Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 38 #Pergi Dan Menghilang Dari Kehidupan Rega#


__ADS_3

"Kamu mau mencari kerja dimana Me?"


"Entahlah Bu, tapi mungkin akan memasukan lamaran dulu ke beberapa perusahaan. Aku lulus kuliah kok"


"Bukan masalah lulus kuliahnya, tapi keadaan kamu yang sedang hamil yang mungkin akan mempersulit kamu mencari pekerjaan"


Medina terdiam, benar juga apa yang dikatakan Ibu Nia. Dirinya sedang hamil da tanpa seorang suami. Mungkin hal ini akan mempersulit dia mencari pekerjaan.


"Begini saja, lebih baik kamu bantu Ibu di rumah saja. Ibu membuka cattering dan beberapa snack makanan untuk acara-acara pesta. Jadi kamu bisa bantu Ibu"


Medina terdiam beberapa saat, memikirkan usulan yang diberikan oleh Ibu Nia. Sepertinya memang lebih baik daripada mencari pekerjaan yang belum tentu. "Baiklah Bu, Medina bisa memasak dan membuat beberapa kue"


"Nah, itu bagus. Jadi Ibu tidak akan terlalu kerepotan jika pesanan sedang banyak"


Medina mengangguk, dia mempunyai tabungan dari uang yang dia curi di atm milik Rega. Uang itu bisa dia simpan untuk hari kelahiran anaknya.


"Makasih ya Bu, Ibu sudah banyak sekali membantu Medina"


"Iya Nak, lagian Ibu merasa senang karena ada yang menemani di rumah"


"Iya Bu"


"Untuk sekarang, belum ada pesanan. Jadi kamu bisa istirahat dulu hari ini, pasti capek setelah kemarin melewati perjanan cukup jauh"


"Emm. Sepertinya hari ini Medina ingin periksa kandungan saja Bu. Medina belum pernah periksa kandungan, setelah mengetahui hamil dari alat tes kehamilan"


"Ya ampun Nak, iya kamu harus memperhatikan kesehatan kamu dan perkembangan bayi kamu juga. Ayo biar Ibu antar, di dekat sini ada bidan yang buka praktik di rumahnya. Biasanya jam segini masih ada, dia buka pagi dan sore. Kalau siangnya kerja di rumah sakit umum"


"Baiklah Bu, ayo kita berangkat sekarang"


Pemeriksaan pertama kali yang ditemani oleh Ibu Nia. Berbeda sekali dengan para Ibu hamil yang datang ke tempat ini untuk periksa kandungan juga. Mereka di temani suaminya. Medina tersenyum tipis sambil mengelus perutnya.


Tidak papa ya Nak, kamu sama Ibu saja.


Medina sedang mencoba menguatkan hatinya dan juga calon bayi dalam kandungannya. Meski sebenarnya dia juga tidak sekuat itu.


"Medina"


"Saya Bu"


Medina masuk ke dalam ruang pemeriksaan bersama Ibu Nia. Medina langsung di suruh berbaring di ranjang pemeriksaan oleh Bidan. Pemeriksaan di mulai dari cek tekanan darah dan lain-lain.

__ADS_1


"Kapan terakhir kali datang bulan?"


"Bulan kemarin Bu"


"Baiklah, kandungan kamu sehat. Usianya masih sekitar 3 minggu"


"Iya Bu terima kasih"


"Di habiskan vitamin dan obatnya"


"Baik"


Setelah selesai pemeriksaan, Medina dan Ibu Nia segera pulang ke rumah. Medina senang ketika mengetahui tentang kandungannya yang sehat dan baik-baik saja.


Sampai di rumah, dia masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tdiur. Tangannya berada di atas perutnya. "Ibu senang kamu hadir dalam perut Ibu. Sehat-sehat ya Nak, bantu Ibu melewati semuanya"


******


Di tempat yang berbeda, Rega baru terbangun entah di pukul berapa. Kepalanya terasa sangat pusing. Rega benar-benar tertidur di kamar Medina sejak kepergian gadis itu kemarin.


"Kelaku sakit sekali" Rega sedikit memukul kepalanya dengan tangannya. Mencoba menghilangkan rasa pusing di kepalanya.


Drett..Drett...


"Hallo, ya Aiden?"


"Kau dimana? Kenapa jam segini belum juga datang ke kantor?"


