Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 63 #Hanya Memberinya Ancaman Saja#


__ADS_3

Medina terbangun saat tidak mendapati suaminya. Dia menatap pada Ibu Nia yang sedang duduk diatas sofa di kamarnya ini. "Bu, kemana Rega?"


Ibu Nia mendongak dan baru sadar jika Medina telah bangun. Dia segera berdiri dan berjalan mendekat ke arah tempat tidur. "Tadi suamimu izin sama Ibu kalau dia ada urusan sebentar keluar. Ibu juga tidak tahu dia pergi kemana"


Medina terdiam mendengar itu, dia merasa jika suaminya sedang melakukan sesuatu yang berkaitan dengan kejadian tadi. Semoga tidak terjadi apa-apa antara suamiku dan Selvia. Gumamnya.


"Medina belum mandi Bu, sekarang mau mandi dulu"


"Mau Ibu bantu, Nak?"


Medina menggeleng pelan, dia mulai menurunkan kedua kakinya ke atas lantai. "Tidak perlu Bu, Medi bisa sendiri kok"


"Baiklah, hati-hati ya Nak"


"Iya Bu"


Medina berlalu ke kamar mandi, berendam di dalam bak mandi dengan air hangat. Sedikit menenangkan dirinya dan pikirannya juga. Hari ini cukup melelahkan bagi Medina, belum lagi dengan kejadian yang tidak terduga tadi. Ketika Selvia yang tiba-tiba datang dan membuat keributan di pesta pernikahannya dan Rega.


"Sebenarnya aku tahu jika Selvia seperti itu memang karena dirinya yang meras tersakiti ketika mengetahui Rega menikah lagi denganku. Tapi, apa ada cinta yang akan bahagia jika dipaksakan? Aku rasa tidak"


Medina bergumam sendiri, sebenarnya dia juga merasa kasihan pada Selvia. Tapi selama ini Medina juga sudah cukup banyak mengalah, jadi untuk saat ini Medina tidak akan mau mengalah lagi. Apapun alasannya. Sudah saatnya dia bahagia bersama Rega.


"Sayang.."


Suara gedoran pintu kamar mandi membuat Medina sedikit terlonjak kaget. Dia menghela nafas pelan saat mendengar suara suaminya. Mungkin Rega sudah kembali dan tidak mendapati Medina di dalam kamar membuat dia segera menyusul ke kamar mandi.


"Iya Sayang, aku sedang mandi"


Rega memutar handel pintu, dan kali ini Medina benar-benar tidak mengunci pintu lagi. Hal itu membuat Rega menghela nafas dan tersenyum, dia masuk ke dalam kamar mandi dan melihat istrinya yang masih berendam di dalam bak mandi. Tanpa berkata-kata, Rega langsung membuka semua pakaiannya dan ikut masuk ke dalam bak mandi. Duduk di belakang Medina dengan memeluk istrinya itu dengan erat.


"Aku mencintaimu" bisiknya ditelinga Medina


Medina tersenyum mendengar itu, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Kamu  habis dari mana? Kok aku ditinggal si"

__ADS_1


Rega tersenyum mendengar itu, mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. Medina yang berperilaku manja seperti ini padanya, benar-benar membuat Rega senang. Karena selama ini Medina memang tidak pernah bersikap manja pada Rega.


Karena sejak kecil, dia tidak pernah mempunyai waktu untuk sekedar bermanja pada orang tua mereka seperti kebabanyakan anak kecil seusiaya. Namun tidak dengan Medina, dia tidak mempunyai orang tua sejak kecil. Jadi dia hanya bisa menjaga dirinya sendiri dan menjadi sosok gadis yang mandiri. 


"Aku hanya urusan sebentar"


Medina menoleh dan menatap wajah suaminya dengan sekilas. "Kamu habis menemui Selvia ya?"


"Entah kenapa aku merasa jika kamu memiliki feeling yang kuat. Ya, aku menemuinya dan mengatakan jika aku ingin melaporkan dia jika Selvia masih melakukan hal seperti padamu"


Medina menghela nafas pelan, dia meraih tangan Rega yang berada di perut buncitnya. "Sayang, kamu tidak perlu sampai benar-benar melaporkan Selvia, tapi cukup memberinya ancaman saja"


Rega kembali mempngecup puncak kepala istriya. Rega tahu sebaik apa hati Medina, gadisnya ini memang memiliki hati yang bak dan lembut.


