
Masih dalam perjalanan, Medina benar-benar tidak bisa lepas dari pelukan Rega. Padahal dia ingin sekali lepas dari pria itu. Namun entah kenapa takdir malah mempertemukan kembali mereka berdua.
"Ga, pliss biarkan aku pergi ya"
Rega menghela nafas berat, entah kenapa Medina sangat ingin pergi dari kehidupannya. Tidak tahukah dia, bagaimana hidup Rega yang begitu kacau ketika dia meninggalkannya.
"Kenapa kau terus mengatakan itu? Apa kau tidak senang bertemu denganku? Ya, aku mengaku salah karena telah mengakhiri hubungan kita tanpa aku tahu jika kamu sedang hamil. Aku minta maaf soal itu. Tapi, tolong jangan membenciku"
Medina menghela nafas pelan, dia mencoba untuk melerai pelukan Rega. Dia menatap pria itu dengan lekat. "Ga, aku tidak mau jika harus terus menjalin hubungan di belakang Selvia. Apa kamu tahu jika Selvia memang sudah mengetahui tentang hubungan gelap kita selama ini. Aku tidak mau merusak pernikahan kalian, apalagi saat ini Selvia sedang mengandung anakmu"
Rega mulai mengerti dan bisa memahami apa yang di maksud oleh Medina. "Sayang, aku dan Selvia sudah resmi bercerai. Dan tentang Selvia, dia tidak hamil Sayang. Dia hanya membohongi kita"
Medina menggeleng pelan, jelas dia tidak akan percaya dengan ucapan Rega. Jelas sekali Medina melihat Selvia yang sedang hamil, Medina menganggap jika saat ini Rega hanya sedang mencoba untuk membohonginya agar Medina mau kembali padanya. Menjadi pemuas naf*su untuknya lagi.
"Sayang kamu harus percaya padaku, Selvia tidak sedang hamil. Aku dan dia juga sudah lama bercerai. Sayang, plis percaya padaku"
Rega menggenggam kedua tangan Medina dan menatap mata gadis itu dengan lekat. Jelas sekali Rega melihat banyak luka di balik tatapan mata itu.
Medina sudah sangat terluka selama ini. Ditinggalkan Rega ketika dia tahu kalau Medina tinggal dan berkerja di sebuah club malam. Membuat Rega salah faham padanya. Berakhir dengan dibeli oleh mantan pacarnya sendiri dan dijadikan sebagai pemuas naf*su sang mantan. Dah Medina terpakas harus pergi dalam keadaan hamil karena Rega yang meminta untuk mengakhiri hubungan dengannya. Fikirkanlah, luka mana yang belum pernah Medina alami selama hidupnya.
"Cukup Ga! Kamu jangan terus berusaha untuk membuat aku kembali padamu hanya untuk menjadi pemuas naf*sumu saja. Lihatlah, istrimu pasti akan semakin marah dan terluka jika dia tahu bagaimana kelakuan suaminya yang memaksa mantan pacarnya untuk kembali hidup bersama tanpa ikatan apapun"
"Aku akan menikahimu!"
Medina menatap Rega dengan mata berkaca-kaca. "Segitukah kamu menginginkan aku untuk kembali menjadi pemuas naf*su kamu? Aku tahu jika aku sudah rendah dimata siapa pun. Harga diri aku sudah jatuh di mata kamu dan siapa pun. Tapi, tolong biarkan aku menata kembali hidup aku ini. Jangan terus mengganggu hidupku"
"Sayang, apa maksudmu? Dan stop mengatakan jika kamu adalah pemuas naf*su untukku. Kamu itu adalah wanita yang aku cin...."
"Cukup Ga! Cukup!" Medina menatap Rega dengan kekecewaan yang semakin terlihat di balik tatapan matanya. Air mata kembali menetes di pipinya. "...Jangan datang hanya karena kau tahu aku sedang mengandung anakmu. Apa kamu juga ingin mengambil anak ini setelah semuanya kamu ambil dari hidupku? Hatiku, cintaku, harga diriku. Lalu, sekarang kamu juga akan mengambil anak ini?"
"Enggak Sayang, dengarkan aku dulu..."
__ADS_1
"Ambil Ga, ambil kalau kamu ingin anak ini. Tapi setelah itu lenyaplah dari kehidupan aku. Biarkan aku hidup sendiri dan meratapi nasibku sampai aku mati"
Medina turun dari mobil ketika mobil itu berhenti tepat di depan gang menuju rumah Ibu Nia.
