Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 65 #Bolehkah Melakukannya?#


__ADS_3

Rega menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumah mewah ini. Kedatangan mereka tentu langsung disambut hangat oleh keluarga Aiden. Akhir pekan memang adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga bagi orang-orang sibuk seperti Aiden dan Rega.


"Hai Al, maaf ya Uncle baru datang kesini" Rega langsung memangku Alerio dan dan mencium pipi Alerio dengan gemas.


"Ini hadiah untuk Al, maaf ya telat"


Alerio langsung bersorak senang ketika dia mendapatkan hadiah dari Uncle kesayangannya ini. "Macih Unlce"


"Iya"


Alerio berjalan ke arah Medina yang sejak tadi tersenyum gemas dengan tingkahnya itu. "Ante kenapa perutnya becar?"


Medina tersenyum mendengar pertanyaan Alerio yang terdengar cadel itu. Medina menggendong Alerio dan mendudukannya diatas pangkuannya.


"Hati-hati Me, Alerio lagi aktif-aktifnya sekarang"


Medina tersenyum pada Ayra. "Tidak papa Kak. Alerio, kenapa perut Tante besar, karena ada dedek bayi di dalam perut Tante. Dulu juga Alerio berada dalam perut BUnda"


Alerio menatap Medin dengan kedipan matanya yang lucu. Tanggan mungilnya menyentuh perut Medina dengan ragu. Lalu diamenoleh pada Ibunya. "Nda, Alelio ada perut Nda juga cama?"


Ayra tertawa mendengar celotehan anaknya yang masih belum jelas itu. "Iya Sayang, Alerio juga berada di perut Bunda dulu"'


Alerio langsung turun  dari atas pangkuan Medina dan berlari ke arah Ibunya. Dia mengelus perut Ayra dengan tangan mungilnya. "Apa sekarang juga ada Dede bayi dalam perut Nda"


"Ahh, tidak Sayang. Kan Alerio nya juga sudah keluar dari perut Bunda"


Aiden yang duduk di pegangan sofa tunggal yang di duduki oleh istrinya, langsung merangkul Ayra. "Sayang, sepertinya Alerio sudah menginginkan adik bayi"


"Iya Kak, sepertinya memang seperti itu" Medina tersenyum pada Ayra, dia memilih panggilan itu pada Ayra. Karena Rega yang mengatakan jika Ayra memang tidak suka di panggil Nona, karena masa lalunya juga yang sering memanggil Nona pada orang-orang kaya yang dia temui. Sebelum dirinya menikah dengan Aiden.


"Ya ampun Me, aku belum siap untuk mengandung lagi. Alerio juga masih kecil"


Medina hanya tersenyum mendengar itu, dia senang dengan keramahan Ayra yang tidak pernah mau membedakan sosial dan status seseorang.


Selesai makan siang bersama di rumah Aiden. Rega langsung membawa Medina menuju rumah sakit. Saat ini keduanya telah berada di ruangan Dokter kandungan. Medina juga sedang di periksa.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya dan kandungannya Dok?"


"Semuanya baik, kandungan Nona juga baik dan sehat"


Rega menghela nafas lega, dia takut jika kandungan istrinya bermasalah seperti yang pernah terjadi pada Tami, istrinya Alvaro. "Lalu apa  jenis kelamin anak kami Dok"


"Emm. Jenis kelaminnya adalah permpuan. Selamat ya Nona dan Tuan, kalian akan memiliki seorang putri"


Medina tersenyum melihat suaminya yang terlihat terkejut. Mungkin karena memang Medina yangsudah memprediksi jika anaknya akan perempuan dan ternyata memang benar.


Rega membantu istrinya untuk turun dari ranjang pemeriksaan.Berjalan ke arah meja dokter dan duduk di depan meja Dokter. "Emm. Dok, apa saya boleh melakukannya?"


Pertanyaan macam apa itu?


Medina benar-benar merasa malu ketika mendengar ucapan suaminya itu. Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu Rega tanyakan secara langsung seperti ini. Medina tidak menyangka jika suaminya akan begitu berani menanyakan hal itu tanpa rasa malu sedikit pun.