"Aku masih di rumah, setengah jam lagi aku sampai disana"


"Tunggu! Ada apa dengan suaramu?"


"Medina pergi"


Aiden yang mendengar itu, menghela nafas pelan. Dia tahu bagaimana perasaan Rega untuk Medina. Tapi keadaan memang seolah melarang mereka untuk bisa bersatu. "Sudahlah, hari ini kau tidak perlu datang ke kantor. Aku bisa mengurusnya sendiri. Baik-baiklah kau disana"


Rega menyimpan kembali ponselnya diatas nakas. Dia kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bayangan Medina selalu melintas dalam fikirannya. Seolah dia memang tidak akan sampai melupakan sosok itu.


Maafkan aku Me, maafkan aku.


Pintu kamar terbuka, Selvia masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan suaminya. "Kak, apa kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


Rega menoleh pada Selvia, dia tersenyum lirih. Senyuman yang benar-benar mengandung banyak luka di dalamnya. "Aku baik-baik saja, kau tunggulah di bawah. Aku akan menyusul"


Selvia mengangguk, dia keluar dari kamar yang ditempati Rega. Menutup pintu kamar dengan helaan nafas panjang. "Maafkan aku Kak"


Rasa bersalah itu ada, namun Selvia tetap mendahulukan egonya. Dia tidak mau kehilangan Rega dan tidak akan pernah mau melepaskan Rega.


Beberapa saat kemudian, Rega turun dan menemui istrinya yang dia abaikan sejak kemarin. "Kau sudah sarapan Se?"


"Sudah Kak, tadi sarapan roti dan susu"


"Emm. Seharusnya kau minum susu Ibu hamil 'kan? Kita beli nanti siang sekalian periksa kandungan kamu ke dokter. Kamu belum pernah periksa 'kan"


Selvia terdiam mendengar itu, ada beberapa hal yang dia fikirkan saat ini. "Emm. Sebaiknya jangan sekarang saja Kak, aku sedang malas kemana-mana. Mungkin juga karena hormon kehamilan yang ada"


"Yaudah kalau gitu, aku sepertinya ada urusan sebentar. Tidak papa jika kamu aku tinggal sendirian di rumah?"


Selvia mengangguk, setidaknya dia bisa lebih tenang sekarang. Rega benar-benar menjadi miliknya. Tidak ada lagi yang perlu Selvia khawatirkan sekarang.


"Iya Kak, gak papa kok. Aku bisa sendiri di rumah"


"Baiklah kalau begitu"


Rega bersiap-siap dan pergi dari rumah. Sebenarnya dia tidak mempunyai tujuan yang pasti, ketika pergi dari rumah. Rega hanya mencoba mencari Medina. Berharap akan menemukan gadis itu di tempat yang dia lewati. Namun selama satu jam dia berputar-putar. Tidak sama sekali menemukan Medina.


Rega meraih ponselnya dan mencoba menghubungi kembali nomor ponsel Medina yang ternyata hasilnya masih sama. Nomor ponsel gadis itu tidak dapat di hubungi.


"Medina, kemana kamu pergi? Aku tidak pernah berfikir jika kamu akan pergi dan benar-benar menghilang dariku. Aku tidak bisa tanpamu Me"


Lelah hanya berputar-putar tidak tahu arah tujuan, akhirnya Rega memarkirkan mobilnya di depan Slick Grind Resto. Restaurant milik sahabatnya.


Alvaro melihat keadaan Rega yang benar-benar kacau. Dimana sahabatnya ini terlihat begitu hancur. Alvaro membawa Rega ke ruangannya. Duduk di atas sofa dengan saling berhadapan.


"Jadi bagaimana? Apa kau sudah mengambil keputusan?"


Rega menghela nafas panjang, dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Menatap langit-langit dengan tatapan menerawang. "Medina sudah pergi Al, dia benar-benar pergi dan menghilang dari kehidupan aku. Bahkan sudah aku cari-cari dia, tapi tetap tidak menemukannya"


"Sebenarnya ini adalah hal wajar Ga. Aku pun jika menjadi Medina, pasti akan melakukan hal yang sama. Tapi, aku tidak tahu apa yang kau rasakan sebenarnya. Karena aku tidak berada di posisimu. Aku akan tetap mendukung apapun keputusanmu"


Rega menatap Alvaro dengan lekat. "Al, bagaimana jika aku menceraikan Selvia setelah dia melahirkan?"


Hah?!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2