"Medina, kamu mau kemana?!"
Teriakan Rega benar-benar tidak di hiraukan oleh Medina. Dia terus berjalan menuju rumah Ibu Nia dengan tangisan yang tidak kunjung berhenti.
"Pak, kenapa berhenti?"
"Maaf Tuan, motor yang tadi masuk ke dalam gang ini"
****..
Rega segera keluar dari mobil, dan berlari mengejar Medina. Rega melihat Medina yang berada di teras rumah dan berpelukan dengan Ibu paruh baya disana. Rega segera menghampirinya.
"Sayang.."
Sial. Ternyata Selvia sudah datang kesini lebih cepat. Pantas saja sikap Medina seperti itu.
Medina membawa Medina ke rumahnya. Membawa Medina untuk menenangkan diri di kamar. Sementara Rega yang ingin menyusul, langsung di tahan oleh Giant.
"Maaf Kak, sebaiknya tunggu dulu disini. Biarkan Kak Medina menenangkan diri. Dia pasti sangat shock"
Rega menghela nafas pelan, akhrinya dia menuruti ucapan Giant. Duduk di teras depan rumah Giant.
"Tuan, ini barang-barang milik Nona" Pak supir datang dengan membawakan barang-barang milik Medina.
"Simpan saja disitu Pak, dan tolong carikan saya penginapan di sekitar sini. Sekarang Bapal bisa pulang lebih dulu, aku akan tinggal disini sebentar"
"Baik Tuan"
__ADS_1
Giant membawakan minum untuk Rega, menyimpannya di atas meja dan dia ikut duduk di samping Rega. Hanya terhalang meja bundar saja.
"Jadi sebenarnya apa yang terjadi Kak? Aku baru kali ini melihat Kak Medina menangis. Karena sebelumnya, dia selalu terlihat ceria dan baik-baik saja meski aku juga tahu jika kehidupannya tidak baik-baik saja selama ini"
Rega menghela nafas pelan, dia tahu jika Medina memang yang paling pandai menutupi perasaannya. "Sepertinya telah terjadi kesalah fahaman diantara kita"
Rega menceritakan semua kisah hidupnya bersama Medina agar Giant mengerti dan tidak akan melarangnya untuk bertemu dengan Medina.
"Aku sangat mencintainya, hati ini tidak pernah bisa berpaling darinya sejak dulu. Karena hanya Medina yang mampu membuat hatiku jatuh cinta"
Giant melihat bagaimana kerapuhan Rega saat ini. Dia mengerti sekarang, terlalu banyak kesalah fahaman yang harus di luruskan oleh keduanya.
"Kemarin memang datang seorang wanita cantik yang menemui Kak Medina. Dan setelah itu, Kak Medina tiba-tiba meminta izin pada Ibu untuk pergi dari rumah ini. Saat ditanya alasannya apa, dia tidak memberikan alasan yang jelas membuat kami bingung. Dan sepertinya memang mantan istrimu itu yang datang kesini dan entah apa yang telah mereka bicarakan saat itu"
Tangan Rega mengepal kuat, dia mengambil ponselnya dari dalam saku jas miliknya. Menghubungi seseorang disana.
"Hallo, Aiden aku membutuhkan bantuanmu"
"Iya, ada apa Ga?"
"Selvia telah datang lebih dulu menemui Medina dan menceritakan hal yang bukan kebenarannya. Tolong kau suruh orang untuk mengantarkan akta perceraianku. Kau ambil di rumah, ada diruang kerjaku"
"Oke, aku melakukannya"
Giant hanya mendengar ucapan Rega yang begitu tegas dan dingin. Entah kenapa dia jadi merinding sendiri dengan pria itu. Ternyata pacarnya Kak Medina ini, bukan orang biasa. Dia adalah orang yang cukup mempunyai kuasa tinggi.
"Giant, aku akan kembali datang nanti sore. Saat ini aku harus pergi dulu ke penginapan. Aku minta tolong padamu, untuk menjaga Medina. Jangan biarkan dia pergi lagi dari sini"
Giant mengangguk. "Iya Kak"
Rega segera pergi ke penginapan yang telah di pesan oleh supir. Dia harus menunggu orang suruhan Aiden mengirimkan bukti perecaraiannya dengan Selvia. Medina tidak akan percaya jika Rega tak menunjukan itu.
__ADS_1
Bersambung