
Satu minggu berlalu, entah sebutan apa yang harus di terapkan pada Medina. Bodoh? Atau polos? Karena selama seminggu ini dia menikmati posisinya sebagai pemuas naf*su Rega. Hubungan mereka sudah seperti suami istri, meski terkadang Rega masih selalu menatapnya dengan dingin dan ucapannya yang tajam menusuk relung hatinya. Namun, bodohnya Medina masih mempertahankan Rega sebagai pria yang memiliki hatinya sampai saat ini.
"Kemeja aku dimana?" Rega muncul di balik pintu ruang ganti dengan memakai handuk di bagian bawah tubuhnya.
Medina yang sedang merapikan seprei dan selimut di tempat tidur menoleh ke arahnya. "Kemeja yang mana? Aku sudah siapkan pakaian untuk kamu"
"Ck. Kemeja yang coklat, aku tidak mau pakai baju itu hari ini"
Medina menghela nafas, sepertinya Rega memakai baju sesuai dengan mood dia. "Ada di lemari, kamu udah cari belum"
"Gak ada, aku udah cari. Kamu ambilin"
Medina menghela nafas pelan, dia mengangguk lalu berjalan ke arah ruang ganti. Membuka lemari besar milik Rega. "Ini kemeja yang coklat, kamu carinya gimana sampai tidak ketemu"
"Ohh, yaudah makasih" Rega langsung mengambil kemeja di tangan Medina, dan langsung memakainya tanpa menghiraukan Medina yang menatapnya.
"Jam tangan aku mana?"
"Jam tangan yang mana, semuanya ada di situ Ga. Aku gak pernah pindahin barang-barang kamu"
"Yang warna hitam gak ada" Rega masih mencari-cari jam tangan yang dia cari laci jam tangan.
Medina berjalan menghampirinya, mencari jam tangan Rega yang dia maksud. Lalu dia mengambil satu jam tangan dari deretan jam tangan yang ada disana. Lalu memberikan pada Rega.
"Ini"
"Kok aku gak ketemu ya barusan"
"Karena kamu carinya gak sabar, dengan terburu-buru"
Rega tersenyum, dia memeluk Medina dari belekang setelah selesai memasang jam tangannya. Mengecup pipinya dengan lembut. "Terima kasih ya, aku berasa punya istri loh"
Medina hanya tersenyum pedih, karena perkataan Rega menandakan jika dia tidak akan pernah menjadikan Medina istrinya. Sampai saat ini Medina tetap harus menerima jika Rega hanya menganggapnya sebagai teman ranjangnya saja.
"Memangnya kamu tidak mau mempunyai istri?"
__ADS_1
Rega melepaskan pelukannya, dia memakai jasnya. "Ada, tapi calon istriku sepertinya belum siap menikah denganku. Ada hal yang belum dia ketahui tentang aku"
Deg..
Hatinya sakit, sangat terluka bahkan ketika mendengar ucapan Rega. Jadi, Rega sudah memiliki calon istri. Lalu sampai kapan posisi Medina ini bertahan? Mungkin sampai dia menikah dengan calon istrinya itu.
"Siapa namanya? Calon istrimu itu"
Cup..
Rega mengecup sekilas bibir Medina. "Rahasia, yaudah aku pergi dulu ya. Kamu baik-baik di rumah"
"Gak sarapan?" Teriak Medina sambil berlari menyusul Rega yang sudah keluar lebih dulu dari ruang ganti.
"Tidak, aku sudah telat. Ada meeting penting pagi ini"
Medina terdiam melihat Rega yang keluar dari kamarnya. Dia terduduk di kursi depan meja rias, masih menatap pada pintu kamar yang tertutup. Hatinya mulai gelisah ketika mendengar ucapan Rega beberapa menit yang lalu.
Dia memiliki calon istri. Haha.. Memangnya apa yang kamu harapkan Medina. Jelas-jelas kamu hanya jadi pemuas naf*su saja baginya.
Medina menertawakan dirinya sendiri, di saat dia pernah berharap suatu saat nanti akan bisa menjadi istrinya. Mimipi yang terlalu tinggi untuk seorang wanita yang di beli harga diri dan tubuhnya.
