetap mencintaimu Adrega Devaro"
******
__ADS_1
"Medina, aku mencintaimu"
Rega membuka kedua matanya setelah beberapa jam dia benar-benar tidak sadarkan diri dan hanya terus mengingau nama Medina.
"Ga, syukurlah kalau kau sudah bangun"
Rega menatap Alvaro yang berdiri di samping tempat tidurnya. "Al, apa yang terjadi padaku?"
"Kau demam tinggi sampai tak sadarkan diri. Aku sudah panggilkan Dokter dan katanya kamu terlalu banyak pikiran sehingga asam lambung kamu naik dan demam tinggi yang kamu alami itu"
Rega menghela nafas pelan, dia mengusap wajahnya dengan kasar. "Makasih Al karena sudah menungguku dan memanggilkan Dokter untukku"
Alvaro menepuk bahu Rega. "Tidak papa, kau adalah sahabatku. Sudah seharusnya aku ada disaat kau membutuhkan bantuan. Oh ya, Aiden sebentar lagi akan datang kesini"
Rega mencoba bangun dan Alvaro langsung sigap untuk membantunya. Memposisikan bantal di belakang tubuh Rega agar nyaman. Alvaro duduk di pinggir temlat tidur. Dia menepuk pelan kaki Rega yang berselonjor di sampingnya.
"Percaya saja pada takdir Tuhan, jika kalian memang berjodoh. Tuhan pasti akan mempertemukan kalian dan menyatukan kalian kembali"
Rega menghela nafas, memang benar apa yang di katakan Alvaro barusan. Dia harus lebih percaya pada takdir Tuhan.
******
Di tempat yang berbeda, Kendra memilih untuk pulang dulu. Ada masalah besar yang harus dia urus selain proyek perusahaan yang masih berjalan.
"Tolong kamu beri tahu Rega tentang ini. Aku memang mencintainya, tapi aku tidak bisa melihatnya menderita seperti itu"
"Baiklah, aku akan lakukan. Terima kasih karena sudah memberi aku informasi ini. Ternyata memang Medina pergi ke luar kota"
Kendra mengangguk, dia menyebutkan salah satu nama kota yang cukup jauh dari Ibu kota.
"Pantas saja, Rega sangat sulit untuk menemukannya"
Sebenarnya Aiden cukup terkejut saat dia selesai meeting di perusahaan Kendra. Tiba-tiba Kendra memintanya untuk ikut ke dalam ruangannya. Dan kabar yang diberi tahukan oleh Kendra, lebih mengejutkan lagi.
Dan seorang di balik pintu ruangan Kakaknya itu, tersenyum. Seolah dia baru saja menemukan sesuatu yang menyenangkan. Dia segera pergi dari sana sebelum Kendra atau Aiden menyadari kehadirannya.
__ADS_1
Bersambung