
Usaha Rega benar-benar hanya sia-sia. Dia sudah bersusah payah menyelidiki semuanya. Tentang kecelakaan yang membuat Ayahnya meninggal dunia. Hingga dia menemukan beberapa kenyataan yang baru dia ketahui. Rega benar-benar berusaha keras untuk mencari bukti yang akurat tentang semua itu.
Dan setelah dia menemukan bukti dan kenyataan yang dia ketahui. Namun, Selvia mengatakan jika dirinya hamil. Meski Rega tidak mencintai gadis itu, tapi dia bukanlah pria kejam yang tidak akan mau mengakui anaknya sendiri. Sehingga Rega mengurungkan niatnya untuk menceraikan Selvia dan dengan berat hati, dia harus mengakhiri semuanya dengan Medina. Semuanya hanya karena Rega tidak mau sampai anaknya nanti menganggap Ayahnya yang jahat dengan Ibunya.
Tapi, hari ini Rega benar-benar menyesali semuanya. Dia baru mengetahui tentang kelicicikan Selvia selama ini. Wajah polos gadis itu, membuat Rega selalu percaya padanya.
"Tuhan, kenapa harus seperti ini? Medina, kamu dimana Sayang?"
Rega sudah kehilangan Medina untuk kedua kalinya. Jika dulu karena kesalah fahaman yang terjadi diantara mereka. Dan sekarang perpisahannya dengan Medina terjadi, karena kebodohannya sendiri.
"Seharusnya aku tidak langsung mengakhiri semuanya dengan Medina. Aku memang bodoh!"
Rega hanya meracau di dalam kamar yang dulu ditempati oleh Medina. Tidur meringkuk di atas tempat tidur dengan memeluk bantal milik Medina. Menghirup aroma tubuh gadis itu yang masih sedikit tersisa disana. Air mata menetes begitu saja di sudut matanya.
"Maafkan aku Medina, maafkan aku Sayang. Aku akan mencarimu dan menemukanmu"
Tekad Rega sudah benar-benar kuat, dia akan mencari Medina meski dia harus ke ujung dunia sekalipun. Rega hanya ingin kembali pada Medina dan membuatnya bahagia. Selama ini, gadis itu hanya hidup dalam luka yang dia ciptakan.
Rega terlelap di atas tempat tidur Medina.
******
Rega membuka matanya, entah dimana dia berada saat ini. Suasana yang sejuk yang sepi. Tempat yang benar-benar Rega tidak kenali. Di ujung sana, Rega melihat punggung seorang wanita. Rega melangkah perlahan dan mendekati wanita itu.
"Medina.."
Wanita itu menoleh dan benar jika dia adalah Medina. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna putih. Tapi tunggu, dia menggendong seorang bayi.
"Medina, bayi siapa itu?"
Medina tersenyum, tapi dia tidak menjawab apapun. Medina berbalik dan melangkah menjauh dari hadapan Rega membuat pria itu langsung berteriak memanggil namanya.
"Medina.. Kau mau pergi kemana? Sayang, kembalilah"
Deg..
__ADS_1
Rega terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Rega mengusap wajahnya. "Ya Tuhan, mimpi apa itu? Kenapa Medina pergi meninggalkan ku? Apa dia benar-benar tidak akan pernah mau kembali lagi padaku?"
Rega melirik jam dinding, hari sudah pagi. Dia turun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju ruang ganti. Berendam di dalam bak mandi untuk merilekskan tubuhnya dan pikirannya. Rega menyandarkan kepalanya di bak mandi dengan mata terpejam. Dan bayangan Medina langsung terlintas dalam ingatannya.
"Kembalilah Me, aku merindukanmu"
Rega selesai mandi, dia bersiap untuk pergi ke perusahaan. Dia akan mulai mengurus proses percaraiannya dengan Selvia. Rega ingin segera terlepas dari gadis itu.
Dan sekarang Rega sedang duduk berhadapan di atas sofa bersama Aiden. Dia menceritakan semuanya pada Aiden.