Dan pagi ini, Medina terbangun tanpa Rega di sampingnya. Seingat dia semalam ketiduran karena Rega yang tidak kunjung pulang. Lalu melihat tempat tidur di sampingnya yang kosong, membuat Medina yakin jika semalam Rega memang tidak pulang ke rumah.
Medina menurunkan kedua kakinya ke atas lantai, berjalan gontai menuju ruang ganti. Dia benar-benar tidak pulang ya. Gumamnya. Berjalan menuju kamar mandi setelah mengambil handuk yang menggantung.
Medina berendam di bak mandi dengan pikiran yang melayang entah kemana. Memikirkan dimana Rega berada sekarang, dimana pria itu tidur semalam dan dengan siapa? Semua pertanyaan yang tidak dia ketahui jawabannya.
"Apa mungkin dia bersama calon istrinya?"
Mengingat itu membuat hati Medina terluka. Pria yang dia cintai ternyata telah memiliki wanita idamannya yang akan menjadi istrinya. Medina tidak rela, hatinya masih berharap akan bersama Rega selamanya.
Tes..
Air mata yang selalu dia tahan seberat apapun yang dia rasakan. Namun kali ini pertahanan Medina benar-benar runtuh. Dia tidak bisa terus bersikap jika dirinya baik-baik saja di tengah hati yang terluka dan tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Medina lelah dengan semua ini. Hingga entah dirinya sadar atau tidak, wajahnya telah tenggelam di bawah bak mandi yang penuh dengan air. Medina sudah gila, dia berniat mengakhiri hidupnya sendiri.
__ADS_1
Brakk...
Hingga suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat dia membuka matanya, namun tidak berniat bangkit dari dalam air di bak mandi. Medina benar-benar ingin mengakhiri semua kisah dalam hidupnya.
"Ya ampun Nona, apa yang Nona lakukan" Seorang wanita berlari ke arah Medina dan mengangkat tubuhnya yang sudah mulai memucat. Wanita itu adalah petugas kebersihan rumah ini yang akan datang setiap dua hari sekali.
"Nona, apa yang anda lakukan"
Wanita itu terlihat begitu panik melihat keadaan Medina yang melemah dengan bibirnya yang membiru. Namun di tengah kepanikan dirinya, dia melihat Medina yang tersenyum lirih.
"Kenapa kamu menolong 'ku?"
"Nona kenapa? Ada masalah apa sampai melakukan ini?"
Entah kenapa perasaan wanita itu sangat terluka melihat tatapan tak berdaya Medina. Seolah gadis itu memang sudah tidak lagi mempunyai tujuan hidup.
"Aku tidak papa, bisa kamu pergi? Aku ingin menyelesaikan mandi 'ku"
"Nona, benar akan mandi? Tidak akan melakukan ini lagi?"
Medina tersenyum "Ya, aku hanya akan mandi"
"Baiklah, kalau begitu saya keluar dulu"
Saat wanita itu keluar, dia segera menghubungi Rega karena takut Medina akan melakukan hal yang sama ketika tidak ada orang di rumah ini. Namun, nomor ponsel Rega tidak dapat di hubungi membuat dia bingung dan panik sendiri.
Medina keluar dari kamar mandi, menatap petugas kebersihan itu dengan tersenyum. "Dia tidak bisa di hubungi sejak semalam. Sudahlah kamu lakukan saja pekerjaanmu, tidak perlu sibuk memikirkan aku"
"Tapi, Nona..."
"Aku tidak papa, sekarang aku akan berangkat kuliah"
Kemana perginya Rega, Medina benar-benar tidak tahu. Karena sejak semalam dia tidak bisa menghubungi pria itu.
Mungkin dia memang bersama calon istrinya itu dan tidak mau terganggu oleh dering ponsel dariku. Jadi, memilih mematikan ponselnya.
__ADS_1
Medina selesai bersiap, dia pergi kuliah tanpa sarapan pagi. Membiarkan perutnya keroncongan meminta di isi. Dia masih memikirkan kemana Rega pergi semalaman. Medina benar-benar tidak siap jika jawaban pria itu membuatnya kecewa nanti.
Bersambung