"Tidak papa Tuan, apalagi keadaan kandungannya jga sangat sehat dan baik. Jadi tidak perlu  takut lagijikamemang Tuan ingin melakukannya. Asalkan melakukan dengan lembut dan tidak menekan bagian perut"


Mendengar penjelasan Dokter benar-benar membuat Medina menahan malu karena itu. Namun tidak dengan suaminya, wajah Rega terlihat sangat cerah saat dia tahu jika dirinya bisa melakukannya ada istrinya tanpa rasa takut menyakiti istrinya lagi.


"Aku kira kamu tidak melakukannya karena memang kamu tidak mau menyentuuhku saja"


Rega menoleh pada istrinya yang baru saja keluar dari ruang ganti. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya agar Medina mendekat padanya. Medina meraih tangan suaminya dan duduk diatas pangkuan suaminya dengan mengalungkan tangannya di leher Rega.


"Mana mungkin aku tidak mau menyentuhmu lagi. Kamu sudah menjadi candu bagiku"


Cup..


Rega semakin senang ketika Medina mengecup bibirnya tanpa dia minta. Kecupan kejutan dari istrinya seperti ini memang selalu membuat Rega senang.


"Terima kasih ya karena sudah memberikan yang terbaik dalam hidupku"


Rega megelus pipi istrinya, menyalipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga Medina.  "Harusnya aku yang berterima kasih padamu. Karena kamu sudah mau menerima aku lagi setelah apa yang aku lakukan padamu. Aku mencintaimu Sayang"


"Ya, aku juga mencintaimu..." Medina menyadarkan kepalanya di dada suaminya.

__ADS_1


"...Oh ya, aku tidak melihat Ibu  Nia, dia kemana ya?"


"Tidak tahu, mungkin dia memang sedang ada urusan atau mungkin pergi ke tempat anaknya"


"Iya,  aku juga ingin ke tempat tingga Giant disini. Ingin tahu juga dimana tempat tinggalnya"


Rega langsung mendengus kesal mendengar itu, membuat Medina tertawa. Dia mengelus dada suaminya dengan lembut. "Tidak papa 'kan kalau aku pergi ke tempat tinggal Giant? Aku hanya ingin tahu dimana tempat tinggal Giant disini"


"Kenapa kamu begitu peduli padanya? Kau tidak mempunyai perasaan padanya 'kan?"


Medina menangkup wajah suaminya dan memberikan kecupan di bibir suaminya dan kedua pipinya. "Perasaanku pada Giant tentu berbeda dengan perasaanku padamu, Sayang"


Rega menatap Medina dengan bibir yang cemberut. Dia tidak suka saat Medina membagi perasaannya pada orang lain. "Aku tidak mau perasaanmu terbagi"


Medina hanya tertawa mendengar itu. Suaminya ini memang benar-benar pencemburu sekali. Sampai anak kecil yang dekat dengannya saja, dia akan cemburu selama itu adalah laki-laki.


Suamiku ini memang aneh.


******


"Dia sudah diadopsi sejak umurnya 15 tahun. Memangnya ada apa anda menanyakan itu?"


Ibu Nia menunduk lesu, dia datang kesini hanya untuk menanyakan anak yang pernah dia tinggalkan di depan panti asuhan ini. Namun ternyata anaknya itu telah di adopsi sejak lama oleh orang lain.


Medina selalu bilang kalau dia tiak punya orang tua dan keluarga. Jadi bukan dia anakku.


"Saya yang meninggalkan bayi itu disini Bu, dan sekarang saya ingin tahu bagaimana kehidupan anak saya itu"


"Ya dia telah di adopsi sejak usia 15 tahun, karena memang kita tidak akan sanggup membiayai anak-anak diatas usia 10 tahun. Jadi kami selalu membiarkan mereka di adopsi oleh orang tua asuh mereka"


"Kalau boleh tahu, siapa namanya Bu?"


"Medina"


Deg..

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2