
Entah sampai kapan Rega hanya melakukan ini setiap kembali dari kantor. Mengelilingi kota hanya untuk mencari Medina. Sampai saat ini, dia masih berharap jika dia akan menemukan Medina dari setiap tempat yang dia lewati.
"Sayang, kemana kamu pergi? Kenapa harus benar-benar menghilang dari hidupku? Tahukah bagaimana hancurnya hidupku saat kau tidak ada"
Entah Rega harus menyalahkan siapa? Cinta? Takdir? Semuanya benar-benar membuat dirinya terluka. Tidak bisa bersama dengan wanita yang dia cintai karena keadaan yang ada. Kenyataan yang membawanya sampai di titik ini. Dimana dia baru bisa merasakan bahagia karena bersama wanita yang dicintainya. Tapi, entah kenapa sekarang dirinya harus lebih terluka karena lagi-lagi kenyataan dan keadaan harus memisahkan mereka.
Setelah hampir larut malam, Rega tetap tidak menemukan sosok yang dicarinya. Bahkan dia sudah bertanya pada beberapa orang dengan menunjukan foto Medina. Tapi, tidak satupun yang pernah melihat keberadaan Medina.
Akhirnya Rega memutuskan untuk kembali. Setiap dia membuka pintu rumah, maka yang terlintas di ingatannya hanya tentang kebersamaannya dengan Medina, selama gadis itu berada di rumah ini.
"Sayang, aku mencintaimu" lirihnya
"Kak, pulang larut lagi?"
Rega mengerjap, dia mendongakan wajahnya. Melihat Selvia yang berjalan ke arahnya dengan wajah ngantuknya. Mungkin dia sudah tertidur dan sekarang terbangun.
"Iya Se, kamu belum tidur?"
"Sudah, tapi kebangun karena haus. Aku mau ambil minum, Kakak sudah mandi?"
Rega mengangguk, sejak kepergian Medina, dia lebih sering mandi di kantor agar ketika dia pulang dia bisa langsung mencari Medina. "Aku sudah mandi, dan sekarang ingin langsung tidur. Sangat lelah"
"Tidurlah Kak, istirahatkan tubuh dan fikiran Kakak"
"Iya Se"
Rega berlalu ke kamar, sementara Selvia hanya tersenyum miris melihat punggung suaminya. "Jelas aku mendengar ucapan Kak Rega, sampai kapan pun dia akan tetap mencintai Kak Medina. Tapi, aku tetap tidak mau menyerah"
Rega keluar dari ruang ganti setelah dia bersih-bersih dan berganti pakaian. Melihat Selvia yang sudah berada di dalam kamar. Istrinya itu sedang membaca majalah dengan duduk bersandar di atas tempat tidur.
"Sayang, ayo tidur"
Selvia tersenyum begitu manis pada Rega. Namun entah kenapa dimata Rega, dia adalah Medina. Senyuman wanita yang dia cintai, membuat Rega ikut tersenyum.
"Iya Sayang"
__ADS_1
Deg..
Selvia terkejut mendengar panggilan Rega padanya. Untuk pertama kalinya, pria itu memanggilnya seperti itu. Dan Selvia merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kak?"
Rega mengerjap, dia baru sadar jika yang dia lihat bukanlah Medina. Tapi Selvia. Mungkin Rega memang sudah benar-benar gila, sampai bayangan Medina terus menghantuinya.
"Ehh. Se, ayo tidur" Rega merebahkan tubuhnya dengan membelakangi Selvia.
Selvia menghela nafas melihat sikap dingin suaminya. Beruntung Rega tidak seperti pria dingin lainnya yang bisa saja bersikap kasar pada wanita yang memaksakan cintanya. Dia masih menjadi pria yang baik, meski dia terpaksa menjalani pernikahan ini bersama Selvia.
"Selamat tidur Kak" bisik Selvia sebelum dia ikut berbaring dan terlelap.
******
Medina terbangun dengan rasa mual yang menyerang perutnya di pagi hari. Dia segera ke kamar mandi dan muntah di dalam kamar mandi. Hal biasa yang selalu dia alami setiap pagi. Morning sicknes yang biasa di alami beberapa Ibu hamil di dunia ini. Dan Medina juga mengalaminya.
Huh..
Medina menghembuskan nafas pelan, dia merasa sangat tersiksa ketika setiap pagi mengalami hal seperti ini. Mencuci wajahnya, lalu Medina keluar dari kamar mandi.
