Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 17 #Sampai Kapan Drama Ini Akan Berakhir?#


__ADS_3

Medina mengerjap ketika merasakan hembusan nafas yang mengenai kulit belakang lehernya. Dia menghela nafas pelan, sudah tahu apa yang terjadi. Lagi-lagi Rega menyelinap masuk ke kamarnya di tengah malam. Mungkin memang itu alasannya selalu melarang Medina mengunci pintu kamar.


Tuhan, sampai kapan drama ini akan berlangsung?


Bohong, jika Medina tidak merasa lelah dengan hidupnya. Dia sudah sangat lelah, terlalu lelah sampai dia tidak lagi bisa menunjukan semuanya dengan kata-kata. Jalan hidupnya terlalu banyak kerikil yang harus dia lewati dengan kaki tanpa alas. Benar-benar menyakitkan.


Medina membalikan tubuhnya, semakin merapatkan tibuhnya dalam pelukan Rega. Kenyamanan yang selalu dirasakan Medina ketika dia bersama Rega. Medina menatap wajah tenang itu. Rega yang sedang terlelap membuat Medina merasa tenang melihatnya.


"Entah apa yang sebenarnya kamu rasakan. Tapi, aku hanya bahagia bersamamu. Tidak peduli kamu hanya menjadikan aku pemuas naf*su saja" lirihnya, hampir tak terdengar.


Seandainya Medina harus menjadi pemuas naf*su untuk Rega selamanya, dia rela. Setidaknya Rega juga yang telah membebaskan Medina dari jerat Mommy Sonya dan tempat hiburan malam itu. Dengan itu saja Medina sudah sangat bersyukur.


Rega mengerjap saat merasakan sesuatu yang mengelus wajahnya. Membuka kedua matanya dan tersenyum ketika melihat wajah polos Medina yang menatapnya. Rega memegang tangan Medina yang berada di pipinya. Mengecup telapak tangan Medina dengan lembut.


"Ada apa? Kenapa terbangun?"


Medina menggeleng pelan, dia tersenyum pada Rega. "Tidak papa, tiba-tiba saja terbangun"


Rega tersenyum, dia menarik tubuh Medina untuk semakin rapat dengan tubuhnya. Memeluknya dengan erat. "Sayang, tahukah jika aku selalu merasa nyaman ketika tidur bersamamu"


Medina mendongak, lalu kembali menyandarkan kepalanya di tangan Rega dan memeluk tubuh pria itu. Aku juga merasakan yang sama. Tapi, sampai saat ini aku tidak mengerti apa perasaanmu padaku sekarang.


"Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan padamu..." Medina mengingat satu hal yang sudah sangat ingin dia tanyakan pada Rega. "...Sebenarnya Selvia sakit apa?"


Rega langsung menundukan wajahnya, menatap Medina yang juga menatap ke arahnya. "Darimana kau tahu? Apa Selvia bercerita padamu?"


Medina mengangguk pelan. "Ya, dia bercerita padaku, tapi tidak mengatakan apa sakit yang dialaminya"


Rega menghembuskan nafas kasar, dia kembali memeluk Medina. Menyandarkan dagunya di puncak kepala Medina. "Dia memang sakit, kelainan jantung sejak lahir"


Deg..


Medina langsung mendongak, menatap Rega dengan tatapan yang sulit di artikan. "Kasihan sekali dia, apa ini alasan kamu menikahinya?"


Pertanyaan Medina seperti angin lalu yang tidak mendapat jawaban apapun. Rega hanya memeluk Medina dan kembali memejamkan matanya. Dia tidak berniat menjawab pertanyaan Medina itu.

__ADS_1


Apasi kamu ini Medi, mana mungkin Rega menikahi Selvia karena hal itu. Jelas dia mencintai Selvia. Jangan terlalu berharap terlalu jauh Me, Rega sudah membencimu dan tidak perasaan cintanya sudah sirna sejak dulu. Saat ini dia hanya menjadikanmu pemuas naf*sunya saja.


******


Bangun lebih pagi, membuat Medina bisa berangkat bersama Rega karena Selvia yang belum bangun. Sikapnya ini memang seperti seorang selingkuhan yang takut ketahuan oleh istri sah.


"Besok aku akan mengantarkan Selvia bertemu orang tuanya"


Medina menoleh pada Rega yang sedang mengemudi itu. Kenapa harus bilang padaku, memangnya apa urusannya denganku? Gumamnya.


"Ohh"


"Kamu di rumah sendirian tidak papa?"


