
Benar saja, Kendra telah memenuhi ucapannya. Sejak kejadian di pesta pernikahan Rega dan Medina, Selvia tiak lagi mengganggu Medina ataupun Rega. Mungkin dia cukup takut dengan ancaman Rega atau mungkin bisa saja dia yang memang sudah berubah dan tidak ingin lagi mengganggu kehidupan Rega.
"Besok kita pergi ke rumah Aiden ya, anaknya ulang tahun dan aku belum memberikan kado apapun untuk dia"
Medina mengangguk, meski dia benar-benar belum terlalu terbiasa dengan kehidupan Rega yang sekarang. Bagaimana teman-teman yang Rega miliki bukan dari kalangan orang biasa. Ulai dari pemilik Restaurant berbintang, pengusha scincare terkenal, pengusaha property dan Aiden yang menjadi bosnya sekarang. Medina benar-benar belum terbiasa bergaul dengan dunia suaminya yang sekarang.
"Tapi Sayang, kenapa istri-istri dari teman kamu itu baik-baik semua ya. Kemarin saat aku tiba-tiba merasa pusing Nona Ayra langsung membantu aku memberikan aku minum. Nona Tami juga"
Rega mengelus kepala istrinya yang berada dalam pelukannya. Membri kecupan di puncak kepala istrinya. "Sayang, mereka akan langsung marah jika tahu kamu memanggilnya dengan iming-iming kata Nona"
Medina langsung mendongak dan menatap suaminya dengan bingung. "Loh emangnya kenapa? Apa aku harus memanggil mereka dengan sebutan Nyonya? Oh iya, mereka 'kan sudah menikah dan mempunyai anak, jadi harus memanggil dengan sebutan Nyonya kalau begitu"
Rega tersenyum gemas melihat wajah kebingungan istrinya itu. Dia mengecup hidung mungil Medina dengan gemas. "Bukan seperti itu Sayang, mereka memang tidak suka jika ada orang yang memanggil Nona. Ya, kecuali pelayan dan rekan kerja suaminya barulah mereka bisa menerimanya. Kamu tidak tahu siapa mereka pada awalnya sebelum saat ini menjadi istri dari Aiden dan Akvaro"
Medina bangun dari tiduruannya d dalam pelukan suaminya. Lalu dia menatap Rega dengan bingung. "Maksud kamu? Memangnya mereka siapa sebelum menjadi istri dari Tuan Aiden dan Tuan Alvaro?"
Rega terkekeh saat melihat istrinya yang begitu penasaran. Rega menarik lengan Medina agar istrinya itu kembali masuk ke dalam pelukannya. Rega begitu nyaman dengan memeluk istrinya seperti ini. Semua rasa lelahnya langsung hilang saat melihat wajah istrinya dan senyumannya.
"Kau jangan terlalu ingin tahu tentang orang lain, nantinya kau akan terjerumus dan menyesal sendiri. Jadi biarkan saja orang lain mempunyai kisah dan ceritanya sendiri dalam hidupnya"
Medina menyembunyikan wajahnya di dada Rega, dia malu jga karena terliha begitu penasaran dengan cerita Ayra dan Tami sebelum mereka menjadi istri dari pria-pria sukses itu.
"Maaf Sayang, aku benar-benar tidak tahu malu ya sampai ingin tahu tentang cerita mereka"'
"Tidak pap, rasa penasaran itu wajar, asalkan jangan berlebihan"
Medina begitu kagum dengan suaminya yang begitu bijak dalam menghadapi segala hal. Terima kasi karena sudah menghadirkannya dalam hidupku, Tuhan.
__ADS_1
"Sudah malam ayo tidur"
Rega merebahkan kepala istrinya di atas bantal, mengelusnya dengan lembut lalu memberikan sebuah kecupan di kening istinya.Rega ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk Medina dengan lembut. Keduanya terlelap dalam pelukan hangat.
******
Pagi ini sepasang suami istri ini telah berada di dalam mobil untuk pergi ke rumah Aiden seperti yang direcanakan kemarin.
"Loh Sayang, kok malah kesini?" tanya Medina bingung saat Rega malah membawanya ke sebuah mall besar di kota ini.
