Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 25 #Tidak Akan Membiarkanmu Jauh Dariku#


__ADS_3

Entah harus menafsirkan bagaimana lagi tentang hubungan ini. Ketika setiap malam Rega selalu datang ke kamarnya, dan malam ini mereka berdua kembali melakukan hal itu lagi.


Berpelukan diatas tempat tidur dengan tubuh yang sama-sama polos. Saling memberikan kehangatan.


"Sayang, aku benar-benar ingin kos saja"


Rega mendengus kasar mendengarnya. "Jangan mulai, Sayang. Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kamu jauh dariku. Faham!"


Medina menghela nafas pelan, dia mengelus dada Rega dengan sedikit bermain-main disana dengan jari telunjuknya. "Tapi, aku takut jika Selvia akan mengetahui tentang hubungan kita ini. Aku tidak mau sampai Selvia terluka karena kita, kasihan dia"


"Kau tahu, aku tidak akan pernah membiarkan kamu jauh dariku. Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan itu terjadi"


Medina hanya menghela nafas, sepertinya memang keinginan dia untuk bisa tinggal terpisah dari Rega dan Selvia, tidak akan terwujud.


Saling memberikan kehangatan dalam pelukan, membuat keduanya terlelap dalam pelukan yang nyaman. Hingga pagi hari, Medina terbangun tanpa Rega di sampingnya. Dia menghela nafas pelan. Entah sampai kapan kisah ini akan berlanjut. Gumamnya.


Medina turun dari tempat tidur, berjalan menuju ruang ganti. Akhir pekan ini, Medina hanya akan berdiam diri dirumah. Dia tidak mempunyai kegiatan apapun hari ini.


Medina turun ke lantai bawah, langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Tapi saat dia sampai di dapur, sudah ada tiga potong sandwich di atas meja makan. Tentu Medina tahu siapa yang membuatnya. Karena memang sandwich adalah menu sarapan favorit untuk Rega. Medina menghampiri Rega yang sedang menata makanan di atas meja.


"Selvia mana?"


Rega menoleh, dia tersenyum pada Medina dan mencium keningnya dengan lembut. "Masih tidur, ayo sarapan"


Medina menatap sandwich dua atas meja dan susu hangat yang disiapkan oleh Rega. "Sandwich lagi, gak bosen-bosen ya selalu bikin sandwich"


Rega tersenyum, dia meraih pinggang Medina. Merapatkan tubuh Medina dengannya, membuat Medina tidak bisa berbuat apa-apa. "Ga, nanti Selvia lihat. Lepas ihh"


Cup..


Bukannya melepaskan, Rega malah mengecup bibir Medina. "Kita hanya berdua Sayang, jika kau lupa"


"Iya Sayang, sekarang lepas dulu. Kalau sampai Selvia tiba-tiba datang bagaimana?"

__ADS_1


"Kak, Kak Rega.."


Deg..


Seketika Medina langsung mendorong keras tubuh Rega, sampai kakinya membentur dinding di belakangnya. Medina meringis, merasa kakinya sedikit nyeri.


"Kalian sedang apa?" Selvia muncul di ambang pintu dapur, menatap Medina dan Rega yang berdiri saling berhadapan.


Medina menoleh ke arahnya dengan wajah yang pias. Takut sekali jika Selvia akan mengetahui tentang hubungannya dengan Rega. "Hai Se, ayo sarapan. Aku baru saja datang, mau sarapan"


Selvia menatap ke arah meja makan, lalu menatap suaminya yang masih memakai apron. "Wahh, ini buatan kamu Sayang? Kirain Kam Medi yang masak"


Medina tersenyum, dia melirik Rega yang hanya diam dengan wajah datar. Medina segera menghampiri Selvia. "Enggak Se, tadinya aku mau buat sarapan. Tapi ternyata suami kamu sudah membuat sarapan untuk kita. Katanya sarapan ini spesial untuk kamu"


Rega mendelik tajam pada Medina, namun gadis itu pura-pura tidak tahu. Medina kesal juga pada Rega yang malah hanya diam saja di saat seperti ini. Seolah dirinya sengaja membuat Selvia salah faham dengan keberadaan mereka berdua di dapur.


"Ayo kita makan, aku sudah lapar"


"Iya Kak..." Selvia melirik Rega yang dari tadi hanya diam saja. "...Kak Rega, ayo sarapan bersama. Kenapa diam saja disana?"


