Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 29 #Mari Berteman?!#


__ADS_3

Medina mengerjapkan matanya ketika dia merasa suhu tubuhnya sudah sedikit turun. Meski belum normal kembali. Menoleh ke samping kiri, ketika merasa tangannya yang di genggam seseorang. Ternyata Rega yang tertidur sambil mengenggam tangannya.


Medina melirik jam dinding, hari masih siang menjelang sore. Berarti cukup lama juga dia terlelap. Medina menatap wajah Rega yang selalu terlihat tenang ketika dia sedang terlelap seperti ini.


"Sayang bangun.." lirih Medina sambil mengelus pipi Rega.


Pria itu mulai mengerjap, dia mengucek matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya. Lalu menoleh ke arah Medina yang sedang menatapnya.


"Sayang sudah bangun, bagaimana keadaanmu?" Rega langsung memegang kening Medina untuk memastikan suhu tubuh gadis itu memang benar-benar sudah turun.


"Masih panas, apa kita ke rumah sakit saja"


Medina menggeleng pelan, dia beringsut masuk ke dalam pelukan Rega dan memeluknya dengan nyaman. "Aku tidak papa selama kamu masih berada di sampingku"


Rega membalasa pelukan Medina, mengecup keningnya dengan lembut. "Sayang, kita ke rumah sakit saja ya. Suhu tubuh kamu masih panas"


Medina menggeleng dalam pelukan Rega. "Tidak perlu Sayang, aku tidak papa. Lagian ini panasnya juga sudah mulai turun"


"Iya, tapi masih belum benar-benar normal kembali"


Medina mendongak, dia menatap wajah Rega yang juga sedang menundukkan pandangannya. Sejenak dua pasang mata itu saling menatap. "Sayang, kenapa kamu disini? Selvia kemana?"


"Aku suruh Selvia pergi bersama Kakaknya untuk membeli obat dan makanan untuk kamu"


Medina melihat kejahilan dari cara Rega berbicara, membuat dia memukul dads Rega. "Kamu sengaja ya melakukan itu, biar kamu bisa disini bersama aku?"


Rega semakin mengeratkan pelukannya, dia memang sengaja melakukan itu agar dia bisa menjaga Medina dan memastikan jika gadisnya akan baik-baik saja. "Sayang, aku khawatir sekali melihat kamu yang sakit seperti ini. Aku takut kehilangan kamu"


Medina terdiam, seolah mencerna ucapan Rega barusan agar dia tidak salah menduga. "Aku tidak papa, hanya demam biasa. Mungkin karena perubahan cuaca"


Rega memeluk Medina dengan erat, menggesekan dagunya di puncak kepala Medina. "Mulai sekarang harus lebih hati-hati dan jaga kesehatan kamu"


"Iya Sayang"


Beberapa saat keduanya hanya merasa nyaman dalam pelukan. Hingga suara Selvia yang terdengar memanggil Rega membuat Medina langsung mendorong tubuh Rega agar menjauh darinya.

__ADS_1


"Sayang cepat turun ihh, nanti Selvia keburu masuk"


"Sayang apaan si, pake dorong-dorong aku segala"


Dengan terpaksa dan wajah kesal, Rega turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah sofa. Tepat pada saat itu pintu kamar terbuka, Selvia dan Kendra masuk ke dalam kamar.


"Kak, bagaimana keadaan Kak Medina?"


Rega berpura-pura acuh, dia menunjuk Medina dengan dagunya. "Dia sudah lebih baik"


Selvia beralih duduk disamping Rega, merangkul tangannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Rega. "Capek Sayang, aku cari vitamin yang kamu katakan itu. Beruntungnya Kak Kendra menemani aku"


Rega mengelus kepala Selvia. "Memang vitamin itu sedikit susah di cari"


"Heem, sepertinya memang seperti itu"


Mata Rega langsung menatap ke arah Kendra yang duduk di pinggir tempat tidur Medina. Tangan kirinya mengepal di samping tubuhnya. Rasanya Rega ingin menendang pria itu keluar dari kamar ini. Tapi tentu dia tidak akan bisa melakukan itu.


"Bagaimana keadaan kamu Me?"