"Iya Bu"
"Sabar ya, mungkin hanya sampai trimester pertama saja. Ibu juga dulu mengalami itu"
Medina mengangguk, dia melangkah menghampiri Ibu Nia yang sedang memisahkan beberapa bahan masakan di atas meja makan.
"Sekarang menu nya apa?"
"Ada yang minta nasi box dengan isi ayam serundeng dan beberapa tambahan masakan lainnya. Katanya untuk acara 40 hari meninggal Ibunya"
Medina mengangguk, dia mulai membantu Ibu Nia untuk memotong beberapa sayuran. "Berapa pesanan Bu? Di antar jam berapa?"
"200 box, minta di antar sebelum jam tiga sore. Mungkin kamu bisa antar jam dua siang nanti"
__ADS_1
Medina mengangguk, dia mulai kesibukannya membantu Ibu Nia menyiapkan pesanan cattering hari ini. "Apa untuk hari ini hanya pesanan ini saja Bu?"
"Iya Me, kalau besok baru pesanan agak banyak. Dari beberapa tempat juga"
Medina mengangguk, dia senang mengerjakan hal ini. Mengisi waktu luangnya dengan membantu Ibu Nia. Sampai pukul 2 siang, semua pesanan telah selesai di buat. Medina berpamitan pada Ibu Nia untuk mengantar pesanan itu.
Empat kantung plastik berukuran besar berada di dua tangan Medina. Sebelah kanan dia kantung plastik, dan di sebelah kiri juga dua kantung plastik. Medina naik angkutan umum menuju alamat yang sudah dia catat di nota yang dia tempelkan di kantung plastik itu.
Selesai mengantar pesanan cattering, Medina mampir sebentar di taman kota yang sering dia lewati tapi tidak pernah dia kunjungi. Jaraknya dari rumah Ibu Nia mungkin hanya 500 meter saja. Medina duduk di sebuah bangku yang menghadap ke sebuah danau buatan diasana. Dibawa pohon rindang yang daun keningnya mulai berjatuhan ketika tertiup angin.
Medina menghirup udara segar dengan tangan mengelus perutnya. "Nanti kalau kamu sudah lahir, Ibu akan membawa kami datang kesini. Ibu akan mengajak kamu bermain disini"
Beberapa saat berada disana, Medina kembali ke rumah dengan berjalan kaki santai. Menikmati keindahan kota, di sore hari. Banyak kendaraan yang berlalu lalang. Ada beberapa pedagang kaki lima yang mulai usahanya. Medina tersenyum, dia bisa menikmati suasana seperti ini saja sudah sangat bersyukur. Setelah apa yang dia lewati selama ini.
Semuanya indah ya Nak, kamu akan suka jika nanti sudah lahir ke dunia ini.
Medina sampai di rumahnya setelah dia membeli beberapa jajanan pinggir jalan yang membuatnya menelan ludahnya.
"Beli apa Me? Kenapa lama sekali mengantar pesanannya, apa kamu tidak nyasar?"
Medina menggeleng, tersenyum pada Ibu Nia. "Tidak Bu, tadi aku mampir ke taman dulu. Terus beli jajanan ini deh, Ibu mau?"
Ibu Nia menatap makanan yang Medina beli itu. Semua adalah makanan pedas. "Tidak Me, Ibu sudah tidak kuat memakan makanan pedas seperti itu"
Medina tersenyum, dia mulai menyicipi setiap makanan yang dia beli. Memakannya dengan penuh rasa nikmat.
"Sejak mengandung, Medina selalu mengingkan makanan yang aneh-aneh Bu. Seperti ini..." Menunjukan salah satu makanan yang dia beli. "...Sebelumnya aku tidak pernah membeli atau memakan makanan seperti ini. Tapi tiba-tiba saja tadi menginginkannya"
"Itu namanya ngidam Nak, setiap Ibu hamil pasti mengalaminya"
Medina mengangguk, dia pernah mendengar kata itu. "Mungkin ya Bu, tapi bersyukur anak Medina tidak meminta yang aneh-aneh"
"Itu karena anak kamu baik dan mengerti keadaan kamu"
Medina mengangguk, memang anaknya begitu mengerti keadaan Ibunya. Dia tidak pernah menyulitkan Ibunya dalam hal apapun. Medina mengelus perutnya.
__ADS_1
Terima kasih sudah menjadi anak baik, Nak.
Bersambung