
Dengan diantar oleh supir, Medina dan Ibu Nia baru saja sampai di depan gedung apartemen yang ditinggali oleh Giant. Medina menggandeng tangan Ibu dan masuk ke Lobby apartemen, berjalan menuju lift.
Ting..
Pintu lift terbuka dan seorang gadis keluar dari dalam kotak besi itu dengan terburu-buru hingga dia menubruk bahu medina dengan tidak sengaja.
"Maaf Kak, aku tidak sengaja"
Saat gadis itu siap pergi, Medina langsung menahan lengannya."Sinta?"
Deg..
Sinta langsung menleh pada Medina dan menatapnya dengan terkejut. "Kak Medina"
"Kamu tinggal disini?"
Sinta mengangguk. "Yaudah Kak, au harus segera pergi"
Medina tidak bisa lagi menahan Sinta yang pergi dari hadapannya. Medina merasa bingung dengan sikap Sinta yang seolah sedang ada masalah yang harus dia lakukan dengan segera.
"Siapa Nak?"
Medina menoleh pada IBu Nia, laludia kembai menoleh pada Sinta yang menghilang di pintu keluar. "Hanya teman Bu, tapi sepertinya dia sedang sangat buru-buru"
IBu Nia mengangguk mengerti, dia segera mengajak Medina untuk masuk ke dalam lift. Menuju lantai dimana Apartemen Giant berada.
Merke menekan bell di pintu dekat pintu apartemen Giant. Dan pintu langsung terbuka dan muncul GIant diambang pintu.
"Aku sudah memesan makanan, jadi kalian tinggal tunggu saja. Makanannya sebentar lagi pasti akan datang"
Medina duduk diatas sofa bed yang ada di ruang tengah apartemen ini. Menatap ke sekililingnya. "Tempat kamu nyaman Gi, kamu setiap hari hanya tinggal sendiri disini"
"Iyalah Kak, memangnya sama siapa lagi? Emangnya Kakak dan Ibu mengizinkan jika aku membawa sorang teman tinggal disini?"
"Tidak Gi, kamu jangan sampai melakukan kesalahan seperti aku. Jangan sampai kamu membuat kesalahan yang sama"
__ADS_1
"Tapi Kak.." Giant berpindah duduk menjadi di dekat Kakaknya itu. "...Tetangga aku disini ada seorang gadis yang cantik sekali. Aku memang baru bertemu beberapa hari yang lalu si, dan belum pernah bertemu lagi karena dia juga bekerja"
Medina tersenyum mendengar ucapan adiknya yang sedang menceritakan tentang pertemuan pertamanya dengan seorang gadis. "Jadi kamu sedang jatuh cinta pada pandangan pertama nih ceritanya?"
Giant tersenyum dengan sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe. Mungkin iya Kak,aku telh jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis itu"
Ibu Nia yang melihat keakraban kedua anaknya yang bahkan Giant yang tertutup tentang semua masalah pribadinya saja, bisa langsung bercerita pada Medina. Mungkin karena mereka berdua yang begitu merasa nyaman dan persudaraan yang baru saja mereka ketahui membuat keduanya lebih bebas lagi untuk bercerita pada satu sama lain.
"Kakak akan mendukung siapa pun yang akan menjadi pendampingmu nantinya. Asalkan kamu mencintainya dan dia juga mencintimu"
"Ibu juga akan selalu mendukung semua keputusan yang akan kamu ambil Nak"
Cukup lama mereka berada di apartemen Giant, hingga kini keduanya sudah kembali lagi ke rumah. Medina masuk ke dalam kamar dan segera mandi. Sebentar lagi suaminya pasti akan segera kemblai dari kantor, karena memang semenjak Medina kembali lagi ke rumah ini dengan keadaannya yang sedang hamil membuat Rega harus mengatur waktu bekerjanya agar bisa pulang lebih cepat dari waktu biasanya.
Benar saja, ketika Medina baru saja selesai mandi, Rega sudah kembali dari bekerjanya. "Medina langsung menghampiri suaminya dan memeluknya dengan erat, mencium aroma tubuh Rega seperti biasa.