Antara wanita yang dia cintai, dan wanita yang telah menjadi istrinya. Keduanya adalah wanita yang berbeda, membuat Rega berada dalam dua pilihan yang sulit.


"Emm. Enak banget Sayang, kamu emang hebat ya. Benar-benar suami idaman deh" Selvia begitu menikmati makanan yang dibuatkan oleh Rega.


"Yaudah, makan yang banyak kalau kau memang menyukai makanan itu"


Selvia menatap Rega, merasa heran karena suaminya yang terlihat dingin padanya. Padahal Selvia tidak merasa melakukan kesalahan apapun padanya.


"Sayang, kamu kenapa dingin begitu sama aku?"


Mendengar pertanyaan Selvia membuat Rega menghela nafas pelan. Dia mencoba menetralkan perasaannya yang mulai kacau. "Gak papa Se, aku cuma lagi banyak pekerjaan di kantor. Jadi agak pusing"


"Ohh gitu, yaudah kamu istirahat ya setelah ini. Kita gak jadi jalan-jalan juga tidak papa"

__ADS_1


Rega benar-benar baru ingat jika dia pernah berjanji untuk mengajak Selvia jalan-jalan di akhir pekan. Hal itu membuat Rega menghela nafas pelan, tangannya terangkat untuk mengelus kepala Selvia.


"Yaudah nanti kita pergi, jam 10 kamu siap-siap"


Wajah Selvia langsung berbinar mendengar itu. Menyandarkan kepalanya di bahu Rega. "Terima kasih Sayang. Aku mencintaimu"


Medina hanya terdiam, fokus dengan makanannya. Meski ada rasa tidak nyaman dari hatinya ketika mendengar Selvia memanggil sayang pada Rega. Namun apa yang bisa dia lakukan, ketika posisi dirinya tidak memiliki hak apapun atas Rega.


Selesai sarapan, Medina kembali ke kamarnya. Berdiam diri di tempat tidur sambil bermain ponsel. Sebenarnya dia memikirkan Rega dan Selvia yang mungkin saja sudah pergi jalan-jalan yang mereka rencanakan. Entah kenapa hati Medina merasa sangat tidak rela mengingat itu.


"Aku tetap harus sadar diri, karena apa yang di lakukan oleh Rega hanya untuk kepuasan hasratnya saja"


Hatinya tetap merasa terluka mengingat hal itu. Meski dia sering berkata ikhlas pada keadaan ini. Tapi, ternyata hatinya tetap merasa tidak rela ketika melihat Rega yang jelas lebih memprioritaskan Selvia daripada dirinya.


******


Selvia yang begitu antusias ketika jalan-jalan bersama suaminya. Melihat beberapa barang yang ingin dia beli. Seorang wanita jika masuk ke dalam mall, pasti untuk shopping. Meski dia melihat bagaimana suaminya tidak terlihat bahagia. Wajahnya terlihat datar.


"Sayang, aku ingin beli tas itu. Ini keluaran baru tahu"


"Hmm"


Selvia tersenyum, dia menarik lengan Rega masuk ke dalam toko tas yang cukup terkenal. Membeli tas keluaran baru yang jelas harganya melebihi limit. Rega tidak banyak bicara, dia memberikan credit card miliknya. Membayar apa yang di beli oleh Selvia.


Cukup lama berkeliling di mall dan makan siang disana. Mereka kembali setelah hari hampir sore. Masuk ke dalam rumah, Rega menggendong Selvia karena dia yang terlelap di dalam mobil.


Medina yang sedang tiduran di atas sofa depan televisi, langsung menoleh ke arah Rega. "Loh, Selvia kenapa?"


"Tidur"


Medina terdiam, dia menatap punggung Rega yang berlalu ke kamar. Merasa tidak lagi di perdulikan oleh Rega, membuat dia merasa tidak nyaman. Akhirnya Medina langsung pergi ke kamarnya. Rasanya tidak nyaman juga di cuekin seperti itu oleh Rega.


Masuk ke dalam kamar dan menyandarkan dirinya di pintu kamar yang tertutup. Memikirkan setiap sikap Rega yang tiba-tiba saja berubah padanya.

__ADS_1


"Kenapa Rega jadi seperti itu?"


Bersambung


__ADS_2