Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 55 #Kesucian Medina Hanya Untuk Rega?!#


__ADS_3

Medina terbangun dengan rasa mual yang menyerangnya. Entah kenapa dia masih saja mengalami morning sicknes sampai saat ini. Padahal kehamilannya sudah masuk tuju bulan.


Dan bagi Rega ini adalah pengalaman yang membuatnya panik. Dia membantu memijat tengkuk Medina yang sedang muntah-muntah di wastaffel.


"Sayang, apa kita pergi ke dokter saja?"


Medina menggeleng, dia berkumur dan mencuci wajahnya. Dia menoleh pada prianya, lalu menjatuhkan kepalanya di dada Rega. "Aku tidak papa, memang selalu seperti ini setiap bangun pagi hari. Dokter juga sudah menjelaskan jika ini adalah hal normal yang dialami Ibu hamil"


Rega menggendong tubuh Medina dan membawanya ke kamar. Mendudukan tubuh Medina di atas tempat tdiur. Lalu dia duduk di pinggir tempat tidur. Menatap Medina dengan tatapan cemas dan khawatir.


"Sayang, aku minta maaf" lirih Rega, dia mulai menyadari kesulitan yang dialami Medina selama mengandung anaknya memang sangat tidak mudah.


Medina mengerutkan keningnya, bingung dengan sikap Rega yang tiba-tiba minta maaf. "Sayang, kenapa meminta maaf? Kau tidak salah apapun"


Rega mendongak, dia menatap Medina dengan tatapan sendu. "Aku tahu jika selama ini kamu tidak mudah untuk melewati semua ini. Kehamilanmu tidak mudah untuk dilewati seorang diri. Maafkan aku karena aku tidak ada disaat kamu kesulitan"


Medina tersenyum, dia meraih tangan suaminya dan meletakannya di atas perut buncinya. Langsung terasa tendangan dari dalam sana. "Aku rela melewati banyak hal yang mungkin lebih sulit dari ini, karena aku tidak pernah menyesal mengandung anak ini. Aku tidak lagi merasa kesepian sejak anak ini hadir dalam perutku. Aku selalu bercerita banyak hal padanya. Meski tahu dia tidak akan mengerti apapun. Tapi, dengan dia memberikan sebuah gerakan dan respon dari dalam perutku, sudah membuat aku senang"


Rega tersenyum ketika dia merasakan tendangan anaknya yang kencang. Dia mengelus perut Medina, lalu mengecup perut buncit itu. "Sayang, minggu depan acara pernikahan kita di langsungkan. Mulai besok sudah ada beberapa orang dari pihak wedding organizer untuk mempersiapkan semuanya. Mereka kamu yang menginginkan pernikahan sederhana, maka kita akan menikah di halaman rumah saja. Tidak menyewa gedung"


Medina mengangguk, memang itu yang dia inginkan. Lagian halaman rumah ini juga begitu luas hingga akan cukup untuk acara pernikahan mereka.


"Iya Sayang, aku senang mendengarnya. Lagian untuk apa mengadakan pesta yang mewah, lagian aku juga bukan gadis yang suci lagi"


Deg..


Seketika Rega langsung menatap tajam pada Medina. Dia tidak suka mendengar ucapan Medina barusan. "Sayang, kenapa berbicara seperti itu? Aku tidak suka kau berbicara seperti itu"


"Ya 'kan itu kenyataan Sayang"

__ADS_1


Rega meraih tangan Medina, mengenggamnya dengan lembut. "Sayang, kamu adalah gadis yang mempertahankan kesucianmu selama ini. Hingga aku datang dan aku yang merenggutnya di kamar hotel malam itu"


"Kamu...?"