"Baik Kak, makasih ya sudah mau di repotin belikan aku obat. Se, makasih juga ya"


Kendra meraih tangan Medina, membuat gadis itu sedikit tidak nyaman. Apalagi ketika tatapan Rega yang terlihat begitu tajam.


"Masih panas ya Me, kita ke rumah sakit saja gimana? Biar aku antar"


"Medina tidak mau di bawa ke rumah sakit, aku sudah mengajaknya tadi" Tiba-tiba saja Rega menimpali ucapan Kendra itu. Dia tidak bisa membiarkan Kendra semakin punya banyak peluang untuk berduaan bersama Medina. Sesungguhnya hati Rega benar-benar tidak rela melihat itu.


"Sayang, aku capek ayo kita ke kamar istirahat"


Rega menatap Selvia, lalu melirik ke arah Medina yang mengedipkan matanya agar Rega menuruti keinginan Selvia. Daripada gadis itu menjadi curiga pada mereka berdua.


"Iya Ga, sana kamu temani istri kamu istirahat. Biar Medina aku saja yang jaga"


Mendengar itu tatapan Rega langsung berubah kesal. Disaat seperti ini, dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Karena keadaan masih memaksanya untuk melakukan sandiwara menyakitkan ini.

__ADS_1


"Jangan macam-macam pada sepupuku!"


"Ya ampun Ga, kamu gak percaya banget si sama Kakak ipar kamu ini. Memangnya aku mau melakukan apa sama Medina, aku bukan pria yang cuma memikirkan naf*su saja"


Medina menunduk mendengar itu, memikirkan tentang nasibnya yang menjadi pemuas naf*su sang mantan. Munhkinkah jika Rega hanya memikirkan tentang naf*sunya saja. Tidak sama sekali memikirkan tentang perasaan Medina.


"Sayang ayo.." Selvia menarik tangan Rega untuk keluar dari kamar Medina, membuat Rega tidak bisa berbuat apa-apa.


Di dalam kamar, Medina merasa canggung dan tidak nyaman ketika hanya berdua dengan Kendra. "Kak, aku sudah tidak papa. Terima kasih sudah meluangkan waktu menjenguk aku. Tapi sebaiknya, Kakak pulang saja"


Mendengar ucapan Medina, membuat Kendra menatap Medina dengan lekat. Sungguh gadis ini telah membuat hatinya benar-benar penasaran. Gadis yang tertutup dan begitu cuek padanya.


"Me, apa kita tidak bisa untuk berteman saja?"


Medina mendongak, menatap Kendra dengan bingung. Dan mungkin ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang mengajaknya untuk berteman. Karena selama ini, tidak ada yang mau berteman dengan Medina. Karena kepribadian Medina yang tertutup dan terlalu membosankan bagi orang lain.


"Kalau merasa kehadiran aku mengganggu kamu karena kamu belum mengenal aku dan merasa canggung denganku. Jadi, cobalah untuk berteman denganku"


Medina menatap Kendra dengan lekat, memikirkan ucapan Kendra berusan. Dia juga tidak tega jika menolak ajakan Kendra untuk berteman dengannya. Hanya teman, sepertinya tidak masalah.


"Baiklah Kak, mari kita berteman"


******


"Berteman? Kau gila ya"


Medina menatap bingung pada Rega yang terlihat marah ketika dia menceritakan tentang Kendra yang memintanya untuk menjadi teman.


"Kenapa marah, Kak Kendra hanya mengajakku berteman. Itu tidak masalah"


"Tidak masalah katamu! Dulu aku dan kau juga hanya berteman, tapi akhirnya kita berpacaran juga. Jadi, tidak ada kata teman diantara pria dan wanita!"


Medina menghela nafas, dia tahu bagaimana Rega jika sedang kesal dan marah seperti ini. Dia tidak pernah bisa mengendalikan emosinya.


"Sebenarnya kau kenapa? Apa kau cemburu?"

__ADS_1


Akhirnya Medina memberanikan diri untuk mempertanyakan hal yang memang sudah lama ingin dia tanyakan. Karena sebuah kata cemburu, hanya untuk seseorang yang mencintai. Dan mungkinkah Rega masih mencintainya?


Bersambung


__ADS_2