"Aku belum beli hadiah untuk anaknya Aiden, jadi kita cari dulu hadiah untuk Alerio"
Medina mengangguk mengerti, lalu dia turun dari mobil. Rega menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam mall. Terakhir Medina mengunjungi tempat seperti ini entah kapan. Karena dia juga tidak bisa terlalu sering datang ke tempat seperti ini dengan keadaan ekonominya yang tidak stabil.
"Sayang kalau aku mau beli itu boleh gak?"
"Ya ampun Sayang, kamu ini kenapa harus meminta izin seperti itu padaku. Jika ka memang ingin membeli sesuatu beli saja. Jangan menunggu izin dariku. Lagian aku sudah memberi card padamu. Kenapa kamu tidak menggunakannya?"
Medina tersenyum pada Rega, dia memang sudah mendapatkan nafkah lahir dari suaminya satu hari sebelum mereka menikah. Rega memang telah memberinya credit card dan kartu atm juga. "Aku belum memerlukannya, jadi aku belum memakai card yang dari kamu itu"
Jawaban Medina benar-benar membuat Rega menggelengkan kepala heran. Istrinya ini, baju saja kalau tidak Rega yang menyuruh anak buahnya untuk membelikan baju untuk Medina,sudah pasti di dalam lemari istrinya itu hanya ada beberapa pakaian lama yang dia miliki saja.
"Yaudah ayo sekarang kita kesana, tapi memangnya kamu sudah tahu anak kita ini perempuan atau laki-laki?"
Medina mengelus perutnya dengan lembut,tendangan dari dalam sana langsung terdengar. "Aku belum cek si, karena saat di kota itu aku hanya periksa ke bidan. Jadi tidak ada alat USG disana, kalau mau cek jenis kelamin harus ke dokter kandungan langsung. Jadi aku belum pernah mengeceknya juga. Tapi aku rasa bayiku ini perempuan deh"
Rega mengelus rambut istrinya, dia tahu kesalahan dirinya sendiri yang membuat Medina hidup menderita seperti ini. Semuanya memang kesalahannya yang langsung percaya begitu saja pada Selvia dan bahkan malah menyuruh Medina untuk pergi dari rumah dan mengakhiri hubungan mereka. Mengingiat hal itu membuat Rega semakin benci pada Selvia,karena kelicikan wanita itu dia hampir kehilangan Medina dan anaknya.
__ADS_1
"Nanti pulang dari rumah Aiden, kita langsung periksa ke dokter ya. Kebetulan ada temanku yang baru saja dipindah tugaskan kesini. Dia adalah Dokter kandungan yang terbaik"
Medina mengangguk, dia masuk ke dalam toko dan mulai memilih beberapa perlengkapan bayi dan juga baju-baju mungil yang menggemaskan.
"Sayang apa kamu yakin jika anak kita akan perempuan? Kenapa membeli warna pink?"
Medina menoleh pada suaminya, dia tersenyum sambil mengelus perutnya. "Sepertinya iya deh, memangnya kenapa? Apa kamu tidak ingin mempunyai anak perempuan?"
Rega langsung merangkul bahu Medina dan mengecup pipi istrinya di depan banyak orang yang juga sedang berada di toko itu. "Aku menerima apapun jenis kelamin anakku nanti, asalkan anakku itu lahir dari kamu"
Medina bukannya senang mendengar ucapan Rega, dia malah menundukan kepalanya karena malu saat melihat tatapan banyak orang yang tertuju padanya.
"Sayang malu ihh, kamu ngapain cium pipi aku segala"
Rega terkekeh mendengar suara lirih istrinya itu. Dia tersenyum lucu dengan wajah merah malu Medina. "Kenapa memangny? Kamu adalah istriku"
Medina tidak menjawab, dia hanya fokus memilih-milih perlengkapan untuk anaknya nanti.
Akhirnya setelah selesai berbelanja pakaian untuk calon bayi mereka, Rega langsung membawa istrinya menuju rumah Aiden.
"Sayang, kamu sudah membeli hadiah untuk anaknya Tuan Aiden?"
"Sudah, itu dibelakang"
Medina langsung melihat ke kursi belakang dan melihat hadiah yang dimaksud oleh suaminya. Dan Medina benar-benar terkejut saat melihat hadiah yang dibeli Rega untuk Alerio, anak yang baru berusia 2 tahun.
Memang beda ya kalau sesama orang kaya kasih hadiah ulang tahun saja harus semewah ini.
__ADS_1
Bersambung