Rega mengangguk, dia tersenyum melihat keterkejutan Medina saat mendengar ucapannya barusan. "Aku tahu Sayang, malam itu aku tahu jika kamu masih dalam keadaan suci. Maafkan aku karena aku sempat menyamakan kamu dengan wanita-wanita yang bekerja dan tinggal disana"


Medina menatap Rega dengan mata berkaca-kaca, karena memang dia tidak menyangka jika Rega akan mengetahui kebenarannya. "Asal kamu tahu, aku sengaja menjaganya meski banyak tekanan dan paksaan dari Mommy Sonya saat itu, karena banyaknya pria yang ingin menyentuh tubuhku. Tapi aku tetap menahan diri, hingga kamu datang dan aku benar-benar tidak berfikir apapun saat kamu melakukannya. Karena apa? Karena aku mencintaimu"


Rega tidak tahan lagi, pertahanannya benar-benar runtuh saat ini. Dia memeluk Medina, menyandarkan kepalnya dia dada gadisnya. Dan isakan kecil mulai terdengar dari mulutnya. Medina cukup terkejut mendengar suara isakan dari Rega. Medina mengelus kepala Rega yang berada di dadanya.


"Sayang, kenapa menangis?"


"Maafkan aku, karena aku sempat tidak percaya padamu dan malah meninggalkan kamu. Saat itu karena aku benar-benar tidak rela ketika membayangkan tubuhmu di sentuh oleh pria lain. Bodohnya karena aku memikirkan hal itu, aku tidak pernah berfikir sebesar apa cintamu padaku"


Medina menghela nafas, memang setiap orang yang mengetahui seorang gadis yang tinggal di tempat seperti itu, pastinya akanĀ  dianggap bukan gadis baik-baik. Semuanya akan menganggap sama dengan wanita malam lainnya.


******


Rega baru saja keluar dari ruang ganti, berjalan menuju meja rias dan mengeringkan rambutnya yang basah. Dia berbalik dan ingin segera menemui istrinya di lantai bawah. Namun sebelum dia sempat melangkah, dia menemukan sesuatu di atas lantai. Rega mengambilnya dan mengerutkan keningnya, bingung ketika dia melihat fotonya saat dulu kuliah di luar negara.


"Kenapa foto ini ada disini? Aku sudah lama mencarinya dan tidak ketemu"


Rega membalikan foto itu dan membaca tulisan di belakangnya. Tangannya mengepal erat, dia meremas foto itu ketika membaca tulisan yang ada di belakang foto.


Ceklek..


Medina membuka pintu kamar dan melihat Rega yang berdiri sambil memegang sebuah foto di tangannya. Seketika Medina langsung meraba saku baju piyama yang dia pakai, dan memang foto yang kemarin dia masukan ke dalam saku bajunya tidak ada disana.


"Sayang.."

__ADS_1


Rega menoleh dan melihat Medina yang berjalan ke arahnya. Rega mengingat saat kemarin dia mencari Medina, dan gadis itu keluar dari kamar yang dulu ditempati oleh Selvia.


"Sayang, kamu menemukan foto ini darimana?"Suara Rega terdengar penuh dengan penekanan.


"Aku menemukannya di saku piyama baju Selvia yang masih ada di lemari"


Rega menghela nafas panjang, dia meraih tubuh Medina dan memeluknya. "Aku belum membuang semua barang-barang miliknya karena aku tidak ada waktu. Besok biar aku suruh orang untuk membuat semua barang-barang miliknya"


Medina mendongak dan melihat wajah Rega yang kesal dan seolah sedang menahan amarah. "Sayang, jangan dibuang. Lebih baik kamu antarkan saja ke rumah Selvia. Kalau sudah berada di rumahnya, terserah dia mau melakukan apa pada semua barang-barang miliknya itu"


Rega mengecup kening Medina, benar juga apa yang dikatakan oleh Medina. "Baiklah, aku akan melakukannya besok"


"Sekarang ayo sarapan, aku sudah masak sarapan untukmu"


Rega tersenyum, dia mengelus kepala Median denga lembut. "Yaudah ayo, masak apa hari ini? Aku sudah sangat merindukan masakanmu"


"Masak seadanya saja, semoga kamu suka"


"Aku selalu suka apapun yang kamu masak"


Rega menggandeng tangan Medina saat menuruni anak tangga. Menuju dapur dan hari ini adalah hari pertama mereka melakukan sarapan bersama setelah beberapa bulan mereka terpisah.


"Emm. Sayang aku benar-benar merindukan masakanmu ini"


Medina hanya tersenyum mendengar itu. Merasa senang karena Rega menyuakai masakan sederhana yang dia masak pagi ini.


Tuhan, biarkan kami tetap bahagia seperti ini untuk selamanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2