"Pulang jam berapa dari Apartemennya Giant?"
"Baru saja pulang, lagian aku beragkat kesananya juga siang"
Medina mendongak dan menatap Rega dengan wajah cemberut. Merasa tisak rela saat harus melepaskan pelukannya pada suaminya ini.
"Sayang, aku masih suka mencium aroma tubuhmu"
Rega menggeleng heran dengan sikap istrinya ini semejak hamil. "Kenapa kamu selalu suka mencium aroma tubuhku, padahal aku habis bekerja seharian dan belum mandi juga"
"Tidak papa, aku suka menciumnya"
Dan barulah setelah Medina merasa puas dengan kegiatannya ini pada Rega, dia baru mengizinkan suaminya untuk segera mandi..
******
Giant keluar dari Apartemennya untuk membuang sampah yang sudah menumpuk. Giant menoleh ke arah apartemen di samping apartemen miliknya yang terbuka.
"Hai Giant" Sinta menyapa lebih dulu dirinya, membuat Giant merasa lebih senang dari dengan itu.
__ADS_1
"Hai Sinta, lama tidak bertemu denganmu lagi"
Sinta berjalan mendekat pada Giant. "Iya Gi, aku sedang banyak pekerjaan akhir-akhir ini"
Namun ada nada yang berbeda saat Sinta mengatakan pekerjaan. Seolah ada beban berat dalam hidupnya. Namun entah Giant menyadarinya atau tidak.
"Kamu mau buang sampah juga?" Tanya Giant, menatap tangan Sinta yang menenteng kantung palstik besar berwarna hitam yang sama dengannya.
"Ya, ayo kita ke bawah barengan"
Giant mengangguk, dia merasa senang saat bisa mempunyai waktu bersama wanita yang membuatnya kepikiran sejak pertemuan pertama mereka.
Selesai membuang sampah, Giant mengajak Sinta untuk duduk sebentar. Di luar apartemen ini ada sebuah tempat duduk yang nyaman di bawah sebuah pohon dekat pos satpam. Keduanya terdiam menikmati malam ini yang cukup cerah. Bintang berserak di atas gelapnya langit malam.
"Jadi, apa hari ini kamu tidak bekerja lagi?"
Sinta menoleh pada Giant, lalu dia menghela nafas pelan. Namun sedetik kemudian dia langsung tersenyum pada Giant. "Tidak, aku sedang ingin istirahat"
Giant mengangguk mengerti mendengarnya. "Tapi apa memangnya kerja kamu itu setiap malam?"
Sinta terdiam beberapa saat, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Giant itu. "Ya, aku memang kebagin shif malam"
Giant mengangguk saja, dari semua pertanyaan yang dia berikan pada Sinta sudah membuat keduanya begitu dekat sekarang. Bersyukur karena Giant bisa lebih dekat lagi dengan gadis yang berhasil memberikan rasa senang di hatinya.
"Sudah malam, ayo kita kembali masuk" ajak Sinta, dia berdiri dari duduknya dan menatap Giant yang masih duduk ditempatnya.
"Baiklah"
Giant ikut berdiri dan mereka pun masuk ke dalam apartemen masing-masing. Tertidur di atas tempat tidur, namun tidak dengan mata yang terpejam. Artinya keduanya tidak benar-benar tidur. Saling mekikirkan tentang pertemuan dan obrolan keduanya barusan.
"Dia cantik dan baik. Ya Tuhan, kenapa jantungku berdebar" Giant menatap langit-langit kamarnya dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.
"Jaga hatimu Sinta, ingat siapa kamu dan siapa dia? Sampai kapan pun tidak akan ada pria yang benar-benar menerima kamu dan segala kekuranganmu"
Sinta hanya bisa pasrah dengan takdir Tuhan dan juga pilihan hidupnya ini. Sinta tidak bisa memberikan harapan terlalu lebih pada hatinya, karena dia sadar diri tentang hidup yang sedang dia jalani selama ini. Bukanlah hal yang baik.
__ADS_1
Bersambung