Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 28 #Medina Sakit#


__ADS_3

Malam ini Medina merasa tubuhnya tidak baik-baik saja. Suhu tubuhnya tinggi dengan hawa dingin yang dia rasakan. Medina hanya memggulung tubuhnya dengan selimut tebal, tapi tetap masih menggigil. Medina benar-benar tidak bisa terlelap semalaman ini. Bahkan hingga pagi dia merasa kepalanya sangat berat.


Medina tidak bangun untuk membuat sarapan. Dia meraih ponselnya diatas nakas dan mengirim pesan pada Dosen hari ini, jika dia izin tidak kuliah karena sakit.


Di lantai bawah, Rega baru saja keluar dari kamarnya. Semalam dia tidak bisa meninggalkan Selvia, karena istrinya kembali merasa sesak. Rega harus menjaganya sampai pagi. Jadi dia tidak bisa menemui Medina.


Rega berjalan ke arah dapur dan tidak menemukan Medina disana. Biasanya jam segini Medina sedang mempersiapkan sarapannya.


"Kemana dia? Apa dia sudah pergi kuliah? Tapi ini masih terlalu pagi"


Akhirnya Rega memutuskan untuk melihat ke kamar Medina. Dan saat dia membuka pintu, Medina masih meringkuk di atas tempat tidur dengan seluruh tubuhnya yang tertutup selimut tebal. Rega berjalan menghampirinya. Duduk di pinggir tempat tidur.


"Sayang, tumben jam segini belum bangun" Rega membuka selimut yang menutupi kepala Medina. Lalu dia melihat tubuh Medina yang menggigil. Rega mengecek suhu tubuh Medina dengan menempelkan punggung tangannya di kening Medina.


"Ya ampun, Sayang kamu demam. Kenapa tidak memberi tahuku"


Medina membuka kedua matanya, dengan bibirnya yang pucat dia tersenyum. "Gak papa kok, cuma demam biasa"


"Demam biasa apanya, tubuh kamu menggigil kayak gini. Kita ke dokter sekarang"


"Tidak mau, aku hanya perlu istirahat dan minum obat saja"


"Medina! Kenapa selalu tidak menurut"


"Sudah ahh, aku mau tidur lagi saja. Kamu sana keluar, siap-siap bekerja. Nanti Selvia cariin kamu"


Rega menghela nafas kasar, melihat Medina yang menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya. Rega segera keluar kamar dan saat dia menuruni anak tangga, dia melihat Selvia yang berada disana.


"Kak, abis dari mana?" Selvia melirik pintu kamar Medina di lantai atas.


"Habis lihat Medina, dia sakit ternyata"


"Ya ampun, sakit apa Kak? Panggil dokter saja Kak"


Rega mengangguk, dia berlalu ke kamarnya untuk menelepon dokter. Meninggalkan Selvia yang menatap punggunnya dengan senyuman miris.


"Khawatirnya pada Kak Medina dan padaku benar-benar berbeda. Tapi maaf, aku tidak akan pernah mau melepaskan apa yang sudah aku miliki"

__ADS_1


Selvia berlalu ke dapur, dia tidak bisa membuat sarapan apapun. Jadi dia hanya membuat roti lapis dengan slai cokelat untuk sarapan pagi ini. Saat sedang menggigit roti lapis buatannya, Selvia tiba-tiba teringat sesuatu. Dia merogoh ponselnya di dalam saku piyama yang dia gunakan. Menekan nomor seseorang disana.


"Hallo, Kak Medina sakit, Kak"


******


Akhirnya Medina tidak bisa menolak apapun ketika Rega memanggil dokter untuknya. Membiarkan Dokter memeriksa keadaannya.


Selvia terus bergelayut manja di lengan Rega, meski dia sadar tatapan penuh khawatir Rega pada Medina yang sedang di periksa oleh Dokter.


"Sepertinya Nona terlalu kecapean dan banyak pikiran. Di jaga juga pola makannya, ada luka di lambung Nona. Mungkin karena pola makan yang tidak teratur"


Medina mengangguk "Baik Dok, terima kasih"


"Baiklah, obatnya tolong di habiskan. Saya permisi dulu kalau begitu"


Setelah Dokter pergi, Medina hanya terdiam melirik sepasang suami istri yang sejak tadi terus menempel seolah tidak ingin lepas sedikit pun.