"Bodoh! Kenapa kau melakukannya sendiri? Kenapa tidak meminta bantuanku? Aku ini siapa bagimu? Kau saudaraku Ga, jadi kalau ada apa-apa bicara padaku. Jangan mengerjakannya seorang diri"
Rega mengangguk, dia merasa sangat beruntung saat mempunyai sahabat baik seperti Aiden dan Alvaro. Keduanya selalu ada di saat dirinya dalam keadaan sulit.
"Sekarang aku membutuhkan bantuanmu"
"Katakan!"
"Aku butuh pengacara keluargamu untuk mengurus perecaraian aku dan Selvia. Apa bisa"
"Tentu saja, kau tidak perlu mengeluarkan biaya apapun. Aku akan menyuruh pengacaraku untuk segera menyelesaikan perecaraianmu dengan Selvia. Aku juga benar-benar tidak menyangka jika Selvia akan selicik ini. Dia adalah gadis polos"
******
Medina berjalan menuju jalan, dia baru saja selesai mengantar pesanan cattering hari ini. Hari sudah hampir petang, hari ini cukup banyak pesanan hingga Medina pulang hampir gelap. Naik ke dalam angkutan umum, Medina menghela nafas lega karena dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini.
Sampai di depan gang menuju rumah Ibu Nia, Medina segera turun dari angkutan umum setelah membayarnya. Medina berjalan melewati gang sempit menuju rumah Ibu Nia. Sampai di rumah Ibu Nia, dia melihat ada seorang tamu yang datang. Medina membuka sepatuny, lalu masuk ke dalam rumah.
"Me, sudah selesai. Aduh pulangnya kesorean ya"
"Iya Bu, tidak papa"
Pria yang duduk di atas sofa menoleh pada Medina. Pria muda yang umurnya jelas di bawah Medina. Namun, dia terlihat dewasa dengan penampilannya itu.
"Me, kenalin ini anak Ibu. Dia berkunjung hari ini karena ada jatah libur selama tiga hari"
__ADS_1
Medina tersenyum dan mengulurkan tangannya pada pria itu. "Medina"
Pria itu berdiri dan langsung menjabat tangan Medina. Tatapannya tidak lepas dari wajah Medina. "Giant"
Medina mengangguk, dia melepaskan tautan tangan mereka. "Senang bertemu denganmu, Giant. Maaf karena aku menumpang dan merepotkan Ibu"
"Tidak papa, aku senang karena Ibu ada yang menemani sekarang"
Medina tersenyum, entahlah pertemuan pertamanya dengan Giant, Medina merasakan hal berbeda. "Yasudah, aku permisi ke kamar mandi dulu"
Medina berlalu ke kamarnya, mengambil baju handuk miliknya lalu kembali keluar dan berlalu ke kamar mandi yang berada di dapur.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Ibu Nia langsung mengajak Medina untuk makan malam bersama. Dan makan malam kali ini terasa lebih ramai karena kehadiran Giant.
"Oh ya, Giant kerja dimana?"
"Di Ibu kota, beruntung karena aku di terima sebuah perusahaan cukup besar disana"
Medina tersenyum, entahlah dia merasa nyaman bersama Giant. Seolah mereka telah kenal lebih lama dari ini. "Bagus dong, hebat bisa bekerja di perusahaan yang ada di Ibu kota"
"Iya Kak. Oh ya Bu, beberapa bulan lagi aku akan ada proyek di kota ini bersama bos ku. Jadi aku akan bisa tinggal lebih lama disini"
"Baguslah, Ibu senang mendengarnya"
Dan dalam waktu tiga hari Giant benar-benar menjadi sosok yang menyenangkan bagi Medina. Dia merasa mempunyai seorang saudara yang bisa di ajak bercerita dan bercanda.
"Ayo biar aku antar Kakak mengantarkan pesanan. Besok aku haru sudah kembali ke Ibu Kota"
"Yaudah ayok, makasih ya sudah menemani aku"
"Iya Kak, lagian Ibu hamil itu harus ada pendampingnya. Kalau Kakak mau, aku bisa menjadi pendamping hidup Kakak"
Hahaha..
Mendegar ucapan Giant, malah membuat Medina tertawa. Dia menganggap itu sebagai candaan saja. "Sudahlah, berhenti bercanda Giant. Aku ini lebih tua darimu"
__ADS_1
"Tidak masalah bagiku"
Bersambung