"Iya Sayang, aku tahu. Aku juga memang hanya berniat memberinya sebuah ancaman saja, tapi jika dia masih berani mengganggu kita, apalagi jika dia berani membuatmu celaka dan melukaimu. Maka kau tidak akan berfikir dua kali untuk melaporkan dia pada polisi"


Medina mengangguk dan kembali menyandarkan kepalanya di kepala suaminya dengan nyaman.


Medina mengangguk, dia keluar dari bak mandi dengan digendong oleh suaminya. "Sayang, kenapa kau menggendongku? Aku bisa berjalan sendiri"


"Sudah diam, aku hanya ingin memanjakanmu saat ini"


Dan Rega benar-benar melakukannya, dia bahkan menggendong Medina sampai keluar dari kamar mandi dan membantu Medina untuk memakai pakaiannya juga.


"Sayang stop, la,u ini kenapa si? Kenapa harus terus menggendongku. Aku ini mash bisa berjalan Sayang" Medina langsung berdiri saat Rega kembali ingin mengendongnya.


"Yaudah, ayo kita kaluar dan makan malam. Sepertinya barusan aku lihat Ibu Nia sedang memasak d dapur, tidak tahu sedang memasak apa"


Medina mengangguk, lalu mereka keluar kamar dengan saling bergandengan tangan.


******


Tidak kejadian apapun malam  tadi, meski semalam adalah malam pengantin bagi mereka. Ya, meskipun bukan malam pertama juga bagi mereka. Namun semalam Rega tidak mau membuat istrinya semakin kelelahan setelah kejadian kemarin diacara pesta membuat Rega harus sedikit menahan hasrat dan gairahnya, karena dia tidak mau melukai istrinya dan membuat Medina akan kelelahan.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita sarapan"


Rega meraih tangan Medina yang berdiri di depannya. "Kita sarapan di kamar saja, aku sudah mempekerjakan pelayan dirumah ini. Biar dia saja yang mengantarkan makanannya kesini"


Rega menarik tangan Medina dan mendudukan istrinya di atas pangkuannya. Memeluk tubuh istrinya dari belakang dengan hangat. Rega mengecupi bahu Medina dengan lembut.


"Sayang, memangnya sejak kapan ada seorang pelayan yang bekerja tetap dirumah ini? Bukankah dulu hanya ada petugas kebersihan saja yang datang satu minggu tiga kali ya"


"Iya Sayang, aku sudah mencarinya sejak kamu kembali ke rumah ini. Aku melihat bagaimana kamu sangat kesulitan bergerak dengan perut sebesar ini. Jadi aku memutuskan untuk mempekerjakan pelayan saja, agar kamu tidak lagi kelelahan"


"Emm. Padahal kerjaku juga cuma memasak saja. tidak ada lagi pekerjaan yang aku lakukan selain itu. Apanya yang akan membuat aku kelelahan coba? Kamu ini kadang emang suka aneh deh, Sayang"


Rega mengecup bahu istrinya dengan lembut. "Yang penting aku tidak mau kamu sampai kelelahan"


Medina hanya menggeleng heran pada tingkah suaminya yang memang sangat memperhatikan dirinya dalam keadaan apapun. Karena memang Rega yang paling mengerti apa yang dibutuhkan Medina.


Tok...tok..


Suara pintu yang diketuk membuat Medina ingin segera bediri dari tas pangkuan suaminya. Namun Rega langsung menahanya. Dia tidak mengizinkan Medina untuk berdiri dri atas pangkuannya.


"Maauk"


Medina mulai panik dan pastinya dia akan merasa sangat malu dengan seorang pelayan yang masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makanan untuk mereka berdua.


"Sarapannya Tuan, Nona"


"Simpan saja diatas meja sana" Rega menunjuk meja di depa sofa yang ada di kamar ini.


Pelayan mengangguk dan segera menyimpan makanan yang dibawanya diatas meja.


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2