"Aku sedang memesan bubur, nanti kau makan dan minum obatnya" kata Rega tegas, dia terlalu khawatir dengan Medina. Namun dia juga tidak bisa melakukan apa-apa saat Selvia masih berada disini.


Ceklek..


Pintu yang terbuka membuat semua orang yang ada didalam kamar Medina langsung menoleh. Kendra mau ke dalam dengan membawa parsel buah di tangannya. Melihat siapa yang datang, tangan Rega seketika mengepal erat. Jelas dia tidak suka melihat Kakak dari istrinya itu datang untuk Medina.


"Me, kenapa bisa sakit seperti ini? Ini untuk kamu, nanti dimakan ya" Kendra menyimpan parsel buah di atas naka samping tempat tidur Medina. Lalu dia duduk di pinggir tempat tidur. Menempelkan punggung tangannya di kening Medina.


Medina sedikit menjauhkan kepalanya dari Kendra, dia merasa tidak nyaman. Belum lagi saat melihat tatapan tajam Rega. "Emm. Aku baik-baik saja Kak, aku tidak papa. Hanya demam biasa"


"Ya ampun, tubuh kamu panas banget. Sudah makan belum? Biar aku suapi"


"Ekhem" Akhirnya Rega benar-benar tidak bisa menahannya. Dia berdehem keras karena sudah tidak bisa menahan dirinya ketika melihat bagaimana Kendra jelas memiliki perhatian lebih pada Medina.


"Yaudah Sayang, ayo kita keluar saja. Biarkan Kak Medina di jaga oleh Kak Kedra"


"Tidak, mereka tidak boleh berduaan di kamar"


Suara Rega yang penuh penekanan itu membuat Selvia dan Kendra langsung menatapnya dengan bingung.

__ADS_1


"Ya ampun Ga, aku juga tidak akan melakukan apapun pada sepupu kamu ini"


Dia bukan sepupuku, dia kekasihku!


Rasanya ingin sekali Rega berteriak sepert itu pada semua orang. Agar mereka semua tahu jika Medina adalah pemilik hatinya sampai saat ini. Namun, keadaan memaksanya untuk tetap diam dan tidak bisa mengungkapkan itu.


"Iya Kak, udah ahh ayo kita tinggalkan saja mereka berdua. Lagian tidak akan ada yang terjadi, Kak Medina juga sedang sakit"


Selvia menarik lengan Rega keluar dari kamar Medina. Tak bisa melakukan apapun lagi, Rega hanya menurut saja. Meski dirinya sangat berat meninggalkan Medina hanya berdua dengan Kendra.


Saat sampai di bawah, pesanan makanan Rega datang juga. Dia memiliki alasan untuk mengantarkan makanan untuk Medina. "Kau tunggu di sini ya, aku antarkan dulu bubur untuk Medina"


"Biar aku saja Kak"


Rega menahan tangan Selvia yang siap mengambil alih semangkuk bubur di tangannya. "Tidak usah, kamu istirahat saja. Nanti sesak lagi, aku tidak mau kau sakit"


Rega berlalu ke kamar Medina, sementara Selvia hanya menatap punggung Rega dengan senyuman tipis. "Takut aku sakit, atau takut Kak Medina dekat dengan Kak Kendra?"


Rega masuk ke dalam kamar, dia menggeser duduk Kendra di samping Medina. "Awas, aku harus menyuapi Medina"


"Biar aku saja, kau harusnya mengurus istrimu. Kenapa harus repot-repot mengurus Medina, dia ada aku yang akan merawatnya"


Rega mendelik tajam pada Kendra, yang merawat Medina? Memangnya dia akan membiarkan Kendra merawat gadisnya? Jelas tidak!


"Aku sepupunya, jadi aku harus memastikan kesehatannya"


Melihat perdebatan ini membuat Medina menghela nafas pelan. Dia merebut mangkuk bubur di tangan Rega. "Kalian berdua keluar saja, aku bisa makan sendiri dan minum obat sendiri. Aku juga ingin istirahat, jadi tolong jangan ganggu aku"


"Keluar Kak, kenapa masih disini"


Kendra langsung menatap tidak percaya pada Rega atas apa yang di ucapkannya barusan. "Kita yang keluar, bukan hanya aku"


Kendra menarik Rega keluar, membiarkan Median istirahat.


Akhirnya mereka keluar juga. Gumam Medina.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2