Medina mengangguk, jelas dia tidak papa. Kesendirian adalah hidupnya selama ini. Medina hanya seorang diri dan selalu merasa sendiri. Hingga suasana sepi adalah teman hidupnya selama ini.


"Tidak papa, kamu pergi saja"


Mobil terparkir di halaman kampus, Rega menoleh pada Medina. "Aku tidak akan lama di rumah orang tua Selvia, nanti akan segera pulang dan menemuimu"


Rega mengerjap saat mendengar suara pintu mobil yang tertutup. Rasanya dia begitu merindukan apa yang di lakukan Medina ini. Membuat dia mematung, sampai tidak mampu berkata-kata lagi.


"Latihan jadi seorang istri nanti. Haha..." Medina mencium punggung tangan dengan lembut. "...Kamu cium kening aku dong, biar kita udah kayak suami istri"


Rega tertawa kecil melihat kelakuan gadis SMA di depannya. Ingin rasanya dia segera menikahi gadis itu dan menjadikannya istri. Namun, sayang masa depan mereka masih panjang dan harus selesai mengejar mimpi masing-masing dulu.


Cup...Cup..Cup..


Bukan hanya memberikan kecupan di keningnya, tapi Rega juga mencium kedua pipi Medina dengan gemas. "Bonus tambahan untuk calon istri"


Dan mereka tertawa bersama, seolah tidak ada beban dalam diri masing-masing. Hingga hari itu terjadi dan membuat keduanya benar-benar berpisah.


******


Rega masuk ke dalam ruangan Aiden dengan berkas di tangannya. Mengetuk pintu sebelum dia masuk. Meski Aiden adalah sahabatnya, tapi jika di perusahaan dia tetap atasannya. Membuat Rega harus profesional bersikap bagaimana seharusnya seorang asisten pada atasannya.

__ADS_1


"Ini berkas untuk proyek kita yang baru" Rega menyimpan berkas yang di bawanya diatas meja kerja Aiden.


Aiden membaca berkas itu dengan serius. "Bagaimana?"


Namun pertanyaan itu malah membuat Rega bingung. Apanya yang bagaimana? Apa berkasnya ada kesalahan? Tapi Rega tidak merasa melakukan kesalahan apapun.


Aiden mendongak saat dia tidak mendapatkan jawaban dari Rega. "Bagaimana tentang istrimu dan mantan pacarmu itu?"


Rega mengerti sekarang, apa yang di maksud Aiden barusan. Dia menarik kursi di depan meja kerja Aiden dan duduk disana. "Masih berjalan sesuai keinginanku, tapi entah apa yang akan terjadi kedepannya aku juga tidak tahu"


Aiden menandatangani berkas yang dibawa oleh Rega, lalu menyimpannya di atas meja. Menatap Rega dengan lekat. "Sepertinya, kamu memang tidak punya pilihan lagi Ga. Mertua kamu tidak akan pernah merelakan anaknya terluka. Kau tahu sendiri, bagaimana Selvia yang selalu ingin semua keinginannya terwujud"


Rega mengangguk, dia memang sudah tidak bisa melakukan apapun lagi saat ini. Karena dirinya sudah benar-benar terikat diantara dua wanita.


"Aku hanya akan mengikuti alurnya"


Rega berdiri dan mengambil berkas yang sudah Aiden tanda tangani. Dia keluar dari ruangan Aiden dengan wajah dingin. Ekspresi yang selalu Rega tunjukan pada orang luar. Dia adalah sosok dingin dan tegas pada setiap pekerja yang tidak mematuhi aturan dan menyalah gunakan jabatan di perusahaan ini.


Masuk ke dalam ruangannya, Rega menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Menghela nafas panjang, rasanya terlalu berat untuknya melewati semua ini.


Rega meraih ponsel di atas meja depan sofa, menekan nomor ponsel Medina untuk meneleponnya. Disaat perasaannya gundah seperti ini, maka hanya Medina yang bisa membuat Rega lebih tenang.


"Hallo"


"Sayang, sudah pulang?"


"Belum nih, ada kelas tambahan sebentar lagi. Ini aku lagi di kantin, lagi pesan makan siang. Kamu sudah sudah makan siang?"


Rega tersenyum mendengar perhatian yang di berikan Medina padanya. Hal yang selalu dia rindukan selama ini.


"Ya, aku sudah makan siang"


Obrolan berlanjut sampai Medina benar-benar harus kembali masuk ke kelas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2